Yang Bernyanyi pada Malam Dingin

Karya . Dikliping tanggal 26 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

Betapa menentramkan setiap mendengar lagu itu di malam dingin begini. Gema suaranya bagai derap yang datang dari kejauhan sebagai ajakan agar kaki ini segera terangkat, berjalan menyusuri kegelapan, hingga pada akhirnya tubuh yang telah terikat ini berdiri memaku di bibir pantai. Ya, karena ia akan muncul dari dalam laut sebagai sesosok perempuan cantik beraroma kerang. Ia berjalan begitu anggun, amat sangat anggun, dan rumbai gaunnya dipegang dengan mulut-mulut ikan yang berbaris di belakangnya.

Dengan senyum yang sama, dengan pandangan yang sama, dengan gaun yang sama, ia menghampiriku, menyerangku dengan pelukan-pelukan rindu, dengan ciuman-ciuman yang menyimpan hasrat, dan pada akhirnya ia akan bersandar di bahu ini dengan kepasrahan penuh, lalu kepedihannya akan tumpah sepanjang malam hingga fajar merekah. Ia akan berbagi kisah tentang kegelisahannya, seakan-akan ada nada mendesak dan menuntut agar aku bertanggung jawab. Dan, pada akhirnya, ia akan kembali ke laut, sebab, seperti katanya, terang bukanlah saat yang tepat untuk kami berdua, padahal telah puluhan kali coba kutaklukan dirinya dengan keyakinan-keyakinan bahwa aku tidak peduli pada pandangan dan gunjingan orang tentang dirinya.

Bagaimana menyatukan dua orang dari dua kutub yang berbeda? Itulah pertanyaan terbesarku tentang hubungan kami. Pertanyaan itu menyeretku cukup jauh, membawa langkah kakiku memasuki desa-desa terjauh, ke kota-kota yang masih menjaga hal-hal mistik, membuka ensiklopedia. Kiranya perjalanan yang kulakukan membawa titik terang atau setidaknya ada seorang cenayang, dukun, bomoh, okultis, tabib, mampu menolongku. Namun hasilnya nihil. Malahan mereka menganggap aku sebagai orang gila. Aku tidak peduli.

Terkadang aku mengingatkan diri bahwa cerita-cerita yang pernah kudengar semasa kecil tentang leluhur yang menangkap roh-roh halus yang menampakkan diri dengan menancapkan paku di ubun-ubun kepala, ingin juga kulakukan setiap kami bersisian, duduk berdua di bibir pantai. Namun, kedua tanganku selalu gemetar ketika hendak menancapkan paku. Aku merasa ia dapat memandang bola mataku dengan jelas dan menangkap ketakutanku. Karena ketika jeda saat ia berhenti berbagi, aku seperti mendengar semacam bisikan. Aku tahu itu suaranyasuara yang membuat aku tak berdaya, yang membuat kekuatan yang telah kuhimpun luruh.

Ia selalu punya alasan manakala kusampaikan keinginanku agar kami bisa tinggal bersama. Jika memang warga tidak menghendaki dan mengucilkan keberadaan kami, setidaknya masih ada aku yang siap menemaninya. Namun, sekali lagi, ia menolak. Kali ini ia menyampaikan alasan lain yang mau tidak mau harus kuterima. Ia tidak mungkin meninggalkan laut yang telah jutaan tahun ia jaga. Bagaimana kehidupan dalam laut jika ia tidak berada di sana untuk mengatur kehidupan? Sekeriap ikan membutuhkan dirinya. Anak-anakbegitu katanya, untuk menyebut sekeriap ikan dan segala yang hiduptidak bisa ditinggal pergi begitu saja. Karena, jika ia tidak mengatur maka ekosistem dalam laut akan rusak. Setelah meyakinkan aku demikian, dipeluknya aku demikian erat bagai takut akan kehilangan diriku.

Dengan bernyanyi aku memanggilnya agar meninggalkan ranjangnnya. Aku memilih bernyanyi pada malam-malam yang dingin agar tubuhnya yang kedinginan itu secara alamiah terdorong untuk dihangatkan. Di pantai ini, kami selalu bertemu dan aku akan menghangatkannya dengan cumbuan. Dengan cara seperti ini, ketika darahnya telah menyatu dalam darahku, dengan sendirinya jiwanya akan terikat penuh. Dan, sebagaimana sudah terjadi dari dulu, jiwa yang telah terikat itu akan diambil sebagai persembahan kepada laut. Sebagai upeti atas pengorbananku memberi ikan-ikan kepada mereka.

Aku tidak mau mengambil jiwanya dengan terburu-buru. Sebagaimana selama ini yang aku lakukan. Kematian yang aku rencanakan ini setidaknya, menurutku, akan menyadarkan tetua bahwa ada sesosok entitas yang mengatur kehidupan dalam laut. Yang menjaga, dan memberikan kelimpahan.

Seperti yang sudah kukisahkan kepadanya, orang-orang yang mati di laut, yang berasal dari daerahnya, merupakan campur tangan dariku. Mereka mati bukan karena memang sudah ajalnya, tapi bagaimana aku bekerja di sana. Pernah, sebelum ia dilahirkan, aku mengambil jiwa seorang perempuan karena tidak bisa mendapatkan jiwa saudaranya. Lelaki yang kuambil itu mengingatkan aku pada kekasihku Nitun Lolon. Saat itu, rohku bersemayam dalam diri seekor gurita. Lewat gurita itu aku berhasil membunuh perempuan itu. Seorang lagi, aku mengambil jiwanya saat ia menembak ikan. Sebatang balok dihantam ke arah tengkuknya dan seketika lelaki itu mati. Seorang yang lain, juga pada saat menembak ikan, diam-diam kulilitkan tali yang ia gunakan ke batu.

Cerita-ceritaku ditanggapinya dengan enteng bahwa aku tidak akan mengambil jiwanya sebagaimana jiwa yang lain. Ia salah besar jika berpikir begitu. Sebab, diam-diam, aku sudah mengamati pola tingkah lakunya. Karena setiap turun menyelam, dari jauh, aku mengamati punggungnya yang berat.

Yang Bernyanyi pada Malam DinginAku sudah menghitung dengan cermat. Ambisinya untuk menaklukkan ikan-ikan besar yang dipercayanya pada mata panah buatannya, hasratnya menaklukkan ombak-ombak ganas, kecekatannya menyelusup ke rongga-rongga terumbu karang, ketepatannya membidik, kemampuan rongga dadanya menahan napas selama dalam laut. Semua hal yang ada padanya itulah menjadi alasan bagiku untuk membunuhnya dengan cara pelan-pelan. Memang terkadang aku menemukan dalam rongga matanya cinta yang tidak mendendam, keserakahan yang berlebih atas sekeriap ikan, namun aku tetap punya alasan untuk mengambilnya. Dalam rongga mata yang sama itu aku tidak menemukan ketakutan, sebagaimana teman-teman penyelam lainnya, bahkan justru kutemukan kekuatan-kekuatan lain yang seakan menjaganya agar terhindar dari segala bahaya. Aku tahu, kekuatan itulah yang menggerakkan dirinya berseluncur hingga ke ceruk-ceruk laut yang lebih dalam.

Dirinya adalah upeti untuk menyenangkan ikan-ikan, anakku. Tugasku mengembalikan kepercayaan ikan-ikan bahwa aku adalah ibu mereka. Harin Botan. Ibu yang adil.

Berkali-kali aku ke teluk, mengirimkan mantra-mantra lewat desau angin agar ia lena. Kepada sekerubung ikan yang telah aku bisikan cara terbaik membawanya ke tempat ini tidak pernah berhasil menyeretnya kemari. Itu sebabnya aku turun tangan secara langsung.

Sudah 20 tahun aku mengikutinya. Waktu yang lama sekali bagi anak-anak yang tertetas dari rahimku yang hidup hanya sebentar itu. Selama masa itu, susah payah aku meyakinkan mereka agar bisa memahami kondisi ini. Mereka menerima tapi tidak bertahan lama. Mereka akan kembali mendesakku agar segera menyerahkan jiwa lelaki itu agar sekeriap ikan dalam laut mengarak-araknya sebagai bentuk balas dendam.

Bagaimana aku membunuh seseorang lelaki yang dalam matanya kutemukan sepasang mata seekor anjing? Ya, seekor anjing jelmaan Nitun Lolon, yang tak lain adalah kekasihku. Desakan mereka membuat aku tak berdaya tapi kata hati terus merongrongku. Ia kekasihku. Bersamanya aku tenggelam begitu jauh seperti mengarungi lembah-lembah dingin, ngarai-ngarai terjal, menyusuri bukit-bukit sebagaimana jutaan tahun lalusaling membaca dalam kegelapan untuk menetaskan anak pertama.

Aku mencintainya tapi harus membunuhnya.

Kembali aku mendengar gema suaranya. Pelan, begitu pelan, nyaris tidak kedengaran. Suaranya terdengar seperti perpaduan dari angin yang agung, gemerisik daun, suara jangkrik, tangis yang merepihkan kepedihan, dan lolong anjing yang datang dari kejauhan. Aku memang bergidik dan meremang setiap mendengar suara itu tapi aku bisa apa. Keterikatan ini telah mengantar aku kepadanya.

Apa ia mengganggapku sebagai Nitun Lolon, kekasihnya, yang datang untuk menjamahnya setiap bulan sabit, sebagaimana kisah yang dituturkan turun-temurun? Tanda tanya besar itu tidak pernah kutemukan jawaban. Malahan aku bagai memasuki sebuah dunia asing. Kepalaku disesah pertanyaan-pertanyaan yang menggiringku hingga membuatku merasa asing dengan diri sendiri. Apa yang ia inginkan dariku. Hidupku atau iadengan caranyaakan menjadikan aku seekor ikan, atau gurita?

Berkali-kali kumantapkan hati bahwa pertemuan demi pertemuan yang terjadi akan mengantar dirinya kepadaku. Ia akan menanggalkan kebesarannya sebagai ratu yang menjaga sekeriap ikan dalam laut. Tungkai kakinya akan merasakan letih perjalanan sebagai manusia biasa. Ia akan merasakan cinta yang rapuh. Yang lebih besar dari semua itu adalah ia sadar bahwa hidup itu tidak abadi.

Walaupun sering ia kisahkan kepadaku dalam dirinya telah dihadiahi keabadian atas pengorbanannya selama ini, karena telah membiarkan rahimnya untuk menentaskan ikan-ikan kepada manusia yang serakah, aku percaya bahwa saatnya kematian akan datang kepadanya. Bukankah akhir-akhir ini setiap bertemu ia kisahkan kepadaku tentang kematian-kematian?

Ia bukan sesosok entitas superior. Dalam dirinya tidak ada keilahian. Ia rapuh. Karena jika ia agung sebagaimana yang diriwayatkan leluhur, kukira, sangat mungkin ia membelah dirinya menjadi beberapa sosok. Yang sesosok bisa menghibur sesosok dirinya yang lain. Atau, mungkin sekali, sesosok itu saling menggagahi untuk menuntaskan hasratnya.

Kadang, pada satu sisi aku ragu apakah kematian warga kampung yang tenggelam itu bagian dari campur tangannya. Kalaupun ada campur tangan, tentu bukan darinya, melainkan dari para leluhur. Mereka yang mati itu menanggung karma leluhur yang dulu berperang. Bukankah darah yang tumpah di tanah inisebagaimana yang sering diceritakan para tetua malam setelah memperbaiki rumah adatselalu meminta pertanggungjawaban.

Aku menerabas jalan setapak yang berembun dalam diam. Sesekali berhenti untuk memastikan tidak ada orang yang diam-diam mengikuti langkahku dari belakang. Ada semacam gelisah yang membuat aku berpikir ulang apakah hari ini aku akan menancapkan paku pada ubun-ubun kepalanya? Kupikir, sudah saatnya melakukan hal ini. Aku yakin, seyakin-yakinnya, bahwa malam ini ia akan menjadi milikku selamanya. Ia akan menerima satu kenyataan baru, bahwa kehidupan tidak melulu menerima kegelapan menjadi bagian hidup. Ia harus bisa menerima terang menjadi bagian dari hidupnya.

Kudapati dirinya kuyup dan kedinginan. Seperti biasa, aku tergerak mendekapnya ke dalam pelukaan. Dengan kedua tangan kupeluk ia demikian erat. Aku bisa merasakan dadanya yang berdesir, tubuhnya yang bergetar. Selalu, dalam hati, aku mengingatkan diri agar perasaan yang kadang gamang itu tidak mengalahkan logika. Aku ingin tetap terjaga dari kesadaran dan tidak tenggelam dalam buaian lagu yang dinyanyikannya.

Aku merasa tubuhnya memberat. Ia seperti menyerahkan tubuhnya secara penuh ke dalam pelukanku. Kupikir, ini kesempatan yang tepat.

Aku merogoh, memastikan. Paku itu masih di sana.

Bagaimana aku tidak membunuhnya sementara dalam matanya kutemukan kekasihku. Matanya yang merah bagai mata iblis itu mengingatkan aku pada Nitun Lolon.

Ia tidak tahu bahwa saat bulan menelan sebagian laut dan terjadi laut surut, akan datang angin berkah yang bertiup dari arah laut. Angin itu membawa doa-doa dari sekeriap ikan. Angin itulah yang akan meledakkan pembuluh darahnya. Ini adalah jalan terakhir yang kuambil, tentu dengan bantuan anak-anakku karena aku sendiri tidak bisa membunuhnya.

Dalam pelukannya kali ini, aku tahu, ada tangan lain yang membantunya untuk membinasakan aku. Namun, itu tidak akan mungkin terjadi. Aku tidak mungkin meregang nyawa. Ia terlalu bodoh jika berpikir bisa membunuhku. Berjuta tahun, sejak dari leluhurnya, tidak ada satu pun yang berhasil membunuhku, kecuali menciptakan jarak dengan ritual yang mereka lakukan.

Aku tahu, saat ini ia ingin menancapkan paku itu di kepalaku. Karenanya, aku terus bergeliat agar ia tidak punya kesempatan mengambil paku tersebut. Pula aku menyerangnya dengan pertanyaan-pertanyaan dan keyakinan-keyakinan semu bahwa aku akan ikut bersamanya. Rupanya ia tidak tahu bahwa seorang iblis jauh lebih licik, bahkan bisa mengibuli seorang nabi. Manusia itu makhluk lemah, sedari dulu aku berkesimpulan demikian. Apa ia berpikir bahwa laki-laki seperti dirinya begitu perkasa, yang bisa menaklukkan sesosok entitas superior penjaga laut? Tidak.

Ia terpanah dengan omong kosongku. Berulang ia menghujam wajahku dengan ciuman. Dalam hati aku tertawa: Keras kepala akan membuat matamu tertutup selamanya. Semua akan berjalan sesuai dengan apa yang kupikirkan, bukan apa yang kaupikirkan. Jadilah kehendakku seperti yang kupikirkan.

Setelah itu ia pulang, mengambil peralatan panahnya. Ia akan turun menyelam, begitu katanya. Ia akan menembak ikan, bukan untuk memenuhi ambisinya, melainkan ingin mencari penghasilan guna membiayai kehidupan kami. Sekali lagi aku tertawa.

Aku lantas kembali ke laut, meminta anak-anakku agar mempersiapkan diri menyambut prosesi akbar ini.

Telah kubulatkan niat. Aku tidak akan menangis. Karena, kini saatnya aku akan ‘memeluknya’ dalam keabadian. Aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi secara fisik. Ia akan menjadi salah satu penghuni istana dalam laut.

Aku semringah begitu mendengar derap langkahnya dari kejauhan. Langkahnya begitu pasti seperti sudah amat siap menyambut kematiannya.

Ia meluncur ke laut saat matahari mulai menumpahkan cahayanya. Dari jauh, dari balik sebongkah batu raksasa, aku menatapnya dalam kuyup. Bibirnya gemetar. Melihatnya gemetar, aku bernyanyi. Dan, nyanyianku ini akan membuatnya terbuai begitu jauh walau ia dalam laut. Dengan nyanyian ini ia akan kuajak memasuki sebuah tempat. Tepat saat begini aku ‘menutup’ matanya. Air akan memenuhi rongga dadanya. Begitu ia tersadar dan hendak meluncur ke atas, aku akan menariknya. Begitu suplai oksigen dalam dadanya habis, pembuluh darahnya akan meledak. Dan, anak-anakku akan memapahnya mengelilingi istana dalam sebuah prosesi akbar, lalu menyemayamkannya di depan istana dan setelah tiga hari kami akan melepaskan tubuhnya mengambang ke permukaan laut.

Ketika ia telah bersamaku, aku mulai mengirimkan kembali anak-anakku ke pesisir. Begitulah caraku mengambil apa yang menjadi bagian yang mesti kuambil dan memberi jika mereka telah memenuhi kewajiban. Bukankah hidup itu mesti adil?

Aku sangat mencintainya tapi aku harus membunuhnya.

Waimana 1, April 2018.

Jemmy Piran lahir di Sabah, Malaysia, 18 Februari. Alumnus PBSI pada Universitas Nusa Cendana, Kupang. Beberapa puisi dan cerpennya tersiar di sejumlah koran. Kini, ia tinggal di Waimana 1, Larantuka, Flores, Nusa Tenggara Timur.

[1] Disalin dari karya Jemmy Piran
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 25 – 26 Agustus 2018