Wuru di Kebun Teh – Mesin Jahit

Karya . Dikliping tanggal 1 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Wuru di Kebun Teh

/I/
Sayang, kita telah bersepakat tentang undak-turun seterjal apa pun
pada setiap jalan menuju tuju adalah pertanyaan yang tidak perlu dijawab
meski puji-nyinyir kerap keluar dari mulut bau bacin kita bergantian

/II/
Di puncak kebun teh, kita adalah kegelisahan yang tak kunjung selesai
di depan hamparan hijaunya daun teh, pasang mata kita putar beradu
dan dadaku tertusuk punggung bibirmu yang berubah runcing dan beraroma melati
: kita menyatu, meleburkan dahaga hingga wuru

/III/
Di antara tanaman asli yang dipinggirkan, akar pohon teh berhasil beradaptasi
menjulur di tanah lempung, demi ibu di seberang yang semakin limbung
kita tak usah bertanya, lebih agung mana teh atau kopi
apalagi menanyakan lebih nyata mana: prosa atau puisi

/IV/
Sayang, kita telah bersepakat tidak memperdebatkan
mana minuman dari tumbuhan hulu atau hilir
siapa yang menetap lebih dulu atau hanya numpang lahir
: musabab kita semua pendatang sebelum jadi pribumi
sebelumnya berjuang lalu saling memonopoli

2018

Mesin Jahit

Mesin penyulam itu tak lelah berbunyi
diputar puli digerakkan kaki dan imaji
agar benang-jarum dapat tenggelam dan timbul
demi mengharakati semesta, dalam pola-pola

2018

Parade

Puisi-puisi tak henti dituliskan
sajak-sajak terus dibacakan
namun gagal diterjemahkan

2018

Perjalanan

Aku selalu rindu bepergian
sebab rumah yang sebenarnya adalah perjalanan
serupa kemah-kemah Ibrahim di padang bebatuan
seumpama bahtera Nuh dalam banjir bandang di pegunungan

2018

Menjenguk Bulan

Setiap pertengahan penanggalan
aku wajibkan menjenguk bulan
seperti janjiku padamu di ujung ciuman

Ciuman yang telah meleburkan sekat ruang-ruang
adegan paling panas dengan segmen terpanjang
sekaligus ratap kemenangan terakhir di atas ranjang

Kau adalah rembulan! sumpahku terisak
maka, sediakala kita adalah jarak
membagi kecemasan
sebelum saling nujum pertemuan

2018

Hendrik Efriyadi, lahir di Desa Mandiraja Wetan, Mandiraja, Banjarnegara. Dia bergiat di kelompok belajar sastra KPI, Jejak Imaji, dan klub baca Kamisan di Kotagede Yogyakarta. (28).


[1] Disalin dari karya Hendrik Efriyadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 30 September 2018