Tubuh Tubuh Cahaya

Karya . Dikliping tanggal 22 Oktober 2013 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika
LELAKI itu bersimpuh dalam gelap. Ia mengerti, cahaya tidak datang begitu saja. Seperti jarak antara malam dan pagi. Ia butuh perantara dan waktu sedikit lama. Dan lelaki itu, ia mengingat dengan baik, bagaimana ia bersemayam dalam gelap, dalam sebuah ruang tanpa cahaya, bertahun-tahun lamanya.
Lelaki itu paham sepaham-pahamnya, hanya gelap yang sanggup menyamarkan dosa-dosa. Hanya gelap yang betah menyembunyikan rasa bersalah. Dan hanya gelap yang mampu menutupi rasa malu. Karena itulah selama bertahun-tahun, lelaki itu bersemayam dalam gelap. Karena dosa-dosanya. Karena rasa bersalahnya. Dan karena, rasa malunya.
***
Dalam sebuah ruang tanpa cahaya, lelaki itu tercenung, mungkin kesepian, mungkin ia ingin berkata-kata. Maka, ia menengok ke dalam dirinya, dan kemudian bercakap-cakap dengan dirinya.
“Mengapa kau bersimpuh di sini.”
“Karena aku berdosa.”
“Memangnya dosa apa yang sudah kau lakukan.”
“Membunuh.”
“Siapa yang kau bunuh?”
“Terlalu banyak. Aku tak sanggup merincinya satu persatu.”
“Baiklah, mulai dari satu. Pertama siapa yang kau bunuh?”
“Kebenaran.”
“Lalu?”
“Kepercayaan.”
“Lalu?”
“Keseimbangan.”
“Lalu?”
“Hak-hak yang bukan hakku.”
“Lalu? Ada lagi?”
“Cahaya.”
“Cukup. Kau memang sudah berdosa. Sangat berdosa. Kau sudah membunuh semuanya.”
“Aku sudah membunuh semuanya?”
“Ya, kau sudah membunuh semuanya karena kau sudah membunuh cahaya.”
“Mengapa?”
“Karena setelah cahaya menghilang dari dirimu bisikan-bisikan itu akan berbondong-bondong mendatangimu.”
“Bisikan-bisikan apa maksudmu?”
“Bisikkan-bisikan yang bersekongkol dengan gelap, bisikan-bisikan yang memusuhi nuranimu, bisikan-bisikan yang tak pernah mengenalkan rasa bersalah dan rasa malu, hingga seseorang sanggup melakukan apa saja, berbuat apa saja, membunuh, berkhianat, mencuri, memperkosa, mengambil sesuatu yang bukan haknya…”
“Tapi…”
***
Lelaki itu memicingkan kedua matanya, menyaksikan cahaya yang datang perlahan-lahan dari lubang cahaya. Mungkin sisa-sisa rembulan. Atau mungkin fajar yang mulai menyingsing. Entahlah. Namun lelaki itu merasakan, sedikit demi sedikit kegelapan mulai menguap. Remang. Seperti malam yang beranjak pagi. Atau seperti siang yang beranjak petang.
Lelaki itu membiarkan tubuhnya mematung dalam remang. Pelan perlahan. Sedikit demi sedikit, ia menyaksikan dosa-dosa itu mengembun dari tiap pori kulit tubuhnya. Rasa bersalah yang dulu hilang itu mulai muncul, menetes satu persatu, seperti keringat yang berleleran di dahi, leher, dada, sampai ke ujung kaki. Dan topeng yang menutupi rasa malu itu pun mulai retak dan mengelupas berjatuhan ke lantai, seperti repihan debu yang dihalau sapu. Lelaki itu gemetar.
***
Dalam ruang yang masih remang, lelaki itu kembali tercenung, ia masih ingin berbincang-bicang dengan dirinya, tentang dirinya.
“Semuanya dimulai dari sebuah pertanyaan, cahaya pun datang dari sebuah pertanyaan ‘mengapa di sini gelap sekali’? Hingga kemudian, seseorang akan bergerak mencari cahaya untuk dirinya. Jadi mulailah dengan sebuah pertanyaan. Supaya setiap keraguan menjadi benderang.”
“Aku tak tahu, apa yang harus kutanyakan?”
“Kalau begitu biar aku yang bertanya. Mengapa kau begitu betah bersemayam dalam kegelapan?”
“Bukan betah tapi terpaksa. Sejujurnya, telah lama sekali aku takut akan kegelapan.”
“Jika kau takut, mengapa kau malah mendatanginya, dan bahkan bersemayam di dalamnya.”
“Karena, rasa takut hanya memberikan dua pilihan, melawan atau berkawan.”
“Dan kau memilih pilihan yang ke dua?”
“Ya. Karena aku tahu aku takkan sanggup melawannya, jika aku melawannya, aku akan mati.”
“Tapi kau bisa melawannya.”
“Dengan apa?”
“Dengan cahaya. Ya, kegelapan hanya bisa kau lawan dengan cahaya.”
“Tapi aku sudah terlanjur membunuh cahaya.”
“Baiklah, itu hanya masa lalu. Dan cahaya, sebenarnya kau bisa menghidupkannya kembali kalau kau mau.”
“Menghidupkan cahaya? Dengan cara apa?”
“Dengan membunuh kegelapan perlahan-lahan.”
“Iya, dengan cara apa?”
“Dengan banyak cara, dengan  menanamkan rasa bersalah, dengan menumbuhkan rasa malu, dengan mengembalikan yang bukan hakmu, dengan cara memulihkan kepercayaan, dengan cara….”
***
Lelaki itu melongok ke dalam dirinya. Sebelumnya ia tak sadar bahwa setiap sudut dan ruang yang ada dalam dirinya begitu usang, begitu pekat. Sampai ia tak mampu melihat apapun. Tangan, lidah, mata, telinga, kaki, semuanya diliputi kegelapan. Hingga dosa-dosa menghidup dan berlumut dengan subur di sana. Lelaki itu hampir tak percaya jika dirinya, tubuhnya, semenyeramkan itu. Maka, dengan secercah lentera kecil, pelan perlahan lelaki itu meraba dan mendatangi setiap ruang dalam dirinya. Berkali-kali ia terpeleset dan terantuk dinding-dinding dosa. Ia terluka. Ia bergumul dengan rasa sakit. Namun ia bangkit lagi. Ia tak ingin kegelapan itu merajai dirinya.
Maka satu persatu, ia mulai menyematkan lampu ke setiap sudut dan ruang yang ada dalam dirinya. Di otaknya ia mulai memasang lampu, supaya pikirannya senantiasa lurus. Di tangannya, ia memasang lampu, supaya ia tidak merampas hak orang lain. Di lidahnya, ia memasang lampu, supaya kata-katanya tak lagi dusta dan menyakiti orang lain. Di matanya, ia memasang lampu, supaya ia hanya melihat sesuatu yang memang pantas untuk dilihat. Di telinganya, ia memasang lampu, suapaya ia hanya mendengar sesuatu yang pantas untuk didengar. Di kakinya, ia memasang lampu, supaya ayun langkahnya senantiasa terarah.
***
Dalam ruang yang mulai benderang, lelaki itu masih tercenung. Ia belum usai berkata-kata dengan dirinya.
“Telah kunyalakan lampu di setiap tempat di dalam tubuhku, supaya tidak gelap. Tapi entah mengapa, aku merasa masih ada ruang gelap dalam tubuhku.”
“Ruang gelap akan selalu ada, di mana pun. Karena itulah ada cahaya.”
“Tapi aku ingin menghapus setiap kegelapan, supaya semua tempat menjadi terang benderang, supaya setiap kebenaran tampak pada tempatnya.”
“Kau tak bisa melakukannya.”
“Mengapa?”
“Itu seperti menghapus malam. Apa kau bisa menghapus malam?”
“Kalau begitu, apa yang harus kulakukan?”
“Seperti yang kau lakukan ketika malam tiba.”
“Menyalakan lampu?”
“Ya. Menghidupkan cahaya.”
“Aku sudah melakukannya. Setiap sudut, setiap ruang dalam tubuhku telah kupasang lampu, telah kunyalakan cahaya. Tapi aku merasa, masih ada sebuah ruang yang tersembunyi dan sangat besar, dan ruang itu masih sangat gelap.”
“Coba kau tengok lagi ke dalam dirimu.”
“Aku sudah melakukannya berkali-kali.”
“Tapi manusia acap lupa berkali-kali.”
“Lalu di mana ruang gelap itu?”
“Coba kau tanyakan pada dirimu sendiri, dari manakah perasaan itu, dari manakah keragu-raguan itu, dari manakah keyakinan itu. Apa kau sudah menengok ke ruang itu.”
“Ruang itu? Ruang apa yang kau maksud?”
“Hatimu.”***
Malang, 2012
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mashdar Zainal
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” Minggu 20 Oktober 2013