Tiga Pasang Mata

Karya . Dikliping tanggal 7 Juli 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo
KAMI pertama kali bertemu di suatu sore di suatu kedai. Aku dan Rasya. Seharusnya aku menemui pamanku, tapi justru bertemu dengan gadis ini, yang matanya cemerlang seperti kejora.

Aku mencium Rasya tidak lama setelah kami berjabatan tangan dan saling memperkenalkan nama. Aku menciumnya dengan segenap rasa, sampai-sampai saat bibir kami berhenti bertautan aku ingin menangis.
Tiga Pasang Mata
Paman datang tidak lama setelah itu. Ia mendapati kami sedang berdua, yang tidak lagi berciuman tapi duduk berhadapan semeja berpegangan tangan. Saat itu juga baru kutahu Rasya adalah putrinya. Tiap usai sekolah di seberang jalan, ia temui ayahnya di kedai ini untuk pulang bersama. Ini kebetulan yang luar biasa, pekikku dalam hati. Seperti biasa, laki-laki yang dibutakan oleh cinta suka memekik dalam hati.
Paman tampak sedikit curiga. Kata Ibu, sepupu tertuanya ini sejak kecil memang amat cerdas. Tak heran Ibu meminta aku untuk mencarinya di kota ini, kota tempatan tugas pertamaku.
Ketika Paman tiba, wajah Rasya memucat meski mesin penghangat ruangan jelas-jelas sudah mengalahkan cuaca dingin di luar. Rasya mengalihkan pandangan dari ayahnya. Saat Paman mencari jawab dengan menatapku, mataku yang meneteskan air mata tentu membuat ia tambah curiga.
Pada Paman kusampaikan bahwa aku tidak lagi sekadar mencari seorang paman yang dirindukan keluarga besar. Aku langsung mengajukan pinangan.
Kegagahan Paman yang tampak saat ia berderap masuk kedai membelah kumpulan orang-orang yang bergerak perlahan atau duduk nyaman, seperti menguap perlahan seiring dengan kata-kata yang kuungkapkan.
Paman diam terus-menerus. Seperti tertekan. Mungkin ada yang disembunyikannya.
Sejak sore itu hingga tujuh tahun berikutnya, aku tetap berdiam di kota yang saljunya menyiksaku itu. Sesekali aku bertemu secara tidak sengaja dengan Paman. Aku berkirim kabar dengan Ibu yang tinggal di negeri khatulistiwa lewat e-mail, instant message, skype. Aku ceritakan pada Ibu tentang seorang sepupu yang hampir tak pernah lagi ia temui sejak ia remaja dan cuma sesekali berkirim kabar pada keluarga Ibu. Tentang seorang kemenakan yang namanya hanya Ibu dengar dari kabar.
Masalah ciuman yang luar biasa dan cuma sekali-kalinya itu tentu tidak pernah kuceritakan.
Rasya yang remaja menjadi perempuan muda, kata orang. Matanya tetap seperti kejora, juga kata orang. Kami tak pernah lagi bertemu.
Seperti ayahnya, Rasya menghindari aku.
Tapi di pengujung tahun ketujuh, Paman mendatangiku.
“Apa katamu bila kau kuizinkan menikahi anak perempuanku?”
“Paman tahu, aku akan menjadi suami yang terbaik bagi anak Paman,” aku terburu-buru menjawab saat itu.
Namun, begitulah. Layaknya jalan kehidupan yang penuh kelokan, aku bukan menikahi perempuan yang telah tujuh tahun mengisi hatiku.
Karena yang Paman bicarakan adalah Liyah, kakak perempuan Rasya.
Tawaran Paman tetap aku iyakan.
Mengapa? Entah.
Mungkin agar aku menyakiti Rasya yang selama ini menjauhiku? Agar bisa kutunjukkan bahwa aku, sebagaimana ia, juga sudah melupakan kita? Agar, sebagaimana Paman sampaikan, semuanya lebih layak dan elok di mata keluarga besar nun jauh di sana jika Liyah yang makin tambah usia akhirnya disunting sepupunya dan tidak dilangkai adik perempuan satu-satunya?
Entah.
Kata siapa hati lelaki tidak sepelik hati perempuan?
Aku pun tidak memahami sepenuhnya diriku.
Liyah adalah perempuan dengan mata yang buram. Usia kami terpaut sedikit. Tubuh Liyah begitu ramping seperti akan segera jatuh sakit. Wajah ayunya senantiasa muram. Selain ayah, ibu dan adiknya seorang, Liyah hanya mengenal sedikit orang dalam hidupnya. Dari semua yang dikenalnya, alangkah malang, ia hanya mencintai aku.
Kini, sekian tahun menikah dengannya, aku tahu kesedihannya yang utama adalah bahwa ia tidak pernah bisa mengurangi cintanya padaku meski aku belum bisa membalas cintanya. Tapi sungguh, ini bukan karena matanya yang buram, atau karena aku masih merindukan mata kejora itu diam-diam. Tapi karena perasaan memang tidak bisa dipaksa, meski oleh nalar sekalipun.
Sebagian laki-laki selalu berjanji sendiri: aku akan lebih mencintai perempuanku jika ia lebih manis. Aku akan lebih setia jika ia lebih hangat dalam bercinta. Aku akan begini jika ia begitu.
Jika….
Dan memang ini persyaratan sepihak karena kami laki-laki tidak suka bertukar pendapat. Terutama dengan perempuan yang jelas-jelas jatuh hati pada kami.
Liyah tidak terkecuali.
Sampai pada suatu hari….
Hari ini, Liyah berdiri di hadapanku. Matanya yang senantiasa buram kali ini menimpa mataku. Sorotnya seperti menerobos hingga tengkorak belakangku.
“Aku akan melahirkan putra untukmu.”
Tujuh tahun pernikahan, kami jarang berbincang. Rasanya ini kali pembicaraan kami akan lebih tidak biasa lagi.
Aku menunggu.
“Tidak satu. Tidak dua. Tidak tiga,” kata Liyah.
“Ya. Empat putra kita,” kataku, akhirnya.
Ingatanku melayang pada saat yang pertama. Saat Liyah pertama berusaha menukar cinta dengan seonggok daging berlumuran darah, darah yang juga menetes dari rahimnya.
“It’s a boy!” sorak si dokter dengan berlebih-lebihan. Kesanku, ia menyangka jenis kelamin anak pertama kami adalah bonus besar buat keselamatan si Ibu dan bayi itu sendiri. Ia penganut patriarki sejati, bisa jadi.
Saat itu aku hanya terdiam di samping dokter tampan itu. Aku menatap mata Liyah, wajahnya kuyu payah. Tanpa suara, kami seperti dua pebisnis yang sedang bersepakat.
Baiklah, kau bisa mencoba lagi miliki hatiku, sekarang, setelah hadir anak pertama darah dagingku yang berlumuran darahmu.
Semacam itulah klausul dari aku.
Dan Liyah seperti terus mencoba hingga hadir keempat putra kami.
Ingatanku terputus oleh suara sedih Liyah lagi, “Ya, empat putra kita. Dan kau menambahnya dengan seorang anak dari Rasya. Selama ini ia menolak memberi tahu siapa ayah dari anak yang dikandungnya. Putrimu lahir pagi ini.”
Mata Liyah makin redup.
Aku terbungkam oleh mata yang kian buram itu. Juga karena ketidaktahuanku akan Rasya dan anaknya. Putriku.
Beberapa bulan lalu aku memang menemui Rasya. Sekali itu saja aku berhasil menemuinya. Dalam satu masa kehidupan seorang lelaki, selalu ada saat ia ingin melihat kejoranya kembali. Untuk sesaat saja. Mungkin untuk sedikit melupakan bahwa dalam hidup yang menua sepi bisa sampai membarut-ngilukan tulang. Sekali itu saja aku tumpahkan segala rindu yang ternyata tidak pupus sempurna.
Lalu Rasya menghilang lagi.
Baru kali ini kudengar kabarnya dari istriku sendiri.
Mata Liyah jadi buram sempurna. Tidak akan ada lagi yang bisa menyentuh jiwa di dalamnya.
Liyah berbalik badan meninggalkanku. Ini saat pertama ia kehilangan harap akan aku.
Mataku memburam berlinangan air mata.(*)
(Olahan dari cerita di Perjanjian Lama tentang Yakub, Leah, dan Rachel)
Vivi Diani Savitri tinggal di Jakarta.
Rujukan:
[1] Disalin dari tulisan Vivi Diani Savitri
[2] Pernah dimuat di “Koran Tempo” pada 6 Juli 2014