Untuk Perempuan yang Rahimnya Pernah Saya Singgahi

Karya . Dikliping tanggal 22 Desember 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos
SAYA tidak bisa mengingat dengan pasti siapa orang yang pernah mengatakan bahwa usia 20-an adalah usia yang pas untuk memetik manisnya biduk rumah tangga.  Saya yakin bisa mengingatnya jika saat ini usia saya lebih muda beberapa tahun. Setidaknya, saya merasa yakin pernah mendengarnya dari  mulut seorang perempuan yang rahimnya pernah saya singgahi.
Kali pertama saya mendengarnya, langsung dari mulut dia sendiri, tentu kala itu saya belum memegang gelar sarjana. Sarjana komunikasi kalau kau ingin tahu apa jurusan yang saya ambil. Saya tahu, mungkin kalian tidak tertarik dengan informasi remeh ini, atau jika pun ya, kalian (mungkin) membaca sekadarnya. Sambil lalu. Tidak masalah. Karena yang terpenting saat ini adalah melakukan apa pun yang kalian sukai. Kalian bisa menikmati cerita dengan tetap bertahan pada posisi saat ini sambil memejamkan sesekali, atau diselingi dengan mencicip legitnya susu cokelat hangat yang sungguh pas dinikmati kala hujan membasahi pekarangan rumah.
Baiklah. Kita mulai saja sebelum saya berkicau yang kurang penting lebih jauh. Jadi, waktu itu saya masih duduk di bangku kuliah. Sudah masuk semester terakhir. Karena saya tidak berasa dari keluarga dengan latar belakang orang kaya, saya mengambil inisiatif untuk kuliah sambil bekerja. Sebuah ide yang sangat brilian, karena dengan bekerja saya jadi bisa melakukan apa saja dengan uang hasil jerih payah selama sebulan memeras darah dan keringat.
Saya merasa terharu sekali, saat telinga ini kali pertama mendengar kata “kamu diterima.” Saya langsung merasa sedang berada di surga. Surga dunia. Sejurus kemudian, saya pun mengambil telepon genggam (tentu saja setelah mengucap syukur pada yang memberi rezeki) dan mencari nomor orang yang sudah saya hafal di luar kepala. Ya, siapa lagi kalau bukan nomor perempuan yang rahimnya pernah saya singgahi.
Pada situasi normal, adegan menelepon seseorang biasanya akan berjalan biasa saja. Namun, karena ketika itu saya sedang dalam keadaan yang luar biasa dan sangat tidak biasa (karena saya merasa sedang ada di surga), seketika muncul lagu-lagu yang mengeluarkan nada-nada paling indah yang pernah saya dengar seumur hidup saya. Lagu-lagu itu sepertinya tidak asing di telinga, tapi berhubung saat itu saya sedang dalam keadaan yang tidak benar-benar normal, saya jadi tidak bisa memusatkan pikiran untuk menentukan lagu apakah yang kini sedang diputar di benak dan kepala saya yang terasa ringan seperti kapas yang beterbangan di udara.
Sebelum meyakinkan perempuan itu, saya berusaha meyakinkan diri saya sendiri terlebih dahulu bahwa saya bisa mengeluarkan kata-kata yang nantinya tidak blunder. Well, kau tahu, mulut kadang suka tidak terkendali justru pada saat kebahagiaan singgah. Dan, saya tidak ingin berita yang seharusnya bisa berakhir happy ending, nantinya malah menimbulkan masalah. Mengenai hal ini, kau tahu tentang apa mungkin nanti saya akan menceritakannya sedikit. Tentu saja jika kau masih bertahan dengan secangkir susu cokelat hangat di tanganmu dan selimut yang cukup tebal untuk membuat tubuhmu tetap hangat.
Saat itu, aku berkata, “Aku diterima, Bu. Alhamdulillah” dengan mata berkaca-kaca dan berbinar-binar. Hening. Saya tidak mendapat jawaban saat kata alhamdulillah menutup kalimat pembuka dan terakhir itu.
Saya menghela napas. Panjang. Saya tahu karena saya mendengarnya beberapa saat kemudian, perempuan itu ternyata sedang terisak di seberang sana. Saya tahu dia pasti sedang menangis karena tak lama kemudian dia juga mengucap syukur dengan kalimat yang terpatah-patah. Saya mengulum senyum. Haru. Mungkin ini adalah momen paling membahagiakan dalam hidup perempuan itu karena salah satu anaknya (dari lima) sudah bisa mencari duit sendiri bahkan sebelum kuliahnya rampung. Dalam pikirannya, mungkin anak gadisnya pastilah pintar sekali karena saat itu tidak mudah mencari pekerjaan karena kantor-kantor biasanya tidak mau menerima mahasiswa yang belum memegang surat tanda kelulusan. Tapi, saya anomali. Setidaknya dalam keluarga saya sendiri.
Sejak itu, sejak saya mulai kuliah sambil bekerja, perempuan itu menjadi lebih perhatian dari biasanya. Jika dulu, dia hanya menyiapkan sarapan yang ditujukan untuk kakak-kakak dan adik-adik, kini perempuan itu juga menyiapkan sarapan dengan piring yang khusus ditujukan untuk saya. Aku terenyuh dan merasa tersanjung karena kini, akhirnya, saya bisa merasakan sarapan buatan ibu yang sesungguhnya. Sarapan yang dibuatnya dengan penuh cinta kasih dan pengharapan akan hidup yang baru. Hidup yang jauh lebih baik dari hidup kami yang sebelumnya.
“Karena kini kau sudah bekerja, dan ibu rasa kau sudah cukup dewasa, tidak ada salahnya untuk mencari pendamping.” Begitu kata perempuan itu di suatu pagi yang lelah.
Saya baru tahu, ternyata tidak mudah kuliah sambil bekerja. Kau tahu, lelahnya terasa berlipat-lipat saat pikiranmu harus kau belah-belah pada saat yang bersamaan. Saat itu saya bekerja di sebuah sekolah berlabel internasional yang tentu saja diisi oleh murid-murid yang orangtuanya berkantong tebal dan sering mengadakan pesta minimal sebulan sekali. Saya tahu itu karena beberapa orang tua murid pernah menceritakan pesta-pesta apa saja yang sudah atau baru akan mereka selenggarakan pada kami. Dan jika beruntung, beberapa dari pesta itu mungkin meminta kami hadir sebagai salah satu tamu undangannya. 
Dan itu terwujud satu kali saat anak-anak mereka yang terlihat putih dna bersih serta wangi merayakan hari ulang tahunnya. Kami, para guru, sangat bahagia saat itu, karena akhirnya rasa penasaran kami tentang seberapa kayanya orang-orang tua murid yang kami ajari menyanyi dan berbahasa Inggris di sekolah itu tercapai juga setelah kami datang menghadiri pesta mewah di rumah mereka di kawasan perumahan elit di bilangan utara.
Sampai di rumah, saya tidak membawa secuil cerita pun kepada perempuan itu karena saya tahu pasti apa yang ada di kepalanya ketika saya melontarkan seluruh pengalaman menyenangkan itu. Alhasil, karena saya tidak juga menanggapi permintaannya dengan serius, perempuan itu pun berinisiatif untuk mengenalkan saya dengan seorang pria yang diketahuinya dari adik perempuannya. Pria itu konon masih single. Tak lama setelah saya dan pria itu akhirnya berbicara lewat pesan singkat, dengan pembicaraan yang juga sangat singkat, keluarganya mengundang kami untuk datang ke rumahnya yang letaknya memakan waktu 3 jam perjalanan, perginya saja. Saya sungguh senang karena kelihatannya pria yang baru saya kenal kurang dari satu bulan itu tampak baik dan serius.
Kami menyanggupi dan datang ke rumahnya berjarak satu minggu setelahnya. Sampai di sana, kekaguman saya terhadap pria itu bertambah-tambah karena ternyata dia bukan hanya pria yang tampan, tapi juga memiliki keluarga yang berlatar belakang sangat religius. Saya sempat ciut sesaat karena dengan melihat ibunya saja, saya tiba-tiba merasa telanjang saat berhadap-hadapan dengannya. Belum lagi saat kakak iparnya yang juga sangat cantik, datang dari rumah mereka yang juga cukup jauh dari sana, khusus untuk menyambut kami. Kedua perempuan itu memakai jilbabdan hijab yang longgar dan tampak besar. Setidaknya di mata saya, pakaian dan penutup kepala itu pastilah akan tampak seperti selimut yang disampirkan di tubuh saya yang kecil dan kurus.
Semuanya berjalan lancar saat itu, karena saat kami pamit pulang setelah berbincang hangat kurang lebih dua jam mereka mengantar kami hingga ke mobil. Sebuah perlakuan yang jarang dilakukan oleh orang-orang elit di ibukota.  Sebulan berselang, itu setelah saya berhasil mengajaknya menemani datang ke sebuah pesta pernikahan sahabat, saya menerima pesan singkat darinya yang isinya meminta saya untuk mendoakan kebahagiaannya. Saya tahu, cepat atau lambat perempuan itu akan tahu mengenai kabar ini dan saya lebih memilih mendengar gerutuannya secepat mungkin karena dengan begitu akan lebih cepat redanya. Kenyataannya, perempuan itu tidak menyerah dan keesokan harinya membawakan saya lagi seorang pria. Kali ini seorang duda.
Oh, kau harus tahu, pria yang telah beranak satu ini dan bercerai hidup dari sang istriu tampak antusias saat tahu akan dijodohkan dengan saya. Saya tidak sedang gede rasa saat itu, karena dari berita yang saya dengar, pria itu meminta teman ibu saya yang menjadi perantara untuk memberikan foto, yang dibawanya. Tanpa menunggu lebih lama, foto saya yang sampai kini saya tidak tahu yang mana sudah berpindah tangan dan masuk ke dalam saku celananya. Ke dalam dompetnya yang lagi-lagi, saya tidak tahu berapa banyak isinya untuk bisa membawa saya ke pelaminan.
Kenyataannya, setelah perempuan itu mencari tahu tentang bibit, bobot, dan bebet dari temannya tersebut, pria itu ternyata punya hobi yang jauh berbeda dengan pria yang sebelumnya saya temui dan menikah dengan perempuan pilihan ibunya. Pria yang usianya jauh di atas saya itu ternyata saya ketahui kemudian gemar bermain sabung ayam. Dia juga suka berjudi dan mabuk pada malam harinya. Belum lagi, ternyata dulu pada saat masih bersama istrinya, dia sering meninggalkan bekas merah di pipi dan tubuh wanita itu. Saya mengurut dada seketika, dan mengucap syukur mengetahui kabar itu jauh sebelum pria itu melamar saya kepada ayah.
Sejak itu, ibu terus mencarikan pria-pria lain yang sekiranya berkenan meluangkan waktu untuk menemui saya. Dan saya sibuk mencari celah dan kekurangan dari para pria yang datang silih berganti itu. Saat ini usia saya menginjak 35. Dan besok, saya tidak tahu siapa lagi yang akan dibawa ibu ke rumah.***
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dewi Riani
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu 20 Desember 2015