Tim Sukses

Karya . Dikliping tanggal 9 April 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

TIBA-TIBA saja Hari memberikan sebuah amplop panjang coklat pada istrinya. Mata istrinya seketika terbelalak setelah menghitung lembaran-lembaran uang bergambar sang proklamator. Betapa tidak ? Uang sebanyak itu mampu menghidupi keluarga selama beberapa bulan.

“Uang darimana, Mas?” tanya Irma, istri Hari. Senyumnya mengembang. Baru kali pertama merasa senang untuk yang berhubungan dengan uang. Selama lima tahun mengarungi rumah tangga, acapkali mengalami kekurangan uang. Gaji honor suaminya dari sebuah SMP swasta, jelas tak akan cukup jika mengikuti perhitungan Matematika.

“Tak usah banyak nanya, yang pasti itu uang halal,” jawab sang suami lalu beranjak meninggalkan istrinya sendiri. Menghampiri motor di halaman lalu bergegas mengendarainya.

Sejak itu, Hari jarang di rumah. Sepulang dari tempat mengajar, hanya mampir ke rumah sebentar. Ia pun sudah jarang mencicipi masakan istrinya karena terburu-buru harus pergi lagi. Masa Pemilu tinggal menghitung hari.

“Jadi tim sukses Bu Indri.. pasti lah makmur,” kata Burhan menggoda Irma saat bertemu di warung Mbak Wati.

“Ya iyalah… modalnya banyak, uangnya kayak yang beranak cucu, gak pernah habis…” Usman menimpali.

“Ngomong-ngomong. Bu Indri caleg perempuan satu-satunya dari kampung kita, ya?” seorang sok intelek menimpali.

“Ya… dan cantik,” Burhan nyengir.

“Aku juga mau kalau disuruh jadi tim suksesnya…” Ali ikut nimbrung. Irma bergegas meninggalkan warung. Lama-lama perbincangan mereka suka ngawur. Menyindir perihal suaminya yang sibuk melakukan aksi agar mendapat suara banyak untuk orang yang dibelanya.

Sampai di rumah, Irma mengingatingat lagi ucapan orang banyak. Bu Indri memang baik, bahkan sangat baik. Hari belum lama jadi tim suksesnya namun sudah sering diberi uang.

“Itu karena suamimu orangnya mobile,” jelas Dian, sahabatnya waktu ia curhat akan keresahan yang menyerangnya tiba-tiba.

“Mas Hari pandai bicara dan bisa memengaruhi banyak orang. Makanya Bu Indri percaya,” jelas Irma.

“Yap.. itu! Lalu, apa yang kau ragukan?” Dian menatapnya. Irma hanya mendesah. Sudah banyak kebaikan Bu Indri. Mengubah perekonomiannya. Namun jika orang-orang mulai menggunjingkan kecantikan Bu Indri, Irma resah. Hari, suaminya, lelaki yang berwajah tampan dengan tubuh tinggi tegap. Usianya sepuluh tahun lebih muda dari Bu Indri. Namun bukan tak mungkin jika keduanya saling jatuh hati, mengingat Bu Indri sudah lima tahun tak bersuami.

Mungkin perasaan Irma berlebihan namun itu bisa masuk akal. Banyak yang menjadi tim sukses Bu Indri, namun kebaikan Bu Indri pada suaminya melebihi kapasitas. Apalagi Hari tim sukses yang baru.

“Sudahlah, jangan terlalu dihantui…” Dian membaca apa yang dipikirkan sahabatnya. “Seharusnya kau bersyukur… suamimu menjadi kepercayaan orang yang baik…”

Malam itu Irma diliputi perasaan gelisah. Sudah pukul 21.00 namun Hari belum kembali ke rumah dan nomor ponselnya tak bisa dihubungi.

Setelah pukul 23.00 tak juga datang, Irma nekat menyusul ke vila milik Bu Indri yang selama ini dipakai untuk berkumpul para tim sukses. Namun yang dicari tidak ada. Sepi. Ia hanya bertemu Bu Indri yang menghampirinya keluar saat dirinya celingukan tak tentu tujuan.

Irma pergi dengan perasan tenang karena kecurigaan selama ini hilang setelah menerima sikap Bu Indri yang ramah.

Namun Irma tak pernah tahu, sepeninggal dirinya, Bu Indri yang mengenakan baju tidur tipis berbahan sutra, segera masuk ke dalam kamar yang gelap.

“Aktifkan ponselmu, pulanglah.. istrimu menunggu ! “ ❑ – g

Bandung, akhir Maret 2019

*) Komala Sutha, yang lahir di Bandung, 12 Juli 1974, menulis dalam bahasa Indonesia dan Sunda. Tulisan tergabung dalam beberapa buku solo dan puluhan antologi cerpen serta puisi


[1] Disalin dari karya Komala Sutha
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 7 April 2019