Yang – Pada Suatu – Keluarga Puisi – Dihadapan Rahasiapa – Lubang Kopi – Kenangan – Misal

Karya . Dikliping tanggal 6 Maret 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Yang

Perjalanan nasib saya tak dapat dilepaskan
dari pesan-pesan indah yang dinaungi kata yang.
Pesan ibu: Yang kauperlukan hanya tidur
yang cukup, pikiran yang jernih, dan hati yang pasrah.
Pesan hujan: Yang tumpah akan menjadi berkah.
Pesan jalan: Yang jauh akan tertempuh
asal kau sabar mengikutiku selangkah demi selangkah.
Dalam untung dan malang saya selalu teringat
pada kelembutan kata yang. Dan setiap memandang
kata yang, saya merindukan seorang ibu
yang sabar menuai hujan sepanjang jalan.
Berjalan bersama yang kadang memang
terasa lamban dan membosankan, lebih-lebih
jika hidupmu selalu diburu-buru oleh tujuan.
Kau dapat saja mengatakan, “Yang kauperlukan
hanya tidur cukup, pikiran jernih, dan hati pasrah.”
Kali lain, tanpa yang, perjalananmu terasa
garing dan tergesa. Karena itu, kau lebih suka bilang
“Aku berlindung pada matamu yang polos dan bibirmu
yang lugu dari godaan rindu yang menggebu”
ketimbang “Aku berlindung pada mata polos
dan bibir lugumu dari godaan rindu menggebu”.
Berjalanlah. Jika hatimu macet parah dan endasmu
mau pecah, berserahlah pada kelembutan kata yang.
Pesan ranjang: Yang dedel-duel dalam perjalanan
akan disembuhkan oleh tidur yang cantik dan ramah.
(Jokpin, 2016)

Pada Suatu

Guru Bahasa Indonesia saya pernah berkata,
“Kiamat tak akan ada selama kau masih dapat
mengucapkan pada suatu hari atau pada suatu ketika.”
Dengan pada suatu hari atau pada suatu ketika
engkau yang kacau dapat disusun kembali,
aku yang beku dapat mencair dan mengalir kembali.
Dalam pelajaran mengarang di sekolah
kau pasti pernah menggunakan pada suatu hari
dan pada suatu ketika. Begitu pun saya.
“Hidupmu lebih luas dari pada suatu hari
dan pada suatu ketika. Carilah pada suatu yang lain,”
pesan guru saya saat saya lulus dan berpamitan.
Pada suatu cium surga samar-samar terbuka;
maut tersipu, silau oleh cahaya matamu.
Pada suatu tidur bantal terpental, guling terguling,
dan di atas ranjang yang runtuh doaku utuh.
Pada suatu kenyang piring bersabda, “Nikmat apa lagi
yang kauminta bila lidahmu tak pernah bisa bahagia?”
Pada suatu syukur ada suara burung trilili
yang gemar bermain tralala sepanjang waktu
dan tak pernah bertanya, “Apakah kebahagiaan itu?”
Pada suatu mandi tak ada sumuk yang abadi.
(Jokpin, 2016)

Keluarga Puisi

Aku mendapat tugas mengarang dengan tema keluarga
bahagia. Aku siap melaksanakan tugas. Semoga guruku
yang baik dan benar dapat menikmati karanganku.
Ibu sedang mekar di ranjang,
harumnya tersebar ke seluruh kamar.
Ayah sedang berembus di beranda
dan aku masih menyala di atas meja.

Pagi-pagi ibu sudah mengepul di dapur,
ayah berderai di halaman,
dan aku masih gemercik di tempat tidur.

Kakek sudah menguning,
tak lama lagi akan terlepas dari ranting
dan menggelepar di pekarangan.
Nenek sudah hampir matang,
sudah bersiap meninggalkan dahan
dan terhempas di rumputan.
Guruku tersenyum misterius membaca tulisanku.
Ia memanggilku hanya untuk mengatakan bahwa aku
telah membuat karangan bagus tentang keluarga gaib.
(Jokpin, 2016)

Dihadapan Rahasiapa

– untuk Adimas Immanuel
Seorang penyair muda meninggalkan kotanya
dan pergi jauh ke kota impiannya. Foto dirinya
tersenyum manis di dinding kamarnya: “Hati-hati
di jalan. Jalanmu adalah sajak terpanjangmu.”
Di manakah kota impiannya tersembunyi?
Di sebuah surga yang hampir cantik macetnya
atau di sebuah hati yang belum ia temukan kodenya?
Ia tak mengerti sebab pergi adalah mencari.
Kadang ia bertanya, di hadapan siapa ia menulis.
Di hadapan kata-kata, itu pasti. Di hadapan
yang tak terucapkan kata-kata, itu lebih pasti.
Ia curiga, jangan-jangan jawab terbaik terselip
di senyum manis foto dirinya di dinding kamarnya.
Kata-kata datang dan pergi, meninggalkan bunyi,
menyisakan sunyi. Ketika jam berdentang
memukul waktu, ia teringat sebuah lagu keroncong
yang dinyanyikan seorang penyanyi Solo:
“Engkau mengalir sampai jauh, akhirnya ke aku.”
(Jokpin, 2016)

Lubang Kopi

Jam tiga pagi Waktu Indonesia Bagian Kopi
lampu tidur di matanya menyala kembali.
Hujan tinggal bekas dan kopi sudah menjadi miras.
Ia sedang jatuh cinta pada kantuknya
ketika dilihatnya lubang besar di layar komputernya.
Lubang kopi yang hitam menganga.
Kata-kata berjatuhan ke dalam lubang
dan tak kembali. Dan kembali sebagai sunyi.
Dari dalam lubang muncul seekor kucing
bermata cerlang dan manis. Kucing biru yang dulu
hilang di balik hujan dan ia hampir menangis.
Kucing itu terbuat dari kata kangen yang keluar
dari kamus, lalu masuk ke lubang sunyi
jam tiga pagi Waktu Indonesia Bagian Kopi.
(Jokpin, 2016)

Kenangan

Suatu saat kau akan jadi kenangan
bagi tukang cukurmu. Ia memangkas
rambutmu dengan sangat hati-hati
agar gunting cukurnya tidak melukai keluguanmu.
Suatu saat kau akan jadi kenangan
bagi tukang baksomu. Ia membuat
baksomu dengan sepenuh hati seakan-akan kau
mau menikmati jamuan terakhirmu.
Suatu saat kau akan jadi kenangan
bagi tukang fotomu. Ia memotretmu
dengan sangat cermat dan teliti agar mendapatkan
gambar terbaik tentang bukan-dirimu.
Suatu saat kau akan jadi kenangan
bagi tukang bencimu. Ia membencimu
dengan lebih untuk menunjukkan
bahwa ia mencintai dirinya sendiri dengan kurang.
(Jokpin, 2016)

Misal

Misalkan Aku datang ke rumahmu
dan kau sedang khusyuk berdoa,
akankah kau keluar dari doamu
dan membukakan pintu untukKu?
(Jokpin, 2016)
Joko Pinurbo alias Jokpin lahir di Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat; tinggal di Yogyakarta. Buku kumpulan puisinya antara lain Surat Kopi (2014) dan Selamat Menunaikan Ibadah Puisi (akan terbit).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joko Pinurbo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” edisi Sabtu 5 Maret 2016