Upaya Menulis Sajak Cinta – Penikmat Organ Tunggal – Di Kedai Kopi Bengras Padang – Kering – Politikus Kita – Menggugat Nota Merah

Karya . Dikliping tanggal 11 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Tempo

Upaya Menulis Sajak Cinta

Pada sajak pertama, ingin ia menulis cinta
Dengan segala maksud dan tujuannya.
Sebab bila ingin akhir yang bahagia ia percaya
Di awal jumpa cinta mesti tergambar sejelas-jelasnya.
Namun ketika narasi itu hampir tercipta,
Ia tiba-tiba gamang untuk percaya.
Sebab cinta yang kemudian terjelaskan ternyata
Memuat si sakit peristiwa.
Pada sajak kedua, ingin ia menulis cinta
Dan hanya mengisinya dengan hasrat kata sifat.
Sebab ia percaya kata yang berasal dari dada
Akan membuat cinta semanis gula basah.
Namun ketika air itu mengkristal bagai kaca
Entah kepana hatinya kerap tiba-tiba
Bagai diserang beling-beling tajam.
Setelah ia buka hatinya tahulah ia
Kristal itu ternyata acap meminta cinta
Dengan cara melukainya
Pada sajak ketiga, ingin ia menulis cinta
Ke dalam bentuk kata kerja.
Sebab rasa yang tak pernah ada
Pada mata katanya perlahan akan tercipta.
Pada mulanya ia percaya muatan kata ini kelak
Membuat cinta gumpal umpama batu jiwa.
Sebab sebagaimana sajak, segala yang merambah
Proses panjang akan menjatuhkan matangnya buah.
Namun ketika cinta mulai menampakkan wujudnya
Ia tiba-tiba bagai menjuluk buah rebah.
Sebab cinta yang terus bekerja ternyata
Gelagatnya bagai si penyair yang terkena
Sakit skizofrenia
Dan pada sajak selanjutnya
Ingin ia mengibaratkan cinta sebagai kata benda.
Hanya saja, lagi-lagi ia kembali bercuriga
Sebab makna yang kemudian tercipta
Terbatas hanya pada kata itu saja.
Di ujung pencariannya,
Ia lalu menulis sajak tentang duka lara.
Karena cinta kini baginya
Hanya di masing-masing
Benak pembaca

Penikmat Organ Tunggal

Bukan singgang ayam
Yang bakal meredam maksud kedatangannya.
Bukan pula denting pinggan jagung bakar
Yang bakal melipat kedua tangannya di atas meja.
Bukan pertunangan, bukan juga persaudaraan
Yang kemudian mempersekutukan dua bendera.
Karena ia hanya penonton belaka. Maka,
Di hadapan biduanita-biduanita tercinta
Buih-buih tuaklah yang bakal melapangkan
Ruang dalam dadanya.

Di Kedai Kopi Bengras Padang

Hanya blues yang membahasakan
Larut gula dalam rebusan kopi.
Selebihnya lagu dangdut
Yang seperti berupaya 
Mendudukkan si peracik
Di tungku sangrai.
Tiada siulan yang sedia
Menerjemahkan tukak lambung
Ke halaman muka koran pagi.
Di kedai ini, revolusi hanya latar
Bagi papan hitam yang bertulis
Warna harga dan uap kopi

Kering

Lapar cuaca tatkala melahap
Kaus kaki siap cuci.
Gelisah musim yang memangkas paruh
Kolibri di perut bunga matahari.
Galau kulkas yang berupaya mendinginkan
Dada sepasang pengantin di ranjang kawin.

Politikus Kita

(di layar kaca)

Ia bukan juru masak handal
Saat menuang garam
Membumbui pesanan kita.
Ia juga bukan 
Sejinjing padi hampa
Tatkala menawarkan 
Beras dalam dirinya.
Tapi di meja ini, ia serupa ampas
Meski segala wujud alam semesta
Berbuah di bibirnya
Dan gelas-gelas kosong
Sisa mabuk sebelumnya
Cuma menyisakan
Kantuk mata.
Ia bukan kabut asap
Yang menghablurkan 
Siang dan malam.
Sebab ia bukan dari cahaya
Juga bukan dari kegelapan.
Ia hanya udara
Dari dalam tabung gas
Penuh rongga.

Menggugat Nota Merah 

Bukan maksud kami 
Mengumbar puisi merah hati
Tatkala kau beri surat merah ini.
Kami hanya ingin meminta lampu
Untuk menerangi gelapnya matahari
Yang kau curahkan siang ini.
Sebab kami bukan pejalan barbar
Yang buta akan warna punggung zebra.
Melainkan pedagang akik
Yang mengerti amplas ke berapa
Yang telah melincinkan permukaan
Cincin batu di jari tengah ini.
Dan kami bukan Si Enggan
Yang selalu merasa keberatan
Sebab diketam pasal pelanggaran.
Namun bila hanya karena panjang sebelah kaki
Lalu kau tuduh kami hendak
Mengencingi seragam polisi.
Tentu kami akan menjadi penyair
Yang tak lagi membicarakan
Kopi mahal atau puisi itu sendiri.
Bagai gulma yang tumbuh
Bagi pembangunan pusat perbelanjaan
Yang menghancurkan perpustakaan.
Tentu kami akan menjadi api
Bagi tikus-tikus busuk
Yang menyesaki lumbung padi.
Dan ketika kau membicarakan harga
Karet penghapus untuk menghilangkan cap jari
Pada bagian kanan bawah surat merah ini.
Kau kami bakar di tepi jalan ini.
Karena kami bukan Si Penerima yang terbiasa
Membiarkan memburamnya sinar matahari.
Ramoun Apta lahir di Muara Bungo, Jambi. Sedang belajar di Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Padang. 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ramoun Apta
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” Sabtu 10 Oktober 2015