Undur-undur – Semut – Suling – Rayap

Karya . Dikliping tanggal 31 Januari 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Undur-undur 

Hidup bermula dari masa depan 
apa-apa yang akan datang padaku 
adalah segala yang berlalu pada 
kalian kalian berjalan lurus mengejar impian 
aku berlari miring ditunggu kenyataan 
kusingkirkan kepastian, kuikat kuat keraguan 
sebab karenanya aku memandang ke belakang 
: kesepian jalan yang selalu ditinggalkan 
Bermi, 2015 

Semut 

Akhirnya, 
bersatu pun kami runtuh 
hanya karena sebutir gula 
yang terlambat jatuh 
Bermi, 2014 

Suling 

Aku seorang diri 
tanpa gendang dan penari 
di tubuhku melingkar 
lubang-lubang buatan 
yang senantiasa 
ditutup bergantian 
menghamburkan burung 
dari balik gunung-gunung 
aku menunggu seorang kekasih 
menjelang dari seberang ladang 
lelaki atau perempuan 
yang pandai menanam kesedihan 
Bermi, 2014 

Rayap 

Sudah lama taring kami silu 
bukan salah tuan bila kami mengerat kayu 
sudah lama kami menjadi kunang-kunang 
bukan salah tuan bila kami belajar terbang 
sudah lama kami berontak pada ratu 
bukan salah tuan bila kami mendekati lampu 
Bermi, 2014 
Fatih Kudus Jaelani, lahir di Pancor, Lombok Timur, 31 Agustus 1989. Menulis puisi dan dimuat di sejumlah media cetak lokal dan nasional. Aktif mengelola Komunitas Rabu Langit, sebuah komunitas nirlaba yang menggiatkan sastra di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fatih Kudus Jaelani
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 31 Januari 2016