Untuk Segala yang Kudendamkan

Karya . Dikliping tanggal 26 November 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Untuk Segala yang Kudendamkan

ketika memandang langit lapang aku mendendam
segala yang diciptakan kawanan awan: bibir, rambut, hidung,
atau matamu. o, ternyata awan juga mencipta perihal segala
yang pernah kau sentuh: buku, surat cinta, selendang timor,
gantungan kunci, sepatu, baju, juga impian-impian kita
yang masih ngiang di angan.
aku juga mendendam parfum pemberianmu. sehabis mandi
tidak lupa parfum itu aku lekat pada kulit, kemeja, juga
kerinduanku. aku tidak menyukai wanginya yang menjelma tubuhmu di
tubuhku, tawamu di tawaku, atau manjamu di marahku.
dan manjamu ternyata aku juga mendendamkannya. Ketika
kau diam-diam mendiamkanku. dan aku harus berlelah membuka
album lama untuk menemukan kapan dan di mana aku
tidak hirau huramu. atau jika tidak, aku harus berlepotan tinta
dan hati-hati menyelipkan kata-kata yang kau suka dan
ciuman kita di balik puisiku.
tapi ciuman. ya, ciuman kita adalah yang paling aku dendamkan.
saat kau menarik dua lenganku ke balik punggungmu dan padam
matamu memendam ciuman pertama kita untuk kukecup sendiri.
hanya sendiri!
dan bibirmu adalah basah-basah tanpa rasa. tapi aku
mendendamnya, sungguh sangat kudendamkan sekali lagi.
meski aku tahu, pada setiap lekuknya terselip
ingin-angan kita yang panjang dan berliku juga rapuh.

Menyusuri Jalan Kita

aku selalu menyusuri jalan ini setiap pagi
—jalan yang dulu kita lewati,
dan kau tahu hari ini akan tiba.
tapi tak ada yang hilang. aku hanya
butuh memejam mata
dan seorang yang jauh
di sana,
angin, bau tanah, riak dedaunan, udara,
juga bekas telapak kakimu masih sama
sejak kau tanggal dan segala tinggal abadi.

Elyan Mesakh Kowi, labir di Desa Iral-Anggl 17 Mel 1995 dan besar di lingkungan keluarga Suku Arfak. Sekarang tinggal di Kota Manokwari. Saat ini sedang menempuh jenjang pendidikan tjnggi di Universitas Kristen Satya Wacana (IKSW), Salatiga.


[1] Disalin dari karya Elyan Mesakh Kowi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 25 November 2018