Ulang Tahun Sunyi

Karya . Dikliping tanggal 8 Juni 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi
SUNYI. Malam yang hampa tanpa bintang dan bulan. Tertutup mendung yang kian menebal, mengepul seperti asap pabrik. Rasa dingin menyelimuti kulitku. Diam-diam merasuk ke pori-pori. Kurasa akan segera turun hujan. Karena langit seperti ingin menumpah-ruahkan air yang menggantung itu.
Di pelataran rumah yang dingin ini, aku duduk membeku, seperti batu. Merasakan tamparan-tamparan angin yang meliuk kencang, mengibas-ngibaskan rambut hitamku. Aku yang perih dan sakit hati karena seseorang. Karena kekasih hatiku yang pergi, putus cinta lebih tepatnya.
Sunyi. Malam ini benar-benar sepi. Tak ada suara riuh rendah kicauan burung atau derik jangkrik. Juga tak ada suara motor yang biasanya berisik. Kulihat langit, ia tetap diam dan angkuh, malah semakin menghitam seperti memarahiku. Langit yang luas itu membekapku dalam kehampaan. Dan sang awan semakin saja berkumpul, terkomando dan berkolaborasi antara angin dan hujan. Melabrakku.
Aku teringat masa lalu, masa di mana aku dengannya tertawa bersenda gurau. Teringat pertama kali tatap mata. Teringat di saat menulis bersama tentang melati dan pelangi cinta. Saat duduk bersama di bangku kelas. Ah, semua hanya lalu.
Sunyi. Malam ini gerimis mulai turun, lambat laun semakin melaju, membasahi sekujur tubuh juga perasaanku. Aku teringat lagi pembicaraan saat pertama kali bersama berstatus pacaran.
“Apakah kita akan bersama sampai nikah nanti, Kak?” katanya saat itu, sambil merebahkan kepalanya di pundakku. Rambutnya terurai wangi.
“Iya, Dik! Semoga saja..” jawabku bersemangat.
“Semoga saja ya, Kak,” katanya manja. Aku membelai rambut panjangnya yang terurai rapi. Menyentuh wajahnya.

Namun hanya beberapa waktu saja, perasaan cinta berubah jadi benci. Ya, aku membencinya. Karena semakin lama, semakin ia menjauhiku. Entah karena apa, entah ia tak memahamiku atau aku tak memahaminya. Entah menjauhiku karena cinta atau dusta. Yang jelas, aku membencinya.

“Janjimu hanya omong kosong. Eliana! Mana rasa balasan cintamu selama ini?” gerutuku sendiri.
Sunyi. Malam mulai mengeluarkan fajarnya. gerimis mulai mereda. Dan segalanya ini kusaksikan tanpa sepincing pun mata terpejam, apalagi tertidur.
Meski gerimis reda tapi tetaplah gundah gulanaku tak reda. Kaos yang kukenakan masih basah, basah bekas tumpuan hujan. Dingin rasa ini berlangsung hingga pagi menjelang dan matahari mulai keluar dari tempat tidurnya. Sebelum aku beranjak pergi, sekali lagi aku teringat pembicaraan terakhir dengannya. Sekitar seminggu kemarin.
“Aku nggak menyangka kak! Kau akan menduakan cintaku.” katanya sambil menangis.
“Apa maksudmu?”
“Kau menduakan cintaku Kak, mengapa kau tega?” tangisnya semakin pecah.
“Apa? Aku menduakanmu? Tidak mungkin.”
Ia menjauh, langkahnya semburat berpacu kencang, ingin memisahkan kehidupannya dari kehidupanku. Aku berlari mengejarnya.
“Mana buktinya? Eliana, aku mohon tunjukkan buktinya!” Tapi kata-kataku tak berdaya di telinganya. Ia berpegang teguh pada pendiriannya.
“Terserah,” teriaknya dan terus berlari. Seketika itu hatiku hancur lebur. Aku tak tahu masalahnya, setahuku dia bukan pencemburu seperti itu.
Sunyi. Pagi ini seperti malam tadi, tetap sepi. Aku beranjak pergi, bersiap-siap berangkat ke sekolahan, mengambil surat kelulusan. Sekaligus perpisahan dengan kawan-kawan. Meski rasanya aku tak enak badan, tapi aku ingin menyaksikan momen terakhir itu. Momen di mana seluruh kawan akan menyatakan perpisahan.
“Kenapa putus cinta harus ada? Sedangkan hal itu hanya akan membuat hati orang menderita. Kenapa harus ada?”
Gumam dalam hati terus berpijar memenuhi rongga dada. Membuat sesak pernapasan. Aku terus berjalan menantang kesunyian.
Sunyi, siang ini memang semuanya ramai, ada yang bernyanyi, ada yang berjoget, ada pula yang naik motor meramaikan kelulusan. Namun tetaplah rasa hatiku sunyi. Meski di sana tertera jelas: aku lulus. aku sama sekali tak berkeinginan untuk merayakannya. Seperti mereka yang saling memberi kenang-kenangan.

Aku beranjak pergi dari tengah keramaian dunia. Melangkah dengan berat. Pelahan kaki ini membawaku menerobos taman. Dengan hati kikuk nan linglung, bercampur aduk dengan sepi dan kesedihan. Aku berjalan sendirian di tengah-tengah hidup yang gamang. Seperti malaikat kehilangan sayap dan tak mampu lagi terbang.

Telingaku terpincing, kudengar samar-samar seseorang memanggilku. Kutajamkan indera pendengaranku.

“Kakak! Kakak!” Aku melengos ke belakang. Dan… suara itu dari mulut Eliana. Ia berlari tergopoh-gopoh mengejarku. Kuabaikan dan terus berjalan, pandanganku hanya lurus ke depan. Kurasakan hawa ia membuntutiku. Terpaksa aku menengoknya.

“Terimalah ini Kak, sebagai kenang-kenangan!” katanya sangat pelan.

Tetapi, tetap saja dia tak mampu meluluhkan hatiku. Apalagi yang dibawa cuma kotak-kotak berwarna perak. Jika benda itu bulat, maka hanya berukuran bola futsal. Aku kembali mengabaikannya. Tak mampu lagi bersitatap dengannya. Rasa benciku sudah terlanjur. Ia tetap mengejarku.

“Kakak! Tolonglah.” katanya halus dengan menunduk takzim.

Tanpa banyak bicara, tanganku serta merta melibas benda itu, hingga kocar-kacir. Dan di sinilah momen itu, kotak itu menganga dan isinya tumpah ruah. Aku tertegun mendapati perlakuanku seperti ini. Aku menyesal. Ah, aku menyakiti hatinya. Tertumpahnya benda itu buatku menangis, tak sanggup menahan air mata. Karena di sana terbujur jelas sebuah kue ulang tahun yang di atasnya lilin-lilin angka tujuh belas. Betapa hal itu sangat mengejutkanku. Kulihat Eliana yang tertunduk lemas di depanku. Menangis memegangi lututnya.

“Untukkukah itu, Eliana?” tanyaku tergagap.

Dan ia hanya mengangguk. Air matanya mengalir lebih deras dari yang sebelumnya. Aku mendekatinya. Ia berdiri dan aku memeluknya. Meskipun ia tak sanggup ucapkan kata selamat ulang tahun, aku percaya ia masih mencintaiku. Dan rasa benci itu seketika pergi terbawa rasa haru. Aku tak menghiraukan kue yang gelimpangan. Kuberikan kecupan di keningnya. Bahagia. Itu ulang tahunku yang kuharapkan sejak dulu. []


Amad Darus Salam, Jalan parangtritis KM 7,5 Cabean Sewon Bantul.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Amad Darus Salam
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 7 Juni 2015

Beri Nilai-Bintang!