Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (6)

Karya . Dikliping tanggal 16 Februari 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
DOA sederhana itu toh masih membuatnya galau. Keinginan merawat buah hatinya bakal berhadapan dengan legalitas hukum kependudukan. Ancaman akan sulitnya mendapatkan Akta Kelahiran menjadi mimpi buruknya. Tanpa kelengkapan dokumen, Murni khawatir sang anak di kemudian hari kerepotan mengurus pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan. Apalagi mengurus BPJS yang begitu berbelit dengan antrean yang sangat panjang. Termasuk pengurusan Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, serta Kartu Keluarga Sejahtera.
“Sesungguhnya kami, saya dan Mbak Mar, enggan berlama-lama di sini. Kami ingin hidup normal, menikah, memiliki anak, dan mengakhiri karier sebagai pramunikmat. Sebagai manusia, terkadang kami ingat akan dosa, dan menangis di tengah doa,” kata Murni diamini Zaitun.
“Kami bergaya hidup seperti ini sebenarnya merupakan konsekuensi dari luka masa lalu. Kami anak sejarah kami sendiri,” lanjutnya.
“Kami tetap mengerjakan ibadah. Diterima atau tidak itu mah urusan yang di Atas,” ujar Zaitun sembari tangannya menunjuk ke langit-langit wisma.
“Hidup kami belepotan dosa. Kami ini sampah. Tapi kami tidak menyerah,” sambung Marni.
Tidak menyerah!
‘I hated every minute of training, but I said: Don’t quit. Suffer now and live the rest of your life as a champion.’ Zaitun ingat benar uapan petinju legendaris speanjang masa, Muhammad Ali, yang tidak pernah menyerah. Muhamad Ali memang memiliki kapasitas untuk tidak menyerah. Ucapannya sudah benar.
“Tapi aku? Maria Zaitun? Pelacur nista yang gagal. Aku mencoba tabah. Tiap tengah malam, sedang ramai atau sepi, aku meluangkan doa Novena 3 kali Salam Maria. Aku memang barang najis di depan sesama, tapi bukan di hadapan-Nya.” Zaitun mengaku ia lebih khusyuk jika doa dalam bahasa Jawa:
Sembah bekti kawula, Dewi Maria,
kekasihing Allah,
Pangeran nunggil ing panjenengan dalem.
Sami-sami wanita Sang Dewi pinuji piyambak,
saha pinuji ugi wohing salira dalem,
Sri Yesus.
Dewi Maria, Ibuning Allah, 
kawula tiyang dosa sami nyuwun pangestu dalem,
samangke tuwin mbenjing dumugining pejah.

“Tak bosan Mbak Zaitun di sini?”
“Bosan kaleee. Saya kerap keluar kota kalau pas boring. Ke Wonosobo, misalnya, kami, saya dan Dik Murni bersama teman-teman hang out. Kami nonton sintren, kesenian tradisional setempat.” lalu Zaitun dengan antusias bercerita tentang sintren. Kita simak ceritanya.
Gadis kuning semampai itu, namanya Kamyah, 18 tahun, keluar dari semacam kurungan ayam, mengenakan kebaya bermanik-manik, kain dan selendang. Setelah memasang kacamata hitam yang (tentu saja) bukan branded, Kamyah pun melenggak-lenggokkan tubuhnya yang gemulai. Beberapa sinden melantunkan tembang, dan para pengrawit suntuk mengiringi goyang sang penari sintren itu. Goyang terus, Mang…
Sepuluh menit sebelumnya, Kamyah masih berada di luar ‘Cal bozo’, mengenakan jeans dan baju kotak-kotak seperti baju kampanye. Seorang pawang mengikat tubuh rampingnya dengan tali, membaca rapal, lalu memasukkannya ke kurungan. Di dalam ruangan sempit dan bahkan sedikit pun tidak bergoyang itu, Kamyah salin wastra, dan make over. Kurungan dibuka, abrakadabra, Kamyah muncul diiringi tepuk tangan, disambut hangat bak super model Naomi Campbell atau Cindy Crawford.
Begitulah sintren bekerja. Pertunjukan bisa dilakukan di mana saja, termasuk di pelataran sempit Tempat Pelelangan Ikan Pantai Sari, Desa Panjang Baru Pekalongan Utara. Sejatinya tari sintren merupakan kesenian tradisional asli masyarakat pantura seperti Brebes, Tegal, Slawi dan Pekalongan.
“Kami terkagum-kagum. Kamyah di kurungan hitam yang saking sempitnya bahkan untuk bergeser saja sulit kok bisa berganti kebaya dan berhias.” Zaitun lalu menuturkan sejarah sintren sebagaimana ia dnegar dari ayahnya Kamyah.
“Tari sintren dilatarbelakangi kisah roman Sulasih dan Sulandono. Mereka tumbuh dari kasta sosial yang berbeda. Sulandono itu putra bangsawan Ki Bahureksa dan Dewi Rantamsari. Sementara Sulasih hanya gadis dusun yang mampu memelihara kesuciannya dengan baik. Seperti biasa, percintaan sepasang anak manusia beda status itu ditentang keras oleh Ki Bahureksa, sebagaimana percintaan kami ditentang ramandanya Mas Tom, hanya karena pasal bibit, bobot, bebet. Tidak terima dengan pelarangan sepihak ini, Sulandono bertapa, dan Sulasih menari. Keduanya bertemu di alam lain, alam barzah, sehingga cinta mereka lestari,” cerita Zaitun dengan fasih.
Dan acara gathering melanglang sampai Brebes dan Cilacap, bahkan Pangandaran, sering dilakukan Maria bersama mitra seprofesinya. Mereka biasanya diantar pelanggan setia, yang menyediakan mobil, termasuk bensin, makan dan membeli jajanan lokal serta kulineran.
“Wah pelanggan di sini baik hati ya Mbak?”
“Siapa bilang? There is no free dinner. Tidak ada makan malam gratisan. Memang mereka baik, semanak, ramah, nguwongke kami-kami ini. Tapi sepulang nglencer ya kami ditagih.” Zaitun dan Marni tertawa penuh arti. Slip taguhan itu tentu saja berupa…..
***
LING LING menunggu Hartomo di Earl og Sandwich Down Town, masih kawasan Disneyland. Berhadapan persis dengan panggung terbuka, yang siang itu menampilkan band Blue Steel dari Anaheim. Matahari yang menyorotkan terik panas tidak menyurutkan para punggawa band melantunkan musik slow rock klasik smabil berjingkrak-jingkrak.
Lagu jadul Hotel California yang dipopulerkan The Eagles adalah tembang pembuka, yang mengingatkan Ling Ling akan pertemuan perdananya dengan Hartomo. Dan Ling Ling selalu mengenangnya meski lirik lagu itu sama sekali tidak romantis, malah cenderung horor.
“Welcome to the Hotel California. Such a lovely a place. Such a lovely a face. Plenty of room at the Hotel California. Anytime of year. You can find me here…”

Lagu yang sangat masyhur pada dekade 80-an ini merupakan kiasan sebuah hotel mewah di mana kita bisa masuk kapan saja, tapi tidak akan pernah bisa keluar dengan selamat. Disergap hantu gentayangan. []
bersambung


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joko Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi pada 15 Februari 2015
Beri Nilai-Bintang!