Uang Bau Tanah

Karya . Dikliping tanggal 10 Agustus 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat
SEJAK satu bulan yang lalu, Haikal sudah berjanji tak akan menyentuh uang itu lagi. Uang yang ia sebut-sebut uang bau tanah, dan telah membuat celaka dua orang yang telah dia tolong dengan tulus. Tetapi, pagi ini Haikal bimbang.
Semua itu bermula dari dering telepon ibunya. Awalnya, Haikal tak peduli nada handphone berdering kencang dari dalam rumah. Haikal tetap khusyuk membaca koran di teras,  hingga tiba-tiba, dia dikejutkan istrinya yang berlari tergopoh-gopoh dari dalam rumah dengan suara mengagetkan.
“Mas, ada telepon dari ibu.”
Haikal sempat terdiam beberapa detik. Perasaannya seperti digulung gelombang dahsyat yang mencemaskan. Sebab dia tahu ibunya tak pernah menelepon, kecuali ada hal penting. Spontan dia meletakkan koran, menerima handphone dari tangan Maimunah, istrinya. Tangan Haikal bergetar, dia seperti sudah merasakan ada isyarat berita sedih. Dan, dugaan Haikal tak keliru.
Setelah mengucap salam, Haikal tak bersuara. Ia diam mendengarkan ibunya bercerita. Maimunah masih berdiri di samping Haikal, samar-samar mendengar pembicaraan mertuanya dan lelaki yang menikahinya lima tahun silam itu: pembicaraan seputar ibu mertuanya yang sudah terkena katarak, dan dalam waktu dekat dokter menyarankan untuk operasi.
“Ibu sudah menelepon Kakak?”
“Belum. Ibu hanya menceritakan hal ini kepadamu!”
“Ibu tak perlu cemas soal biaya operasi,” tegas Haikal 
“Saya nanti yang akan menanggung biayanya. Ibu harus mengikuti saran dokter untuk menjalani operasi!” 
Dari seberang, Haikal seperti melihat seulas senyum yang merambat dari mulut ibunya. Tetapi sebelum ibunya menutup telepon, Haikal sempat bimbang. Bukan lantaran Haikal tak punya uang, tapi Haikal sudah berjanji tak akan menggunakan uang itu. Tapi, kini Haikal harus melanggar janjinya.
Wajar, saat Haikal menutup telepon, istrinya langsung bertanya, “Jadi, Mas besok akan pulang dengan membawa uang bau tanah itu?”
“Tak ada pilihan lain,” jawab Haikal.
***
DUA bulan lalu, Haikal mendapat rezeki tak terduga. Rezeki yang dianggapnya turun dari kolong langit. Tanpa dia duga, Pak Syamsudin, teman SMA Haikal datang dan mengucapkan rasa terima kasih atas bantuannya. Dan, saat mau pulang, Pak Syamsudin memberi salam tempel amplop putih tebal. 
“Uang dalam amplop ini tak seberapa, tolong diterima,” ujar Pak Syamsudin seraya pamit pulang.
“Ini apa-apaan, Pak,” Haikal sempat bingung. 
“Kau pasti tak lupa kejadian enam bulan lalu saat aku datang ke sini minta bantuan dicarikan tanah.
Anggap ini persen dariku,” tegas Pak Syamsudin.
Haikal meletakkan amplop itu di atas meja, mengantar Pak Syamsudin sampai pintu pagar rumah dan
menunggu hingga mobil Pak Syamsudin hilang di tikungan jalan.
Tapi, betapa terkejutnya Haikal setelah masuk rumah, membuka amplop dari Pak Syamsudin dan menghitungnya: lima puluh juta rupiah. Dia dan Maimunah saling pandang. Sebab, awalnya, dia hanya berniat membantu mencarikan tanah buat usaha properti Pak Syamsudin. Tak lebih dari itu. Tapi, berkat bantuan itu Haikal ternyata mendapatkan bagian.
***
SEBENARNYA, tak hanya kali itu Haikal mendapatkan uang dalam jumlah besar. Uang yang bisa disebut rezeki tak terduga. Tiga tahun lalu, saat Maimunah hendak melahirkan Noura, anak pertamanya, dia sempat digulung cemas. Usia kandungan Maimunah, waktu itu sudah menginjak delapan bulan. Tapi, dia tak punya tabungan untuk biaya persalinan. Padahal, istrinya diperkirakan dokter akan melahirkan lewat operasi caesar.
Di tengah kebingungan itu, tiba-tiba Haikal mendapatkan rezeki tak terduga. Dia memenangkan undian, dan mendapat uang tunai dua puluh juta rupiah. Bagi Haikal, yang hanya karyawan rendahan di sebuah pabrik kertas dengan gaji tiga jutaan, tentu uang dua puluh juta itu sangat banyak. Apalagi, waktu itu Haikal sedang butuh biaya kelahiran anaknya. Uang itu akhirnya bisa menyelamatkan kegetiran hidup Haikal.
Rezeki tak terduga yang kedua datang tatkala Haikal kembali digulung masalah. Haikal dililit banyak
utang. Beruntung, saat tagihan itu hampir jatuh tempo, sementara dia tidak punya apa pun yang bisa dijual, istrinya membawa kabar gembira bahwa dia mendapat bagian warisan. Haikal bisa melunasi utang-utangnya, bahkan bisa menempati rumah baru -setelah mengajukan kredit rumah, dan bisa membayar uang muka lima puluh persen.
Haikal selalu beruntung. Dua bulan lalu, Pak Syamsudin datang membawa rezeki. Ia dapat amplop lima puluh juta rupiah.
Hanya saja, saat itu Haikal sedang tak dililit masalah. Dia pun menyimpan uang itu di dalam almari. Tapi, belum genap tiga hari uang itu dalam genggaman Haikal, datang kabar salah satu temannya butuh biaya operasi usus buntu. Haikal menyumbang lima juta. Dia berharap, dari bantuan uang itu, temannya bisa segera sembuh dari penyakit yang diderita. Tapi, harapan Haikal itu ternyata tak seperti yang dibayangkan. Temannya meninggal lima hari kemudian.
Seminggu kemudian, datang kabar yang menyedihkan. Salah satu temannya di Surabaya menderita kanker paru-paru stadium IV dan harus operasi. Haikal ikut solidaritas teman-teman yang lain untuk meringankan biaya operasi dengan menyumbangkan uang dari pak Syamsudin sebesar lima juta. Tiga hari setelah itu, Haikal dikejutkan kabar duka. Temannya itu meninggal.
Berita itu membuat Haikal langsung merenung. Dia bahkan penasaran. Malam itu, ketika istrinya sedang tidur pulas, dia mengambil uang dalam amplop yang disimpan di almari, lalu mencium lembaran uang dari Pak Syamsudin itu. Hidung Haikal seperti menemukan aroma aneh. Uang dari Pak Syamsudin menguar bau tanah. Sejak malam itu, ia berjanji menyimpan uang bau tanah itu di almari, dan tidak bersedia menyentuhnya lagi.
Tapi, telepon dari ibunya membuat dia harus ingkar janji. Haikal tak punya pilihan lain, dia terpaksa mengambil uang bau tanah dari dalam almari, dan memberikan semua uang itu buat biaya operasi mata ibunya. Kemarin, saat dia menyerahkan uang dalam amplop itu kepada ibunya yang terbaring setelah tiga hari melakukan operasi katarak, tangan Haikal sempat gemetaran. Ia nyaris tak bisa berkata apa pun.
“Anakku, selama ini aku tahu kamu hidup pas-pasan, dan tidak memiliki tabungan,” kata ibunya, “Lalu, dari mana engkau mendapat uang sebanyak ini?”
Haikal sempat diam, dan bingung untuk menjelaskan asal muasal uang itu. Tapi, sejak kecil Haikal tak pernah berbohong pada ibunya. Kemudian, Haikal bercerita jujur asal usul uang itu. Wanita setengah baya yang sudah ditinggal pergi ayah Haikal sepuluh tahun yang lalu itu pun hanya mengangguk-angguk. 
“Aku berharap dengan uang ini Ibu dalam waktu dekat bisa sehat dan bisa kembali melihat tanpa gangguan,” ucap Haikal.
Ibunya memegang tangan Haikal dengan erat dan Haikal membalas memegang tangan ibunya. Air mata ibunya menitik. Haikal merasa momen itu merupakan kebahagiaan puncak yang dialaminya sebagai seorang anak.
“Tiga hari setelah ini, aku akan menelepon Ibu,” janji Haikal sebelum balik ke Jakarta.
***
SEBENARNYA, Haikal tidak lupa dengan janji yang telah diucapkan.  Dia tahu, hari ini adalah hari ketiga setelah Haikal balik ke Jakarta. Dia seharusnya menelepon ibunya. Tapi, dia tak memiliki keberanian. Bayangan dua temannya yang mati setelah dia menyumbang uang untuk biaya operasi berkelebatan. Haikal tak ingin ada kabar duka lagi. Apalagi, jika kabar itu menimpa ibunya. Akhirnya, malam itu, dia memilih tidur lebih awal. Dan, tatkala Subuh menyingsing, samar-samar dia mendengar suara seseorang. 
”Bangun, bangun Mas! Ada kabar dari rumah! Kakakmu menelepon…” 
Haikal terjaga dari tidur, memicingkan mata ke arah jam dinding. Jarum pendek menunjuk angka lima.
”Ada berita apa?”
”Ibumu…” ujar istrinya. Dan begitu panggilan untuk wanita setengah baya yang telah melahirkan Haikal itu disebut, dia langsung lemas. Aku tak ingin mendengar berita duka! Apalagi, jika itu menimpa Ibu…”
”Istighfar, Mas…. Istighfar! Ibu masih sehat!”
“Lalu?”
“Kakakmu menelepon mau mengatakan bahwa dia mau mengembalikan uangmu, dan bahkan akan mengembalikan sebesar tiga kali lipat yang mas berikan kepada ibu…!”
Haikal seketika bersimpuh. Dia merasa salah menebak rahasia Tuhan. ❑ – k
Jakarta, 2013-2015
Rujukan:
[1] Disalin dari karya N Mursidi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 9 Agustus 2015