Tiar – Thamrin – Di Seberang Metropole – Tersesat di Parung Bingung – Di Kasablanka

Karya . Dikliping tanggal 9 Agustus 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Tempo

Tiar

Tiar adalah tembang hantu pemburu
gema gendang di bawah rasi bintang waluku
tembakan udara dari terompet kapal pergi terburu
udara dengan suara kisut
serupa suara pisau
tersorong pelan
pada lipatan daging pinggang.
Aku joget, Tiar, aku joget…

Tapi aku serasa kehilangan sesuatu, Tiar
seperti dulu juga pernah begitu
sebuah sudut hari lalu dimainkan mambang debu.
Mungkin ingatan tentang jam dinding jatuh tiba-tiba
gelas serta piring terlontar ke udara
parak siang tak terduga ada pecahan kaca jendela
mimpi buruk tentang kucing
dengan koreng menutupi sebagian muka
tentang laba-laba hitam merajut jaring kawat
pada kelopak mata yang terbuka.
Atau aku telah kehilangan gurau
seperti dulu juga pernah begitu
Aku joget, Tiar, aku joget…
Tiar adalah tembang hantu pemburu
gema gendang di bawah rasi bintang waluku
selamatkan aku seperti pernah kau selamatkan dulu
dalam dendang tentang sauh ditarik kapal pergi terburu.
Padang, 2015

Thamrin

Kota ini dibangun dari seribu kematian disebabkan
angin duduk, Thamrin. Orang-orang memangkas
jalan untuk memintas waktu, tapi nasib tetap 24 jam
tidak menentu, nasib tetap tersangga di antara getar
tiang-tiang plaza tua menunggu runtuh. Orang-orang 
terus menua dalam bus, bercinta di atas kursi kereta
dan berharap masa depan adalah jalur-jalur trem
yang dibangun kembali setelah puluhan tahun lalu
dirobohkan. Telah aku cintai pula kota ini, Thamrin.
Seperti kucintai kota di pedalaman Sumatra, dengan
segala kekurangan dan kelebihan, agar ketakutan
demi ketakutan dan bala demi bala hanya datang
dan bersarang dalam mimpi paling buruk
Kita bisara nasib, Thamrin, selalu tentang nasib.
Di gambir tiap hari dari pengeras suara dikabarkan
seekor demi seekor kuda mati rebah dalam rangkaian
kereta menuju Jawa. Para penggila batu akik berebut
memanjat patung bikinan Edhi Sunarso di Pancoran
setelah emmbaca nazam etntang batu Bacan mengkilat
seukuran buah kelapa Halmahera. Nazam memberi
kabar bahwa batu itu disurukkan di segaris telunjuk
patuh itu mengarah. Kegilaan apa lagi, Thamrin?
Tiap berjalan ke arah Senayan aku  merasa baju
di badan harus kutanggalkan untuk memperlihatkan
perut busut dan tulang dada yang menyembul pada
kaum penggila suara. Agar mereka paham bahwa
jauh ke arah samudera sana pulau-pulau telah dilipat
ke dalam rantang makan.
Kota ini dibangun dari seribu kematian disebabkan
angin duduk, Thamrin. Jalan-jalan terus dibikin meninggi
melingkar, melayang, dan membenam. Kota dengan
pengharapan bisa memintas waktu dengan cara begitu.
Aku turut berjalan, melihat segala yang patut dilihat.
mendengar segala yang patut didengar. Barangkali aku
akan turut menghabiskan hari-hari dan menua di jalan.
Dari bercinta dengan garang hingga maut membuatku
mati terlentang, akan di jalan.
Jakarta, 2015

Di Seberang Metropole

Kau lihat, anakku, ke arah tiang tinggi Metropole itu
hari depan dihampang dengan selembar karcis tontonan,
Dan dalam ruangan ini aku mainkan lagu tentang pelayaran
agar kau tahu, kita mesti terus berjalan, menghadang angin
buruk demi angin buruk, menerabas pinntu batu demi pintu batu.
Di balik gorden itu, gorden yang kelak musti kau sibak
seperti kau sibak pelan kelambutidur yang membatasi
pandanganmu pada langit-langit kamar bergambar
bintang-bintang bertabrakan, bulan seukuran limau manis
dan seekor kuda bersayap meniupkan debu cahaya. Kelak
musti kau sibak
Kau lihat, anakku, kereta terus melintas menghantarkan
orang-orang pada nasib yang telah diasam-digarami hari buruk
Dari sini kita akan melihat jam melepaskan jarum, dari sini kita
akan melihat palang-palang dibuka, dari sini udara akan
menebarkan harum getah damar dan kembang pagi, dan dari
sini pula akan kugadaikan isi dadaku agar kau tahu bahwa 
ada hari di mana pelayaran itu harus disudahkan
Jakarta, 2015

Tersesat di Parung Bingung

Ke lembah, aku menurun ke lembah
ke arah rumah di mana aku tidak perlu menatap lereng atap
dan ia tidak berharap pula ditatap. Rumah di mana sebongkah
batu terus tumbuh seperti perut biniku setahun lalu. Terus
tumbuh, membesar, merobohkan rumpun betung dari pangkalnya.
Ke lembah, aku menurun ke lembah
ke arah rumah di mana akutidak perlu membuka palang pintu
dan ia terus membuka dengan sendirinya. Rumah dengan tiang
gadang yang akan dibongkar dan dibenamkan pada hulu sungai.
“Kaldera, aku ingin kaldera, ledakan ribuan tahun lalu
dan kini hanya tersisa pasir serta kerikil basah…”
Di rumah ini aku tersesat, kubaca sebaris sajak tentang rantau
tentang kapal diamuk angin buruk diremukgelombang gadang
kudengungkan kitab tentang baju basah kering di badan
dan kuremas geronggong tembusuku. Aku tetap tersesat
rumah tak menatap, palang terbuka sendiri.
“Kaldera, aku ingin kaldera, lubang terdalam dari ledakan
sejak hari lalu dan kini hanya tersisa liang hitam pada mataku.”
Jakarta, 2015

Di Kasablanka

Di Kasablanka, aku dengar juga dendang saluang
tentang orang berumah di tepi rimba, hendak membeli garam
tapi garam jauh di Pariaman, hendak membeli asam tapi asam
jauh di Paninjauan. Dan aku pegang tepi-tepi kain bajuku
agar aku paham, bahwa di Kasablanka, gadis-gadis dengan dada
jilah tersumbul ituakan membeli roti hambar dan mengosokkan
pada pangkal lengan mengkal mereka. bahwa serombongan orang
alim berjanggut panjang akan menepuk-nepuk kening mereka
dengan kitab tentang cara mengobat kurap bertahun. Dan bahwa
serombongan lelaki berbadan besar berbaju merah jambu akan
memesan sup kepiting dan bertanya-tanya khasiat jus pinang.
Aku dengar juga dendang saluang di Kasablanka
duduk di kedai kopi, di ketinggian plaza, entah lantai berapa
Aku pegang tepi kain bajuku dan terus mengutuk sebatang 
pohon kerambil buatan yang dibenam dalam tanah
Jakarta, 2015

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Esha Tegar Putra
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” Minggu 9 Agustus 2015