Wara Surendra – Sebelum Hari Depan

Karya . Dikliping tanggal 3 April 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Wara Surendra 

Rautnya sedih namun memikat
Luruh mengendap seperti santan
Cerdas juga santun

Sinom di kening lebat
Rambut gelombang, leher jenjang
Dada bidang

Bersama ibu, Wara Surendra memetik
Jambu dersana, manggis, kepel, kokosan
Rambutan, duwet putih, delima
Jeruk keprok, salak medhi, mangga sengir

Wara Surendra memasak sayur bening
Sambal jagung sayur menir, pecel
Ayam panggang, lalap cambah-telasih
Ayam betutu, ikan gabus gepuk
Sambal brambang lalapan seledri
Bawang sunti dan mentimun
Wara Surendra membikin wedang kawa
Gula tebu, kue putu, kue bikang
Mendut, koci, semar mendem
Dibungkus telur dadar disiram
Santan kanil

Wara Surendra membikin sambal goreng
Kering, udang dan hati ayam
Rambak kulit ayam berbumbu petis
Nasi lembek dan akas, nasi liwet
Ayam jago

Wara Surendra membikin wedang
Daun belimbing wuluh, keripik ketela
Keripik linjik, pisang goreng, karak

Malam di pendapa Ki Darmajati
Cahaya damar gemerlapan menimpa
Dinding dan tiang jati

Semua hidangan telah disuguh dari
Lentik perempuan berhati teguh
Perempuan yang tekun dan cekatan
Terampil menyiapkan ratus, bedak
Param, tapel pupur wilis, konyoh
Meracik jejamuran, mengetahui segala
Rempah-pawah, obat daun yang
Berkasiat.
Pandai pula menenun
Memintal benang, menyulam, menyongket
Merangkai bunga, menjahit, mencelupkan
Ke soga, mewarnai kain batik, mematut
Matut isi rumah

Hingga pada waktunya, tamu rupawan
Yang bercahaya undur diri dan
Berpesan pada Wara Surendra
“Rara, kudoakan Kepada Allah
Segeralah menikah, mendapatkan
Jodoh yang tepat, yang tulus
Berbudi keturunan mulia.“

Cahaya damar tetap berpendar sampai
Subuh. Sang tamu undur mengulum senyum

Magelang, 2015 


Sebelum Hari Depan 

Begitu kerajaan direbut lawan
Dan tanah rata dibakar, tak ada ingin
Menyerah kecuali lari
Bukan sebagai tawanan

Kakangsulung telah pergi ke entah

Bersama Jayengsari, ia mengumpulkan
Benda-benda di sebuah wadah

Boneka pengantin, tempat tidur dan rana
Wingko, uang dari pecahan genting

Cowek, wajan, anglo, keren, kendil, kuali
Irus, erok-erokan, solet wilah susuk cilik,
Bagor cilik isi beras*

Tenong kecil isi bumbu, pecahan batu bata
Kembang jambu, ampas kelapa, parutan
Kunir, injet, angus wajan

Ada yang sempat dipikirkan di hari depan
Tentang dapur seisinya, bumbu rempah
Dan kehangatan disela pelarian
Atas kekalahan demi kekalahan


Magelang, 2015 


*tukilan Maskumambang, serat Centhini





Hasta Indriyana, lahir di Gunungkidul, 31 Januari 1977. Buku pertamanya Tuhan, Aku Lupa Menulis Sajak Cinta (2003). Buku puisi terakhir terbit pada 2014, Piknik yang Menyenangkan, dipilih dalam lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa (2014).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hasta Indriyana
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi Minggu, 3 April 2016