TURI-TURI TOBONG

Karya . Dikliping tanggal 16 Juni 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas

“Ini,” San Sumo Kiring menyodorkan wadah, “tampung di sini!”
Baiklah, akan kuceritakan. Ketika itu, menjelang sore dan udara mengandung debu-debu hangat. Kami dipaksa buang air kecil ke plastik ukuran perempat kilo. Karena sudah banyak berkeringat, hasilnya sedikit.
“Tidak apa-apa,” kata San Sumo Kiring. Ia lantas meminta dengan sikap profesional, sebelum membisikkan sesuatu ke dalam plastik pesing itu hingga mengembung, lalu diikat. Ia, dengan jeda tertata berat, memberi petunjuk; nanti kami harus melakukan apa dan bagaimana. Mendengarnya, sikap jantungku jadi gentar. Jujur, aku takut. Ada bayangan serbuan dan ancaman orang-orang yang tak dikenal.
“Jangan takut!” San Sumo Kiring membentak. Ia hisap mata dan rasa cengeng kami. Ia tatap. Tajam, dalam. “Kalian mau desa ini kalah, heh?!”
Menggeleng. Tidak! Kami tidak ingin. Dan di antara debu-debu hangat, kami pun tegakkan diri buat berani, meski pundak terasa berat menerima tepukan-tepukan penting dari San Sumo Kiring.
Kami pun pergi, menunggu segalanya dimulai. Aku ke perempatan.
Tiga temanku ke warung Nini Pri Kimin. Katanya mau beli lotrean lipat seharga Rp200,00 yang berisi permen telur cicak dengan hadiah nomor tertinggi adalah kaos dalam abu-abu.
Di perempatan, sudah ada dua truk besar beroda sepuluh: yang merah kasar dengan sisa debu gaplek (singkong kering) dan yang kuning menguarkan nyengat bau pupuk urea. Truk gaplek itu, pada hari yang lain, datang pukul enam pagi mengangkut ibu-ibu pengangguran untuk memburuh di pabrik tapioka dekat pelabuhan.
Dan, dari empat penjuru jalan, orang-orang terus berdatangan seperti semesta paku-paku yang terseret magnit. Tiga temanku datang dari warung, mereka berkabung; gagal dalam taruhan lotre.
Di depanku, Ranu Asma Beja sedang bercerita tentang betapa menyedihkannya desa kami ini; tersembunyi di sisi muara sungai yang berhadapan dengan Samudra Hindia. Di laut ganas itu tinggal Ratu Selatan yang tetap cantik pada usia sekian ratus tahun, tetap misterius, pemalu, tidur mengambang di kedalaman laut, dan gemar mengoleksi kepala kerbau serta baju-baju hijau.
Kalau musim banjir tiba, ikan-ikan rendahan dari sungai akan tercecer di belakang rumah penduduk dan bangkainya membuat kucing-kucing mual sepanjang hari. Kalau musim kemarau, sampah-sampah laut melintas di jalanan; beterbangan seakan ruh-ruh ikan yang malang.
Ranu Asma Beja merasa bahagia hidup bersama istri yang rajin, tiga
ekor anjing hitam, dan bersama arwah-arwah leluhur yang mandiri dimana mereka, arwah-arwah itu, memasak sendiri sesaji yang diinginkan. Ia berkebun terong sembari memelihara 14 ekor kambing Jawa. Ia, dengan suara kakek-kakek, berkata lagi bahwa hal yang menyedihkan dalam hidupnya adalah saat melihat desa lain datang bertarung dengan bus pariwisata, bukan dengan truk gaplek, apalagi truk bau pupuk!
Ia menepuk-nepuk bemper, “Tidak begini. Jelek, tua. Seperti truk jaman Jepang yang pernah kulihat di pelabuhan waktu seusia mereka,” ia menunjuk kami. “Tiap Jumat, penjajah Jepang mengangkut perempuan-perempuan rampasan ke dalam Benteng Pendem dan Nusakambangan. Ketika itu…”
“Husssy!” kaget. Kasut Gimin Gupis muncul dari samping truk.
“Bayar dulu, baru boleh membual.”
Kasut Gimin Gupis berpakaian paling rapi. Memakai kemeja. Celana panjang cokelat. Dan, sepatu proyek yang penuh debu sisa berkuli di parbik semen yang letaknya di pelabuhan sana. Pabrik itu dekat dengan pertamina, pabrik tepung, benang, tapioka, pupuk, dan, aku lupa pabrik apalagi.
Meski berdiri di tanah leluhur kami, orang-orang desa hanya mampu jadi buruh. Jabatan tertinggi yang pernah dicapai adalah tukang pijat. Itu pun memijat bagian telapak kaki pejabat atau pimpinan perusahaan. “Telapak yang,” kata ayah suatu hari, “jika di bumi inginnya dijilat lidah orang, maka di langit akan dijilat lidah api. Ingatlah baik-baik.” Dan, aku masih ingat.
Di tangan Kasut Gimin Gupis yang busik dan kasap, ada genggaman uang kertas. Kantong bajunya berderincing. Ia berkeliling menarik uang truk satu persatu, lalu sampai padaku.
“Anak kecil Rp2.500!” tariknya.
Kuserahkan. Saat itu, ia merendahkan kepala dan berbisik, “Sudah ketemu San Sumo Kiring?” Aku mengangguk. Ia menepuk punggungku dengan tepukan yang terasa penting dan genting.
“Kita berangkat jam berapa?” Ranu Asma Beja menyela dari belakang.
Tanpa menoleh, Kasut Gimin Gupis berseru, “Kita berangkat sekarang! Ayo, naik, naik!”
Aku ikut naik ke kotak raksasa; truk merah yang bau gaplek, yang berisi hampir seluruh lelaki tua, atau setengah tua, di desa ini beserta anak-anak yang pantas ambil bagian. Dengan seksama kuamati, di truk ini, tidak ada yang membawa alat pukul seperti para bujangan di truk sebelah.
Sepanjang perjalanan, aku menghadap ke belakang. Kepalaku sering kejeduk batas bak truk dengan bagian depan. Dan, karena aku kecil, tidak bisa tidak, yang kulihat hanya dedaunan, selintas awan, dan kabel listrik yang bergelombang; naik-turun dan menjauh ke belakang. Juga tubuh orang, telinga, rambut, dan kaki kusam mereka yang digatali sisa kudis atau kurap.
Pikiranku sedang menduga tentang perempuan-perempuan rampasan yang dibawa Jepang, ketika Ranu Asma Beja berkata keras. “Apa kita akan menang?”
“Haaruuus!” jawaban kompak. Semua sepertinya tetap bersamangat. Aku jadi gentar lagi.
“Pokoknya, kalau mereka bisa kita hancurkan, Kadus III sudah siap potong kambing Jawa!” kata Karto Langut Dakir.
“Haaalaaah,” sergah Mad Guplo Gendut, “kambing, kambing apa, paling-paling cempe!”
Yang lain tertawa. Cempe adalah sebutan untuk anak kambing. Orang-orang pun saling silih menimpali.
Sekitar sejam perjalanan. Aku terkantuk di atas ban cadangan, yang menyengat pantat, dan menimbulkan bau karet gosong.
Setelah sampai, kami turun dan berjalan dengan santun menuju tobong arena. Akan tetapi, tatapan-tatapan mata membalas sengit, sombong, dan merendahkan, seolah berkata: Beginilah untuk setahap menjadi kota, hai orang desa, simpanlah santun kalian di bawah daun-daun terong.
Aku menggandeng tangan Wir Karta Lusin. Cara ini cukup sebagai muslihat agar aku bebas dari Rp15.000,00. Anak-anak, termasuk yang masih seusiaku, tidak dipungut biaya jika terlihat datang digandeng orang tua—meski entah orang tuanya siapa.
Ketika sudah masuk, dua temanku merangsek dari belakang, “Kamu dan Ipong di sebelah selatan. Kami di utara. Ipong tadi sedang beli kacang rebus. Kamu tunggu, ya.”
“Tadi, kami ketemu Kasut Gimin Gupis,” Ondlop menyusul bicara sambil meraba saku. “Ini buatmu. Dia bilang jangan khawatir, sudah ada orang tua yang bertugas menjaga kita.”
Aku mengangguk. Ratusan orang-orang, bahkan ribuan, makin berdatangan; berdesakan pada dua pintu karcis yang sempit seakan mereka adalah domba-domba bahagia yang pulang ke kandang di waktu sore hari, sebelum menyebar ke sekeliling arena; mencari tempat terbaik untuk menekuk kaki, atau sekedar memamah kacang rebus sembari menunggu segalanya dimulai. Terasa benar sedang ada sepasang tangan gaib, yang muncul dari langit, dan sibuk menata semua ini dengan cerdas, sehingga nampak jelas tak ada yang melampaui batas.
Bersama orang-orang tua yang setenang nyiur, aku sekarang berada. Tak jauh dari kami, para bujang segelisah tupai yang sakit gigi.
Kami duduk bergerombol di tepian arena dengan alas sandal jepit atau langsung pada rumput. Beberapa yang lain memilih berdiri berlapis: tak beraturan. Mereka seperti pasukan rakyat miskin yang bosan menanti perintah revolusi, sementara matahari zaman tak bisa dicegah lagi; seseorang di barat terus bergerak menurunkannya dengan sikap tak peduli.
“Lihat, orang-orang di sini menanam pohon turi di sekeliling arena sebagai tiang tobong,” celoteh seseorang di antara suara yang lain. Mataku mengiyakan; di sekeliling memang ada tertib pohon turi yang lencang kanan dengan ranting-ranting mereka.
“Ini bagus,” jawab yang lain, “‘Kan ukurannya sama dengan bambu. Jadi, ya, tinggal memaku tenda.”
“Eh, apa ada lubang-lubang kecil di tenda tobong? Kalau iya, berarti orang di sini yang tidak bisa bayar pasti mengintip juga.”
Tidak berapa lama, “Sepertinya iya. Nah, itu, malah sudah ada yang di atas pohon randu sebelah sana.”
“Iya juga. Eh, tapi tempat halo-halonya kayaknya kurang tinggi. Dan dari tadi cuma musik.”
Halo-halo yang dimaksud adalah penyiar pertarungan. Tempatnya seperti menara pengawas perang yang terbuat dari susunan bambu sistematis. Ipong datang dari belakang. Kami menuju tempat yang direncanakan. Dan ternyata, Ranu Asma Beja mengikuti bersama dua orang lain. Kakek-kakek inikah yang akan melindungi kami?
Kini, kami sudah berdiri berdesak di dekat tiang berjala. Ipong berbisik, “Kamu tahu, kaki-kaki mereka sudah sekuat batu Srandil.”
Tentu aku tahu. Kisahnya sering kudengar; San Sumo Kiring menyelipkan bunga tujuh rupa ke dalam kaos kaki mereka. Bunga itu dari bukit Srandil tempat presiden Soekarno dan Soeharto kerap meminta wangsit republik.
Beberapa menit kemudian. Toa berseru tanpa jeda. Mata-mata terpaku pada benda bulat utama. Dan telah sampai waktuku. Kumau tak seorang mencegah. Aku mendekat ke tiang. Kubuka air seni dalam jiratan plastik. Kutuang pada pangkal tiang, seakan membuang sisa es teh.
Toa mengiring dengan cepat dan menegangkan, “Ya! Ancang-ancang sudah. Mundur dua, tiga, empat, lima langkah. Lihat mana kawan mana lawan. Ya! Sikat sudah! Melewati pagar betis. Sangat berbahayaaa dan… goool saudara-saudaraaa!”
Riuh rendah. Sorak sorai horeee! Anak-anak dan bujang berlarian ke lapangan sambil melempar rumput, memantati, mencibir, mengejek pendukung lawan di antara debu-debu hangat. Tukang taruhan joget riang. Baru berjalan beberapa menit, kesebelasan desaku sudah mampu menghancurkan keangkuhan lawan di final liga antar desa ini.
Aku bangga, karena dengan air seni, yang kutuang ke tiang gawang lawan tadi, membuat bola tendangan bebas itu menukik tajam bersama sihir yang menggerakkannya. San Sumo Kiring benar-benar sakti, batinku. Sekarang giliran Ipong. Jangan sampai kedudukan berbalik!
Namun, entah dari mana, ada yang tiba-tiba melempar kembang turi putih ke arahku dan seketika aku merasa gelap.
(2014)
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Eko Triono
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” 15 Juni 2014