Viral

Karya . Dikliping tanggal 27 Februari 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

Jakarta

Gadis itu sungguh ayu. Bisa jadi orang yang menontonnya akan mengira ia artis yang sedang berlatih pantomim. Gerakan teatrikalnya yang seakan-akan sedang memandikan anak kecil tampak begitu luwes namun ekspresinya tidak lazim. Air mukanya sedih dan air mata masih tergenang di pelupuk matanya saat ia menyiramkan bergayung-gayung air imajiner. Namun, ketika ia memulai gerakan menyabuni badan anak yang juga imajiner tersebut, mata gadis itu bertransformasi serupa bintang kejora dan bibirnya merekahkan senyuman yang membuat orang yang melihatnya ikut bersuka. Gadis itu kemudian menyanyikan sebuah lagu anak-anak. Nada yang sederhana tapi menyentuh karena dinyanyikan oleh segenap perasaan.

Rio tercengang melihat video kiriman teman kantor di grup WhatsApp. Bukan karena adegan yang ganjil, tapi yang lebih membuat penasaran adalah adegan tersebut tidak terjadi di depan pancuran, tidak pula di dalam sebuah kamar mandi, melainkan di sebuah jalan raya yang ramai. Dan tentunya karena gadis itu telanjang bulat. Tidak ada sehelai benang pun yang melindungi kulit kuning langsatnya yang mulus. Mata Rio masih tertancap pada ponsel yang lampunya sudah padam sampai ia tersentak karena bahunya ditoel oleh Dani. Teman sekantornya itu tertawa lebar sambil menunjukkan video yang sama. Dani juga anggota grup WhatsApp kantor.

Rasa lucu yang menular segera menggantikan kekagetan Rio. Dengan sigap, tangannya mengimbuhkan teks dengan huruf besar “SIAPA MAU DIMANDIKAN?” pada video tersebut dan mengirimkannya pada beberapa grup WhatsApp. Rio yakin reaksi teman-temannya pasti heboh, terutama Farid yang terkenal ahli membuat meme. Tak lupa Rio juga mengirimkan video tersebut ke Toni, teman SMA-nya yang suka mengunggah video unik ke YouTube.

Medan

Bingung. Hilang. Tersesat. Tidak ada perbendaharaan kata yang mampu mewakili apa yang dialami Santi selama hampir genap satu purnama terakhir. Kadang-kadang ia merasa yang nyata adalah ilusi dan halusinasi, sementara dunia yang ia tinggali, yang ia hirup oksigennya ini, semu belaka. Suara-suara setan hingga malaikat, suara-suara Papa, Mama, dan Devi silih berganti menggedor pancaindra pendengarannya, menyusup hingga ke setiap neuron dan pada akhirnya otaknya berhenti berkonflik dan menyerah.

Kata orang, menjelang umur 17 tahun adalah usia terindah dan Santi sepenuhnya setuju. Hanya satu hal dalam hidup yang, kalau memang bisa, ingin ia ubah. Andai saja namanya Sinta seperti kakak kelasnya, Sinta Indrawati, yang selalu digodain berpasangan dengan Rama, idola SMAN 1, sekolah mereka. Tapi ia sudah menerima bahwa Rama dan Santi bukan Rama dan Sinta juga enak didengar dan ditulis. Ia tahu karena kerap menggoreskan nama mereka di kertas catatan tiap malam sembari mengingat bagaimana akhir-akhir ini Rama suka mencuri pandang dirinya dengan pandangannya yang teduh.

Sekilas melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 6 pagi, Santi terkesiap dan bangkit dari ranjang. Ia harus buru-buru kalau tidak ingin terlambat ke sekolah. Mendadak ia merasa dunia berputar dan ia harus menggapai meja belajar agar tidak jatuh. Sebentar! Yang ia raih adalah sebuah nakas putih yang asing. Ruangan ini juga asing dan bukan kamar tidurnya yang nyaman di rumah. Sayup-sayup bau disinfektan menyergap hidungnya yang terbiasa dengan bau aroma lavender yang biasa disukai mamanya di rumah.

Santi merasa kepanikan melanda dirinya sebelum teringat nasihat dokter Manda. Mulailah dari fakta sederhana. Nama saya Santi, saya akan berulang tahun ke-17 bulan Mei nanti. Saya anak sulung dari dua bersaudara. Saudara? Di mana Devi, adik balita kesayangannya? Di mana Papa? Mama? Ia menutup mata sejenak berharap saat membuka mata, Mama akan masuk ke kamarnya dan berkata dengan nada menggoda, “Sudah cukup bobonya putri tidur, Mama sudah siapkan sarapan!”
Tapi dalam lubuk hatinya yang terdalam ia tahu: Papa, Mama, dan Devi sudah tiada. Mereka tewas dalam kecelakaan tragis saat pulang dari Brastagi. Kenyataan itu menghantam Santi dan membuatnya susah bernapas. Keringat dingin mengucur deras di punggung dan dahinya. Jantungnya berdegup kencang tanpa mampu mengantarkan darah yang cukup ke seluruh tubuh. Santi menarik napas dalam-dalam mencoba melegakan impitan di dadanya yang terasa akan meremukkan rangka dadanya.

Mobil yang terguling dan terbakar membuat jasad orang-orang yang dikasihinya tampak mengenaskan. Terutama Devi, adik semata wayang yang dipinta Santi terus-menerus dengan segenap hati karena Mama dan Papa selalu berdalih cukup punya satu anak. Devi yang menunggu-nunggu kepulangan Santi setiap sore. Devi yang memohon agar Santi ikut ke Brastagi untuk wisata keluarga tapi Santi menolak karena harus mengerjakan tugas pada hari Minggu nahas itu. Sekarang ditambah rasa bersalah yang kuat benar-benar melumpuhkan dirinya. Santi bergelung seperti bayi di lantai, rambut dan bajunya basah kuyup. Air matanya yang menganak sungai pun tak mampu menghapus kenyataan pahit. Lebih pahit dari cairan empedu yang saat ini naik ke mulutnya.

Kata dokter Manda, ia bebas menangis, jauh lebih baik daripada disiksa suara-suara tak dikenal yang mengumpat dirinya sebagai anak dan kakak tak becus, suara yang memerintahkan dirinya untuk bunuh diri dan yang paling parah suara Devi yang minta tolong tak henti-hentinya. Satu kali Santi berusaha lompat dari lantai tiga rumah neneknya bukan karena halusinasi perintah, tapi lebih karena ia sudah tidak tega mendengar tangisan Devi, sementara ia tak berdaya menolongnya sama sekali.
Santi hanya samar-samar mengingat bagaimana ia ditahan oleh paman dan bibinya. Bagaimana ia dibawa ke rumah sakit jiwa ini dan bertemu dengan dokter Manda, seorang psikiater. Kata kasar dan umpatan yang ia lontarkan tak membuat dokter Manda berhenti berusaha untuknya.

Awalnya hanya menemani dalam kebisuan karena Santi menolak untuk bicara sampai akhirnya ia mau berbincang mengenai sekolah dan teman-teman, mengenai keluarga, mengenai musibah yang menimpa Papa, Mama, dan Devi. Terasa mudah bicara dengan dokter Manda. Tidak seperti nenek yang selalu histeris atau paman yang selalu memberi petuah. Penjelasan dokter Manda mengenai penyakit psikotik akut pelan-pelan diserap oleh nalarnya. Trauma mendalam yang membuatnya rentan terhadap kenaikan zat dopamin akan merangsang lobus-lobus otaknya untuk menghasilkan suara-suara halusinasi yang tidak nyata. Bagaimana ia harus mengadopsi mekanisme pertahanan psikologis diri yang lebih baik. Bagaimanapun dunia ini adalah dunia yang nyata dan jauh lebih baik daripada dunia penuh halusinasi dan waham bahwa adiknya belum meninggal. Sebuah diksi psikologis picisan awalnya, tapi sekarang Santi percaya sepenuh hati.

Pelan-pelan dengan konseling dan obat antipsikotik yang teratur ia minum membuat halusinasi jauh berkurang sampai akhirnya pupus. Sayangnya, obat tidak bisa membuat ia lupa akan perihnya rasa kehilangan.

Santi teringat ia sudah berjanji akan mencoba ke sekolah hari ini. Hanya beberapa jam sesuai dengan koordinasi dokter Manda dan pihak sekolah. Sejujurnya Santi sudah lelah berduka dan ingin melanjutkan kehidupannya. Bahkan beberapa hari terakhir ia mulai teringat pada pandangan teduh Rama. Ia juga rindu pada guru dan teman sekolahnya. Menurut dokter Manda, bersekolah juga akan mempercepat pemulihan penyakitnya. Dengan pemikiran tersebut, Santi berusaha menenangkan dirinya, mencuci muka dan berjalan ke ruang makan untuk sarapan.

“Santi! Sini buruan deh!” seru Dewita dengan suara kencang. Santi sudah cukup terbiasa dengan suara kencang Dewita yang lebih dahulu masuk ke Rumah Sakit Jiwa. Seakan-akan Dewita dikaruniai pita suara yang lebih besar ketimbang orang lain. Dewita sebaya dengan Santi. Mukanya manis dengan rambut diwarnai oranye dan saat ini dijepit sekenanya di atas leher. Sikapnya riang, tidak terlihat sakit sama sekali kalau saja orang tidak memperhatikan banyak goretan-goretan di pergelangan tangan kirinya. Dewita pengidap gangguan bipolar dan saat ini sudah dalam fase euthym yang artinya tidak lagi depresi maupun manik. Namun kadang-kadang ia masih bersikap impulsif dan tak terduga seperti kemarin memutuskan untuk memesan layanan Go-Food dengan jumlah membeludak dan membuat suster dan dokter jaga kewalahan hanya karena ia tidak suka sup ayam yang tersaji hari itu.

“San, kamu terkenal lho sekarang! Nih, lihat deh. Videomu sudah dilihat di atas 100 ribu kali!” Tidak mengerti yang dikatakan Dewita, Santi hanya bisa menatap ponsel di tangan Dewita. Matanya yang bulat membelalak tak percaya.

Santi melepaskan seragam dan menggantinya kembali dengan piyama. Tadi dia sudah memberi pesan pada suster Nur bahwa hari ini ia belum siap kembali ke sekolah karena pusing. Suster Nur hanya mengiyakan dan mengangsurkan tiga butir obat pagi. Setelah yakin Santi meneguknya, suster Nur mengizinkannya kembali ke kamar untuk istirahat. Mungkin karena melihat mukanya yang kuyu, suster Nur berusaha menghibur. “Gak apa-apa San, besok pasti sudah lebih segar dan bisa kembali ke sekolah.” Santi buru-buru membalikkan badan agar Suster Nur tidak melihat agoni di mukanya. Tidak mungkin besok dan tidak akan selamanya. Ia tidak punya ketegaran menghadapi siapa pun lagi. Tidak dengan adanya video tersebut.

Samar-samar ia ingat kejadian di video tersebut. Entah hari ke berapa setelah kejadian tersebut, waktu tidak berarti lagi baginya. Ia merasa bagaikan hewan yang dikerangkeng. Neneknya selalu mengunci pintu agar Santi tidak bisa keluar, padahal Santi ingin mencari Devi. Santi yakin Devi ada di sekitar rumah karena suaranya kerap terdengar. Suara Devi sedang tertawa, suara Devi bercanda dengan Mama, suara Devi yang lagi merajuk. Nenek menyuruh Santi mandi dan sesaat sebelum berpakaian Santi mendengar Devi berteriak keras memanggilnya. Sontak Santi berusaha keluar dari kamar mandi tapi pintu terkunci. Ia memanjat bak dan keluar dari jendela dan berlari ke jalan raya.

Devi sedang menangis kesakitan. Badannya merah penuh dengan lepuhan luka bakar yang terlihat menyeramkan. “Panas… panas Kak Santi, tolong siramkan air!” tangis Devi memelas hati. Santi buru-buru menyiramkan air bergayung-gayung ke badan adiknya yang melepuh itu. Ajaib sekali, setiap gayungan air itu membuat tangisan adiknya semakin lirih dan berhenti. Berangsur-angsur kulitnya membentuk keropeng hitam. “Sabunin Kak!” pinta Devi. Sesaat Santi ragu tapi Devi terus memohon. Dengan lembut, Santi menyabuni badan, kaki, dan tangan Devi. Ajaibnya, setiap sentuhan Santi membuat kulit mati Devi terlepas dan di bawahnya sudah terbentuk kulit halus dan tipis seperti bayi. Santi ingat bagaimana ia selalu membantu memandikan adiknya, mencium aroma harumnya. Sekarang juga ia bisa menyentuh kembali rambut, alis, muka adiknya yang bulat dan manis.

Orang-orang di sekelilingnya berseru dan tertawa, gawai-gawai yang merekam dirinya semuanya menjadi latar yang tidak penting bagaikan musik yang terlupakan di restoran yang ramai. Pelan ia bersenandung dengan suara jernih, lagu kesukaan Devi dan dirinya.

Dua butir air mata mengalir ke pipi Santi. Matahari pagi mulai merangkak naik dan memancarkan cahaya lembutnya ke muka Santi, tetapi sedikit pun ia tak merasakan rasa dingin dalam kalbunya itu berkurang. Ia membaringkan diri di dipan dan menutup mata. Obat-obat antipsikotik yang disembunyikannya di antara pipi dan gusi dikeluarkan satu per satu dan ia taruh di bawah bantal.

“Kamu salah dok, dunia nyata tidak lebih baik,” desahnya sambil menunggu terjangan dopamin di otak menyelamatkan martabat dirinya. ?
________________________________________
Elisa Tandiono, Psikiater di Jakarta.

Keterangan:
~Halusinasi perintah: Halusinasi pendengaran yang memerintahkan penderitanya untuk melakukan sesuatu. Sering kali perbuatan melukai diri sendiri ataupun orang lain timbul kalau penderita psikotik tak mampu menolak halusinasi perintah yang kuat.
~Psikotik akut: Suatu kondisi mental yang ditandai dengan halusinasi dengar atau visual dan perilaku aneh dan ketidakmampuan menilai realita yang berlangsung singkat dengan durasi antara satu hingga tiga puluh hari.
~Euthym: Mood yang dianggap normal di antara mood yang terlalu tinggi (gembira/bersemangat) dan mood yang terlalu rendah (depresi).
~
Gangguan bipolar: Suatu kondisi mental dengan perubahan mood yang ekstrem antara manik dan depresi.
~
Obat antipsikotik: Semua golongan obat yang bisa menurunkan atau menstabilkan jumlah dopamin di otak. Dopamin yang berlebihan saat ini diduga sebagai pemicu munculnya halusinasi dan waham pada pasien psikotik.


[1] Disalin dari karya Elisa Tandiono
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 23-24 Februari 2019.