Wakyat

Karya . Dikliping tanggal 30 April 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas

Bu Amat tiba-tiba menodong suaminya.

“Sejatinya Wakyat itu siapa, Pak?”

Amat tertegun. Berpikir, lalu menggeleng.

“Bapak tidak tahu.”

“Ah, masak tidak? Kita kan yang memilihnya?”

“Memilih? Memilih siapa?”

“Wakyat.”

“Siapa dia?”

“Pilihan kita, kan!”

“Kita siapa?”

“Kita yang memilih!”

“Kita ini?”

“Ya dan tidak.”

Amat ketawa.

“Ibu ini dulu kan guru bahasa indonesia, sekarang kok bahasanya mundur sekali! Ngomongnya yang bener dong! Jangan seperti orang bingung. Ya, ya, ya! Tidak, ya, tidak. Tidak bisa ya dan tidak.”

Bu Amat tersenyum.

Amat berdiri mau cari angin di teras.

“Tunggu dulu, Bapak belum menjawab itu karena tidak tahu atau setuju?”

“Ya dan tidak!”

Bu Amat cemberut. Amat ketawa besar lalu ke teras. Tapi belum sempat duduk, pikirannya seperti menyengat. Ia cepat kembali masuk.

“O, maksud Ibu….”

Tapi Bu Amat sudah ngeloyor ke dapur. Amat jadi penasaran. Ia sekarang ingat sama Pak Wakyat.

Orang itu sempat dipilih oleh pengurus lingkungan untuk mengaspal ulang jalan di seluruh kompleks yang rusak tergerus hujan. Soalnya, proposal penawarannya yang terbilang paling murah.

Hanya saja ia memberi persyaratan. Sebelum jalanan diaspal, selokan air harus diperbaiki.

“Sebab kalau selokan rusak seperti sekarang ini, perbaikan jalan tidak ada gunanya,” katanya tegas waktu itu, “Biar kata dibeton sekali pun, kalau hujannya gila seperti sekarang ini, sekali byur saja, pasti banjir lagi, banjir lagi sampai satu bulan. Karena airnya tidak tahu harus pergi kemana! Jalan yang baru diaspal pasti hancur lagi. Nanti kami yang merenovasi kena getahnya. Dianggap korupsilah atau kurang profesional! Ya, enggak?”

Warga menganggap alasan itu masuk akal. Tapi siapa yang paling tepat memperbaiki selokan?

“Terserah,” kata Wakyat, “asal orangnya punya track record bener-bener dan bukan cuma mahal tapi kerjanya betul! Soalnya untuk apa murah tapi sebentar-sebentar jebol, jatuhnya bisa 2 kali lipat mahal. Mending mahal sekalian, hasilnya bisa diwariskan ke anak cucu. Tapi ini hanya sekadar masukan dari orang lapangan. Keputusan 100 persen di tangan owner, bapak-bapak warga di sini. Ya, enggak?”

Warga manggut-manggut menyimak. Wakyat lantas mendesak.

“Tapi karena ini jelas akan langsung menyangkut keselamatan proyek jalan, menyangkut langsung kredibilitas kami sebagai pelaksana proyek, mohon ada jaminan jangan sampai pekerjaan kami terganggu karena proyek saluran air got tidak beres. Karena itu kami ingatkan, ramalan cuaca sekarang sudah bingung karena perubahan cuaca yang ekstrim. Kita tidak tahu kapan hujan akan turun. Kelihatan terang, tahu-tahu mendadak hujan besar menggempur kita habis! Ya, enggak?! Ya kami blak-blakan saja bicara pahitnya, sebelum nasi keburu jadi bubur! Ya, enggak!”

Pengurus kompleks terpaksa rapat lagi. Akhirnya dengan suara bulat memutuskan: perbaikan selokan juga dipercayakan pada Wakyat sendiri.

“Wah kami kok jadi seperti telor di ujung tanduk. Kami terus terang bilang, kunci perbaikan jalan ini bukan terletak pada renovasi jalannya, bukan, Pak. Tapi pada penyebab yang merongrong jalan rusak. Ya got-got brengsek itu. Konsentrasikan alokasikan dana harus diprioritaskan ke situ dulu! Karena biayanya memang sangat, sangat mahal! Tapi itu bukan dimaksudkan agar proyek itu diserahkan ke kami! Bukan! Sama sekali bukan! Tapi kalau memang begitu keputusannya, ya apa boleh buat. Oke, oke saja. Sebagai profesional saya bersedia. Tapi dengan satu syarat mutlak. Kekuatannya harus sesuai dengan tuntutan kami, kami yang akan merenovasi jalan! Karena sekali lagi, itu akan langsung menyangkut keselamatan proyek renovasi jalan! Ya, enggak?”

Semua membenarkan. Lalu Wakyat mengulurkan sebuah proposal yang nampak sudah dipersiapkannya dengan rapi. Di proposal itu diuraikan dengan teliti bagaimana air akan digiring keluar hunian begitu jatuh ke tanah. Sangat profesional, tetapi biayanya juga tak terbayangkan.

Dua bulan warga dan pengurus lingkungan membahas proposal got dari Wakyat itu. Mula-mula hampir semua menentang hingga nyaris ditolak. Karena itu terasa terlalu pesimistik, ketakutan dan didramatisir.

Tapi tiba-tiba seorang warga vokal sekali membela sampai menggebrak meja.

“Kita sekarang sudah memasuki era kota metropolitan dengan berbagai problem milenial! Waktu dan berbagai perubahan terjadi sangat cepat di kampung, apa yang terjadi 50 tahun lalu sekarang masih sama. Tapi di era milenial besok itu bukan 24 jam yang akan datang tapi keadaan yang dulu 5 tahun baru datang, sekarang, besok begitu kita bangun tidur, sudah di sebelah kita. Nah! Kalau kita lalai, telat tidak cepat tanggap kita akan mati konyol, dilalap perubahan zaman! Kita akan tenggelam hidup-hidup! Karena itu jangan berhitung dengan uang yang bisa kita cari setiap hari. Berhitunglah dengan nyawa yang hanya satu kita punya. Jangan sayangi duit, sayangi nyawa! Berapa pun biayanya kalau menyangkut nyawa, ikhlaskan! Duit bisa dicari tapi nyawa?”

Warga itu tak sanggup melanjutkan. Tubuhnya gemetar. Ia menangis lalu pingsan. Semua jadi syok. Sejak itu skors mulai bergeser. Dan pada bulan ketiga, proposal Wakyat, baik mengenai renovasi jalan maupun pembangunan got di-acc.

Tapi Wakyat menghilang. Sementara langit mulai cenderung muram-muram seakan memberi isyarat akan curah hujan gila.

Warga cemas. Pengurus lingkungan terpaksa rapat lagi. Keluar gagasan untuk mencari pemborong baru. Ide awal dihidupkan. Lupakan got, jalan diprioritaskan jangan sampai keburu dijegal hujan. Tender pun dibuka, beberapa pemborong berebutan mau mencaplok. Terjadi perebutan untuk memilih yang terbaik.

Tetapi warga yang dulu sempat dicurigai sebagai sekutu di bawah selimut, kembali mempertahankan Wakyat.

“Inilah akibatnya kalau demokrasi itu dijadikan hobi. Berunding lagi berunding lagi sampai mati! Bikin keputusan untuk arsip sudah kerja, padahal tidak ada karya. Apa gunanya dulu berunding berbulan-bulan, meniru DPR ya! Cari Pak Wakyat. Dia orang profesional, pasti tidak mau menunggu kita selesai pidato! Dia ada di proyek! Saya ada WA-nya! Jangan tunggu banjir merendam permukiman kita! Aduh, apa saya perlu nangis lagi?”

Tapi dia sudah menangis. Dan hampir saja pingsan. Untung rapat memutuskan membatalkan tender. Dan memanggil kembali Wakyat!

“Oke, oke empati kami sepenuhnya untuk warga di sini,” kata Wakyat dalam rapat bersama warga pengurus lingkungan.

“Kita sudah ada histori. Tetapi sayang waktu tidak mau menunggu. Sebagai profesional kami tidak bisa melawan kewajiban. Sekarang kami sedang terikat proyek dengan investor asing. Tapi sebagai profesional yang kreatif, kita masih bisa memungkinkan yang tak mungkin. Hanya itu perlu biaya. Kalau kami bisa mengontrak orang untuk mengawasi proyek di situ, kami bisa kembali kepada kesepakatan kita dulu. Kami akan lakukan dengan cepat. Nah sekarang solusinya tinggal, cepat turunkan dananya, besok juga kita bisa mulai. Tapi kalau masih menunggu hasil rapat, maaf, sorry, kami tak sanggup. Jam 20.00 kami take off. Ini nomor rekening kami.”

Wakyat menyerahkan nomor rekening, lalu bersalam-salaman. Setelah itu pergi, takut dijegal kemacetan rush hour orang pulang kerja. Pengurus hunian masih perlu rapat kilat. Tapi kemudian membuka kas dan mengirim dana sejumlah yang tertulis di bawah nomor rekening yang diberikan Wakyat.

Itulah yang kemudian membuat nama Wakyat melangit, jadi sangat populer. Ia jadi “man of the year”, karena sejak itu menghilang, entah ke mana. Warga yang suka nangis dan pingsan itu pun ikut kabur.

Begitu memalukannya lakon penipuan yang canggih, dramatis, tertata rapih, lucu dan mengobarkan marah itu, sehingga seluruh warga berusaha melupakannya. Karena setiap teringat, semua orang jadi merasa dirinya begitu konyol.

Amat pernah diam-diam minta Ami menelusuri di dunia maya, siapa itu Wakyat. Soalnya kasus sejenis beberapa kali terjadi di banyak tempat. Dan reaksi masyarakat hampir sama. Karena malu, mereka mencoba mengalihkan dengan melupakannya. Kasus itu jadi tenggelam.

Jadi kalau Bu Amat mencoba mengorek lagi, “Berarti malu kita sudah mulai hampir kikis. Sekarang kita berangsur sembuh dan harus mengusut peristiwa kriminal itu tuntas! Kita harus potong mati. Kalau tidak, percuma kita mengaku negara hukum! Percuma! Kebangkitan memang biasa dimulai dari kaum perempuan,” bisik Amat dalam hati. “Malu itu konyol, kita harus bertindak sekarang!”

Amat bergegas menyusul istrinya ke dapur.

“Bu! Bapak baru sadar, baru mengerti sekarang!”

Bu Amat menjawab acuh tak acuh.

“Sadar apa? Bapak kok semangat sekali!”

“Habis bagaimana tidak, kaum perempuan selalu jadi pelopor kebangkitan!”

Bu Amat melengos sinis.

“Kalau sudah memuji pasti ada maunya. Bilang saja mau apa. Tapi kan semalam sudah?!”

“Bukan! Ini soal Pak Wakyat! Menurut Ami modus itu adalah…”

“Sudah tahu! Wak Kiat itu sudah ditangkap!”

Amat terkejut.

“Lho sudah ditangkap?”

“Sudah! Bapak selalu ketinggalan!”

“Kapan?”

“Bulan lalu!”

“Siapa bilang?”

“Ami. Anakmu, Pak! Di koran juga ada!”

Amat bengong.

“Lho, kalau sudah tahu. Ibu kok tadi nanya?”

“Habis. Wakyat itu kan sejatinya wakil rakyat, wakil seluruh rakyat! Tapi kenapa prakteknya hanya wakil partai, wakil kelompok yang kurang peduli nasib rakyat keseluruhannya?!”

Amat terpukau.


Putu Wijaya lahir di Puri Anom, Tabanan, Bali. Putra ketiga (bungsu) dari pasangan I Gusti Ngurah Raka dan Mekel Erwati. Setelah tamat dari SMAN Singaraja dan Fakultas Hukum UGM, pindah ke Jakarta. Pernah menjadi wartawan Tempo, Zaman, dan Warisan Indonesia. Mendirikan Teater Mandiri, menyutradarai film dan sinetron, serta menulis cerpen, esai, novel, dan lakon.

Muhammad Hafiz Asyraf lahir di Kota Bogor, 13 Desember 1995. Menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung Fakultas FSRD Jurusan Desain Interior, lulus pada tahun 2019. Kerap kali mengikuti sayembara ilustrasi dan juga ilustrator freelance. Kini aktif dalam kegiatan mural di Bandung dan Kota Bogor | “Kompas

Wakyat
4.8 (95%) | 8 Pembaca

Keterangan

[1] "Wakyat" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Koran Kompas ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 28 April 2019