Warisan dari Kakek

Karya . Dikliping tanggal 24 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

MASIH terngiang dengan jelas di telingaku tentang dongengan kakek dahulu, sewaktu aku hendak tidur dan berangkat sekolah. Dongengan itu selalu diucapkan kakek dan aku selalu antusias mendengarnya. Katanya ini semua adalah milik kita, kepunyaan kita, warisan dari zaman kakek dan peninggalan kramat dari para leluhur untuk zaman kamu dan cucu kakek di masa depan.

LIHAT banyak orang menaruh harapan pada ladang yang tak lebih luas dari rumah kita, lihat pula pepohonan yang berbaris rapikala beribadah kepada sang pencipta dan itu lihat di pu­ cuk ranting pohon beringin itu terdapat sarang pohon pipityang sengaja dibuat olehnya karena merasa nyaman dan aman tinggal di situ.”

Waktu itu aku berusia 3 sampai 4 tahun. Tampak asik dongengan kakek dan aku beruntung sekali dilahirkan di daerah ini. Alam yang lndah, sejuk, nyaman, aman serasa hidup di surga. Waiau belum pemah ke surga tetapiaku pemah mendengar gambaran tentang surga dari cerita nenek­ku. Katanya di surga itu segalanya ada, ka­mu ingin meminta apa pasti tersedia di sana. Tak ada ketimpangan di sana. Semua manusia sejahtera, makmur,dan bahagia.

Belum aku lupa ketika nenek bercerita itu.Waktu itu ketika aku sedang menangis karena meminta dibelikan bakso oleh ayah, tetapi tidak dibelikan. Alhasilaku lari dan mengadu ke nenek. “Nek, Nek Ayah jahat, Ayah tak mau membelikan aku bakso. Aku ingin bakso itu, Nek.” Sembari menunjuk­ nunjuk ke arah orang penjual bakso terse­but.

Kemudian nenek langsung mengambil aku dan mendekapkan lalu mencium  pipiku, “Sudah-sudah sini Cu, Nenek ada cerita untukmu. Kamu menangis karena tidak dibelikan bakso oleh ayahmu. Kamu tidak usah menangis ayahmu mungkin sedang tidak ada uang,dia sedang memiliki cita-cita Cu. Ayahmu itu ingin membangun sebuah rumah di surga kelak. Di sana se­mua yang kamu inginkan pasti ada, semua itu dapat kamu pastikan. Dan di sana pula terdapat sungai-sungai yang mengalir berbagai jenis air,ada sungai yang berisi air jernih, ada yang berisi susu, ada yang berisi madu, dan lain-lain. Jadi kamu tidak usah menangis kamu bantu ayahmu itu ya, Cu.”

Yeah..yeaah betapa senangnya aku mendengar cerita dari nenek. Aku keluar dari dekapan nenek lalu berkata “Yang be­ nar itu, Nek ?” lalu nenek menjawab “lya benar, Cu”. Yeah semoga ayah dapat segera membangun rumah di surga. Bukan main senangnya aku menaiki kursi,meja, dan berlompatan di atasnya.

Masa itu akan selalu aku kenang dan tak akan pernah aku lupakan sepanjang hidup­ku. Dongeng yang aku dengar dan begitu pula dengan cerita yang diucapkan oleh nenekku itu adalah stimulus bagi diriku yang dulu tidak aku sadari. Mungkin kare­na umurku yang masih terlalu kecil.

Mengapa tidak semua yang didon­gengkan kala itu oleh kakek benar adanya tanah kelahiranku adalah tanah yang begi­ tu indah, sawah terbentang luas hidup nya­ man dan aman tidak ada pertikaian antara suku dan ras.

Semua itu berkat penjagaan dan per­awatan dari nenek moyang,kakekku, dan ibuku. Dan kini tinggallah giliran aku mera­wat dan menjaga semua ini. Sekarang ting­gal giliran zamanku. Semua bergantung kepada manusia-manusia pada saat ini. Na­sib alam ada pada tangan mereka.

Harl ini tepat hari pertama aku masuk kuliah. Aku mengambil jurusan hukum di universitas swasta di kota kelahiranku ini. Aku sengaja memilih jurusan hukum kare­na aku hendak mempelajari tentang per­ aturan-peraturan yang terdapat di dalam negara ini dan terkhusus di kota kelahiran­ku.Agar aku dapat menjaga warisan yang telah diberikan oleh nenek moyangku dan dirawat dengan sangat baik oleh manusia­ manusia pada zaman kakekku.Aku tidak ingin manusia-manusia yang hidup seka­rang merusak semuanya. Merusak ke­indahan, keunikan, tradisi,dan budaya. Aku tidak ingin semua itu hilang dari tanah ke­lahiranku.

ltu cita-citaku saat ini.Aku akan perta­ hankan cita-citaku itu dalam hati dan akan aku implementasikan dalam kehidupanku sesuai dengan cerita nenek dulu. Saat kita sekeluarga sedang bersantai dan bercengkrama di beranda. lbu berkata padaku, “Nak, jika kamu sudah besar kamu hendak menjadi apa?. Dengan seketika aku menjawab,”Aku ingin menjaga tanah ke­lahiranku.Aku ingin menjadi superhero di tanah kelahiranku.”

Kemudian, nenek berkata saat itu “Cita­ citamu sungguh mulia Cu, semoga kamu tetap istikamah pada cita-citamu. Kamu tanamkan cita-citamu dalam hati dan piki­ranmu lalu kamu terapkan dalam perilaku kamu setiap hari ya, Cu.”

Pagi sudah tak terasa sudah beranjaksiang dan sebentar lagi pukul 11.00 mata kuliah perdanaku akan segera dimulai. Aku sudah tidak sabar untuk pergi ke kampus dan menerima pengetahuan yang diberi­kan oleh bapak dan ibu dosen di kampus. Aku tidak boleh datang terlambat. Aku harus tepat waktu agar tidak terlambat.

Aku pergi ke kampus dengan menggu­nakan angkutan kota. Untuk menaiki angkutan kota itu aku harus berjalan kaki dengan jarak 600 meter rumah ke jalan raya dimana angkutan kota itu melintas. Dalam perjalananku dari rumah menuju kejalan raya aku disuguhkan oleh lukisan sungai yang memiliki jurang begitu indah. Namun, sayang di tepi sungai aku melihat banyak sekali sampah berserakan yang membuat tidak enak dipandang.

Siapa yang sudah tega melakukan ini kepada sungai? Apa mereka yang mem­ buang sampah itu tidak berpikir bahwa air yang mengalir itu adalah sumber kehidupan untuknya.Sungaibukan tempat pembuangan sampah, limbah atau se­ jenisnya. Sampah adalah ekosistem sungai perlu di rawat.

“Sial,tidak punya perasaan mereka yang membuang sampah di sungai itu. Mereka tidak memiliki hati nurani,pikiran bagaimana nasib anak dan cucu mereka pada masa depan jika sungai seperti ini,” gumamku dalam hati.

Tidak hanya itu, akujuga melihat ada seseorang yang hendak membakar sebuah topeng di pelataran rumahnya. Aku amati baik-baik topeng itu.”Hmm ternyata topeng itu topeng kelana.” Langsung aku dekati orang itu. Lalu berteriak dan berkata sembari memegang tangannya, “Jangan Pak, jangan bakar topeng ini.Sini biar saya belitopeng inijika bapak sudah tidak menghendakinya lagi. Biar saya simpan dan saya rawat topeng ini.”

Orang itu melamun tidak menjawab perkataanku dan aku masih memegang tangannya untuk menahan topeng itu agar tidak dibakarnya. “Pak…Pak…Bapaaak. Ba­pak kenapa?” tanyaku.Orang itu tersadar dari lamunannya dan langsung berkata dengan nada amarah.”Siapa kamu! Berani­ beraninya menghalangi aku. Kamu tidak tahu tentang topeng ini. Topeng ini telah mencelakakan anakku.Topeng ini harus dibakar agar tidak ada lagi anakku yang meninggal karenanya.”

“Astagfirullah Pak, sadar. Sadar, Pak. Se­mua ini tidak ada hubungannya dengan topeng ini. Kematian, jodoh, dan rezeki su­ dah ditentukan oleh Allah kita manusia hanya menjalankan hidup dengan sebaik­ baiknya. Menjaga yang sudah ada di dalam kehidupan kita. baik itu anak, istri, kebuda­yaan, ilmu, dan lain-lain kita wajib menja­ ganya itu hukumnya wajib pak. Jika bapak membakar topeng itu bapak sama saja su­ dah menghilangkan satu kebudayaan yang sudah kita punya. Bapak sudah merusak­ nya dan itu tidak baik, Pak. Sini biar topeng ini saya belisaja, Pak. Berapa nominal uang yang harus saya berikan pada Bapak?”

Orang itu melamun kembali dengan ta­ tapan kosong. Tampaknya dia memiliki trauma yang sangat mendalam tentang anaknya. “Pak…Pak..berapa nominal yang harus saya keluarkan pak?”

“Astagfirullah, aku hanya tidak ingin anakku yang lain menjadi korban lagi. Andai saja waktu itu dia mendengarkan perkataanku tidak menari tari topeng ter­ lebih dahulu sebab saya sudah memiliki fi­rasat tidak enak padanya dan akhirnya be­ nar saja anakku itu terjadi apa-apa. la tertembak peluru pada bagian dada karena terkena peluru dari pemburu burung yang hendak menembak burung perkutut. Dan saya tidak memiliki pikiran sama sekali bahwa saya hendak merusak dan menghi­langkan kebudayaan saya hanya ingin menghapus kenangan buruk itu. Baik, Nak. Silakan ambil topeng ini,kamu tidak usah membayamya.” Orang itu menyodorkan topeng itu kepadaku dan aku mengambil­ nya dengan berucap,’Terima kasih banyak, Pak.”

Baru saja saya beranjak keluar dari ru­mah hendak melangkah ke kampus untuk belajar namun banyak sekalihal-hal yang aku temui. lni membuat aku semakin ingin belajar mengenai hukum agar aku dapat mengingatkan mereka tentang apa yang mereka lakukan itu tidak sesuai dengan peraturan dan norma masyarakat. Semoga aku bisa mewujudkan itu semua dan mem­ buat tanah kelahiran tetap asri dan sem­boyan gemah ripah lohjinawi itu benar-benar terjadi.Tidak hanya berupa kata-kata tanpa makna. “**

 

[1] Disalin dari karya Miftah Amarudin
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 22 Juli 2018