Yang tak Hilang dari Ingatan – Surat Charles untuk Ibunya – Cinta: Membakar Cermin Waktu :Sirna – Garis-Garis Alegori [Aku]

Karya . Dikliping tanggal 15 Januari 2017 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Yang tak Hilang dari Ingatan

Bella Iranti
Setialah ––bahwa kau tak akan menelan aksara
Yang kau ujar usai kita meringkus desauan suara
Saat bayang purnama menjelma di atas telaga
Aku ingin membawamu bersama kenangan
Aku ingin kita melekat ––tiada menyekat
Memetik bunga-bunga dan cahaya surga
Mereguk cinta hingga lunglai terpesona
Pada keheningan udara: kita mengalir tanpa suara
Desah yang mengheningkan cipta
Lihatlah ada yang terbit lagi
Menyambut elegi-elegi mimpi
Aku ingin kita mengunjungi keabadian
Aku ingin mengajakmu berlari
Melintas batas menceburkan diri pada kedalaman
Makna atas jiwa-jiwa cahaya ––milik kita.
Yang tak hilang dari ingatan
Ialah: Kenangan
Kenangan
Kenangan

Surat Charles untuk Ibunya

Ibuku yang tersayang. Berapa usiamu?
Dibalut debu dan rindu
Ibu masih ingat Tuhan? Yang dulu ibu
Bilang padaku sebagai gugusan
Pencipta cinta dan luka
Apa kabar ibu? Apa kesunyian
Masih melipatmu
Ibu, setiakah berdoa?
Masih percaya
Pada yang tak ada didepan mata
Seperti aku, anakmu yang sirna
Ditelan beku
Ah ya, mungkin ibu tengah sibuk
Membakar air mata
Dalam rapal kenangan
Biarlah berlalu ibu
Biarlah ingatan lekang
Sebab kita akan pulang
–––hilang.

Cinta: Membakar Cermin Waktu :Sirna

Sudah 11 windu aku jemur rinduku
Di atas kepala-kepala beku
Membatu deru
“Waktu tak akan khianat” kata matamu
tenggelam aku
Waktu adalah cermin
Tak pernah menipu
Tuhan tahu, tapi menunggu
sabarlah
Tuhan bersama orang-orang yang sabar
Matamu menyudutkan waktu
Bibirmu melindaskan resah
Rinduku telah menubuh
basah
Kita tidak akan pernah bertambah tua
Bila bersama
waktu–––
–––waktu

Garis-Garis Alegori [Aku]

Aku peduli apa
Rumahku batang-batang mimpi
Makanan ku seribu ilusi
Ibuku selalu pergi
Ayahku aku anggap mati
Maka tangislah aku
Lukaku lirih mengusang letih
Aku coba membuat puisi
Diruang-ruang malam resah
Aku tumpah di wajah
Aku bakar diriku
Aku kutuk diriku
Aku menyatu [aku]
Muhammad Husein Heikal, lahir di Medan, 11 Januari 1997. Menempuh studi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatra Utara. Tengah menggarap penye- lesaian manuskrip puisi Ritual Luka.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muhammad Husein Heikal
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi Minggu 15 Januari 2017
Beri Nilai-Bintang!