Weisku

Karya . Dikliping tanggal 17 April 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

1.

ia membayangkan ‘weisku tengah membelah
bambu
untuk memagari bunga di sekitar rumahnya
jemari tangannya begitu kuat seperti juga hatinya
sesekali bulir keringat jatuh membasahi kelopak
bunga
diam-diam ia jatuh cinta pada ‘weisku
jatuh cinta pada kelopak bunga-bunganya
yang semerbak sepanjang masa
ia terpana, o— ‘weisku!

2.

hujan ‘weisku hujan yang menderu di tengah
jalanan macet
desah ‘weisku desah laut yang jauh berkarang-
karang runcing
rumah ‘weisku rumah bertaman anggrek dan beratap cahaya
peluk ‘weisku peluk gemetar di awal pertemuan di
ujung perpisahan
puisi ‘weisku puisi yang bartahun-tahun tak kaupahami
maut ‘weisku maut yang menyinta sorot mata
kasih
o, ‘weisku, luka yang menyala di tubuhku!

3.

ranjang ‘weisku ranjang yang baru di kamar biru
buat tempat tidur tuan penyair
rendang ‘weisku rendang daging sapi yang empuk
untuk makan siang dan malam tuan penyair
celana ‘weisku celana jeans yang belel
dipakai sehari-hari oleh tuan penyair
bibir ‘weisku bibir merekah indah tersenyum
pada tuan penyair yang menatapnya tajam
bandara ‘weisku bandara tempat menjemput dan
mengantar
kedatangan dan kepergian tuan penyair
batu-rindu ‘weisku batu-rindu mengeras sepanjang
waktu
menghimpit tubuh tuan penyair
waktu ‘weisku waktu memecah cahaya langit
cahaya bumi
cahaya laut cahaya karang cahaya embun tuan
penyair
o lilitan tali ‘weisku di leher tuan penyair

4.

malam ‘weisku malam memanjang dari selat ke
bukit
dengan mata redup dan hati gelisah
cinta ‘weisku cinta sederhana namun tak mudah
serupa daun pintu yang belasan tahun tertutup
rapat
langkah ‘weisku langkah yang cepat dalam gerimis
dalam perburuan dari mal ke hotel untuk menulis
puisi
perburuan ‘weisku perburuan puisi dari laut ke laut
laut ‘weisku laut kasihku!

5.

ia seperti kebanyakan orang menyangka ‘weisku
angkuh
pendiam dan cenderung menutup diri
ia seperti kebanyakan orang tidak tahu kalau
‘weisku cerdas
pemurah, baik hati pada semua orang
dan dua hal yang sangat mengagumkan akan
‘weisku adalah
akan memperjuangkan cintanya mati-matian
dan tidak mau akan belas kasihan orang lain
‘weisku gigih tapi kadang suka pemarah dan mu
dah tersinggung, ou!

6.

‘weisku selalu takjub pada sinar matahari pagi
yang menyelusup ke ruang kamar lewat jendela
yang baru saja dibukanya
: hangat kenangan dan denyar rindu pun
mengkristal!

7.

seperti banyak orang, ‘weisku juga pernah
mengalami kesedihan yang mendalam
pernah sangat terhinakan dalam hidupnya
pernah sangat kehilangan orang yang dikasihinya
pernah juga merasa sangat sunyi bahkan seperti
tidak berarti
tetapi seperti yang pernah dialami banyak orang
‘weisku tentu harus sabar
harus introspeksi dan berkaca di air bening
harus realistis dan mau mengalah
dan yang paling penting adalah berdoa
serta berserah diri pada
Allah
‘weisku, astaghfirullah!
Cirebah, 30 Maret-4 April 2016
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Eddy Pranata PNP
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” edisi Minggu 17 April 2016
Beri Nilai-Bintang!