Wajah Kelelawar

Karya . Dikliping tanggal 3 Maret 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
AKU akan bercerita tentang makhluk lain yang ada di tubuhku. Kau tahu kelelawar? Begitulah. Makhluk itu menyerupai kelelawar. Tapi ia tak bersayap. Ia berkaki dan bertangan dengan kuku panjang. Hanya kepalanya saja yang menyerupai kelelawar.
Entah mulai kapan ia hinggap dan kemudian menetap di dalam tubuhku. Aku hanya bisa menduga-duga saja. Mungkin ia masuk ketika aku sedang membaca surat cinta dari salah satu penggemarku? Atau mungkin ketika aku menghirup aroma bunga mawar merah kiriman? Entah. Aku tidka bisa memastikan.
Mulanya aku mengetahui ada jiwa lain dalam jiwaku ketika aku berkaca memuji ketampananku. Wajahku yang putih bersih dengan hidung mancung berubah menjadi wajah kelelawar. Tentu saja aku kaget setengah mati. Aku kira itu wajah orang di belakangku yang iku berkaca. Tapi di belakang tidak ada orang. Sekali lagi aku bercermin untuk memastikan bahwa tadi kesalahan mataku. Ternyata tidak. Wajahku terlihat mengerikan. Malah makhluk itu tersenyum. Aku mundur dan hampir terjatuh.
“Ada apa?” tanya tukang rias, tangannya menahan bahuku agar tak terjatuh.
“Wajahku.” Aku mendesis ketakutan.
“Ada apa dengan wajah tampanmu?” Suara tukang rias terdengar kemayu.
“Apakah wajahku terlihat mengerikan?”
Tukang rias mengernyitkan dahinya. Kedua bola matanya lincah bergerak mencari cela wajahku. “Tidak ada yang mengerikan.”
Aku mengusap wajahku dengan gemetar. Sungguh saat itu aku begitu ketakutan. Wajah adalah modal utamaku untuk mencari uang. Aku bisa menjadi aktor dan digandrungi banyak wanita karena ketampananku. Aku selalu merawat wajahku agar selalu terlihat bersih. Seandainya ada noda di wajah dan susah untuk dibersihkan itu sudah membuatku gusar.
Tiba-tiba aku menggigil. Rasanya seperti demam. Bayang-bayang ketakutan tentang hancurnya masa depan mulai menyergap. Kemiskinan dan kemurungan yang dulu pernah akrab denganku sepertinya mulai mengintip dan siap menikam lagi.
***
BEBERAPA hari aku mengurung di dalam rumah, mencoba menghimpun kekuatan. Selama mengasingkan diri aku masih takut berdiri di depan cermin.  Sebenarnya niat untuk bercermin memastikan bahwa wajahku tak berubah selalu muncul dalam benak. Tapi di rumah besar ini aku sendirian. Bagaimana jadinya jika aku bercermin dan yang terlihat di cermin adalah wajah kelelawar? Aku menjerit pun tak akan ada yang menolong. Bagaimana jika aku pingsan? Gawatnya lagi kalau aku terkena serangan jantung?
Aku hanya meringkuk di tempat tidur yang lega. Sudah berkali-kali teriakan panggilan HP dan telepon rumah aku abaikan.
Menit demi menit terasa begitu lama dan memuakkan. Aku sudah merindukan dunia gemerlap. Dunia penuh puji-puji.
Terdengar tawa panjang dan mengejek. Aku menghentikan napas sedetik. Mataku berkeliling mengitari ruangan kamar. Tak ada siapapun. Tawa itu terdengar lagi.
“Siapa?” tanyaku meringkuk ketakuutan.
“Aku ada di dalam tubuhmu.”
Dan kini aku merasa menjadi gila. Aku sedang tidak akting di depan kamera. Ini benar-benar situasi mengerikan. Pasti tawa itu adalah makhluk yang menghuni tubuhku.
“Kau ketakutan?” Padahal aku adalah kau.” Suara itu terdengar parau. “Aku adalah kembaranmu.”
Tempat tidurku ikut bergetar menyangga beban ketakutanku. “Bagaimana mungkin?” tanyaku dengan suara dipenuhi kepanikan.
“Mungkin sekali. Kau pikir, kau bisa akting menjadi orang gila karena kepintaranmu? Kau bisa akting menjadi orang paling jahat karena bakatmu? Bukan. Akulah yang melakukan. Akulah yang mempermainkan hati dan otakmu.”
Karena ketakutan yang amat mendera jiwaku, rasa ingin muntah segera menyeruak. Cepat aku beranjak dan segera lari ke kamar mandi. Smeua isi perut aku tumpahkan ke wastafel. Tak sengaja aku melihat  wajahku di cermin. Astaga! Makhluk itu terlihat tertawa terkekeh. Aku pun segera kembali ke tempat tidur. Meringkuk kembali.
Tawa itu terdengar lagi. Kali ini lebih panjang. “Kau takut melihat wajahmu sendiri?”
“Itu bukan wajahku.”
“Hahaha…. Kau selalu menyombongkan wajahmu, seolah wajahmu paling elok di seluruh jagat ini. Padahal kau adalah hina seperti diriku.”
Seperti lonceng kematian. Aku sudah berdiri di pinggir jurang kehancuran. Aku merasa karier keaktoranku akan berakhir karena makhluk sialan itu. Sekuat tenaga aku menghipnotis diri bahwa makhluk itu hanya mimpi, hanya ilusi. Dan ternyata tangan makhluk itu berpegangan erta pada jiwaku.
“Sekuat tenaga kau ingin melenyapkan aku dari tubuhmu, sekuat tenaga pula aku menggenggam kamu.”
Aku harus keluar dari situasi yang menggila ini. Jika tidak aku bisa mati sendirian di kamar ini. Maka aku meraih HP di sampingku dan menghubungi teman akrabku agar menemaniku mengusir rasa ketakutan.
***
SELAMA lima hari teman akrabku menemaniku. Ia juga mengajakku pergi ke dokter jiwa. 
“Mungkin saudara mengalami rasa capek yang amat sehingga menimbulkan efek-efek suara yang bisa saudara dengar. Saudara harus istirahat total,” kata dokter.
Aku mengamini nasihat dokter. Ya, ada benarnya apa yang dikatakan dokter itu. Aku memang sangat lelah. Demi mengejar pundi-pundi semua kontrak yang disodorkan produser aku sanggupi.
“Gila kamu, semua kontrak kamu terima?” tanya teman akrabku sebelum wajah kelelawar menempel wajahku.
“Ini kesempatan emas. Mumpung aku masih jaya, aku harus banyak-banyak mencari uang,” jawabku.
“Tapi ingat tubuhmu. Tenaga dan pikiran manusia itu ada batasnya.”
Aku hanya tersenyum. Pikiranku waktu itu aku tak mau mengalami masa tua yang buruk, sakit-sakitan, keluar masuk rumah sakit, hidup dari belas kasihan. Untuk itu aku harus banyak mengumpulkan harta. Setelah harta terkumpul aku akan berhenti menjadi artis dan aku akan buka usaha. Tapi manusia diciptakan untuk tak pernah merasa puas. Selalu saja aku merasa kekurangan.
Dalam lima hari yang telah kulalui, tidurku cukup pulas. Mungkin dokter itu telah memberi aku obat tidur. Suara di tubuhku juga tidak aku dengar lagi. Tapi aku masih belum berani bercermin.
Kini aku merasa kesehatanku sudah pulih. Dan besuk sudah aku niatkan untuk bekerja kembali. Perasaan bahagia mulai merambati tubuhku.
Aku rebahkan tubuh. Besuk aku mebali akan memamerkan ketampananku. Lima hari mengiring diri rasanya bertahun menimang duka.
“Sssst.”
Sepertinya ada yang memanggilku.
“Kau lupa aku?”
Pikiranku langsung etrtuju pada makhluk itu. Oh tidak! Ternyata ia masih setia menyakitiku. Kembali aku menggigil. Kembali jantungku berdegup kencang.
“Ingat, aku adalah kembaranmu.”
Hancur sudah rencana yang telah aku niatkan. Apa yang dikatakan dokter itu salah. Suara dan wajah kelelawar itu bukan ilusi. Ia benar-benar ada di dalam tubuhku.
Lonceng kematian kembali terdengar. Aku gila. Benar-benar gila. Kelihatannya aku harus lebih lama mengurung diri di dalam kamar. Entah sampai kapan aku akan muncul kembali memamerkan ketampananku. Atau barangkali aku tak akan muncul kembali dan berakhir di tiang gantung?(k) []

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Basuki Fitrianto
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 1 Maret 2015