Yentl

Karya , . Dikliping tanggal 9 Januari 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerpen Lawas, Cerpen Terjemahan, Majalah, Majalah Matra

1

SETELAH KEMATIAN AYAHNYA, Yentl tak punya alasan lain untuk tetap tinggal di Yanev. Ia benar-benar sendirian di rumah. Memang, ada saja orang-orang yang mau indekos di rumahnya; dan para comblang dari Lublin, Tomashev, dan Zamosc, berdatangan untuk menyampaikan lamaran. Tapi Yentl tak ingin kawin. Di dalam dirinya, sebuah suara muncul berulang-ulang: “Tidak!” Akan jadi apa seorang gadis itu bila pesta perkawinan usai? Tentu ia akan segera melahirkan dan mengasuh anak. Dan ibu mertuanya akan selalu mendiktenya. 
Yentl tahu dirinya tak cocok dengan kehidupan wanita. Ia tak bisa menjahit, ia tak bisa merajut. Ia membiarkan makanan menjadi gosong dan memanaskan susu hingga meluap; puding sabbath buatannya tak pernah beres, dan adonan challah-nya tak bisa naik. Yentl jauh lebih menyukai aktivitas laki-laki daripada pekerjaan perempuan. Ayahnya, Reb Todros, semoga ia beristirahat dalam damai, selama tahun-tahun pertama kehidupan Yentl, mempelajari Taurat dengan anak perempuannya seolah anaknya itu seorang laki-laki. Ia juga menyuruh Yentl mengunci pintu-pintu dan memasang tirai jendela-jendela, kemudian berdua mereka asyik menekuni Pentateuch, Gemara, Mishnah, dan Commentaris. Yentl membuktikan dirinya seorang murid yang cerdas sehingga ayahnya biasa mengatakan:
“Yentl, engkau ini memiliki jiwa laki-laki.”
“Lalu mengapa aku dilahirkan sebagai anak perempuan?”
“Tuhan juga bisa melakukan kesalahan.”
Dan Yentl tumbuh tak seperti anak-anak perempuan lain di Yanev—tinggi, kurus, bertulang, dengan buah dada kecil dan pinggang sempit. Pada hari-hari Sabbath, ketika ayahnya tidur, Yentl akan memakai pantalon ayahnya, jas sutera ayahnya, kopiah dan topi beludru ayahnya, dan kemudian mengamati bayangan tubuhnya di kaca. Ia tampak seperti seorang pemuda yang tampan. Bahkan ada bulu-bulu halus di atas bibirnya. Hanya rambut kepangnya yang tebal itu yang menunjukkan kewanitaannya—dan jika masalahnya sampai ke sana, rambut bisa selalu dipotong. 
Yentl menyusun sebuah rencana dan sepanjang siang dan malam ia tak bisa memikirkan hal lain. Tidak, ia belum diciptakan untuk membuat mie, menyiapkan piring puding, mengobrol tak karuan dengan perempuan-perempuan bodoh. Ayahnya telah bercerita banyak tentang kisah-kisah yeshiva, rabbi, dan para sastrawan! Kepalanya dipenuhi dengan persoalan-persoalan Talmud, pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban, dari anak kalimat yang dipelajarinya. Diam-diam ia bahkan sudah mencoba merokok dengan pipa ayahnya yang panjang itu. 
Yentl mengatakan kepada para makelar rumah ia ingin menjual rumahnya dan kemudian pergi ke Kalish, untuk tinggal dengan salah seorang bibinya. Tetangga-tetangganya yang wanita mencoba mengajaknya bicara mengenai keputusannya itu, dan para comblang mengatainya gila karena mereka anggap Yentl akan bisa memperoleh pasangan yang baik di Yanev. Tapi Yentl sudah nekat. Ia tampak begitu terburu-buru sehingga ia segera menjual rumahnya pada penawar pertama, dan ia malah memberikan perabotan rumahnya kepada pembeli itu. Yang ia pikirkan dari harta warisan itu adalah uang sejumlah seratus empat puluh rubel. Dan kemudian pada suatu malam di bulan Av, ketika Yanev sedang tidur lelap, Yentl menggunting kepang-kepang rambutnya, dan mendandani dirinya dengan pakaian ayahnya. Setelah mengepak pakaian dalam, pakaian sembahyang (phylacteries), dan sejumlah buku ke dalam sebuah kopor jerami, ia pun pergi berjalan kaki menuju Lublin. 
Di jalan raya, Yentl naik sebuah kereta yang membawanya ke Zamosc. Dari sana ia berjalan kaki lagi. Ia berhenti di sebuah penginapan, dan menyebut namanya Anshel, nama seorang pamannya yang sudah meninggal. Penginapan itu dipenuhi oleh rombongan pemuda yang hendak pergi menuntut ilmu pada rabbi-rabbi terkenal. Terjadi argumentasi tentang kelebihan beberapa yeshiva, beberapa orang memuji yeshiva di Lithuania, yang lain mengatakan bahwa seseorang bisa belajar secara intensif di Polandia dan bahwa di luar negeri bisa lebih baik lagi. 
Ini pertama kali Yentl mendapati dirinya berada dalam sekelompok laki-laki. Begitu beda isi pembicaraan mereka dengan ocehan perempuan-perempuan itu, pikirnya, tapi ia terlalu malu untuk bergabung dengan mereka. Seorang pemuda mendiskusikan masalah calon pasangan hidup dan besarnya mas kawin, sementara yang lain menirukan tingkah laku seorang rabbi Purim, mendeklamasikan satu bagian dari Taurat, sambil menambahkan segala macam interpretasi cabul. Setelah itu kelompok anak-anak muda itu mengadakan kontes kekuatan. Satu orang berusaha membuka kepalan tangan pemuda yang lain; seorang lagi mencoba menumbangkan lengan temannya. Seorang murid yang sedang makan malam, roti dan teh, tak punya sendok dan mengaduk cangkirnya dengan ujung pisaunya. Tiba-tiba salah seorang dari kelompok itu mendatangi Yentl dan mencolek pundaknya: 
“Mengapa diam saja? Tak punya lidah ya?”
“Tak ada sesuatu yang perlu kukatakan.”
“Siapa namamu?”
“Anshel.”
“Kamu ini pemalu betul. Seperti bunga violet di pinggir jalan saja.”
Dan pemuda itu memencet hidung Yentl. Gadis ini ingin membalasnya dengan pukulan, tapi tangannya tak mau bergerak. Hanya mukanya menjadi putih. Seorang murid lain, yang sedikit lebih tua dibanding yang lain, tinggi dan pucat, dengan matanya yang hangat dan jenggotnya yang hitam, datang untuk menyelamatkan Yentl. 
“He, mengapa kamu mengganggunya?”
“Kalau kau tidak senang, tak perlu lihat.”
“Mau kutarik jambulmu?”
Pemuda berjenggot itu memberi isyarat pada Yentl, kemudian bertanya dari mana ia datang dan ke mana mau pergi. Yentl memberi tahu pemuda itu bahwa ia sedang mencari yeshiva, tapi ingin mendapatkan yang tenang. Pemuda itu menarik janggutnya pelan.
“Kalau begitu, kita bersama-sama saja ke Bechev.”
Pemuda itu mengatakan bahwa ia kembali ke Bechev untuk menyelesaikan tahun keempatnya. Yeshiva di sana kecil, dengan murid yang jumlahnya hanya tiga puluh orang, dan warga kota itu menyediakan makanan untuk mereka semua. Makanan yang disediakan bermacam-macam dan para istri menisik kaos kaki mereka dan merawat cucian mereka. Rabbi Bechev, yang memimpin yeshiva, adalah orang genius. Ia bisa menghadapi sepuluh pertanyaan dan menjawab kesepuluh pertanyaan itu dengan satu contoh. Sebagian besar murid mendapat jodoh di kota itu. 
“Mengapa kamu meninggalkan yeshiva di tengah jalan?” Yentl bertanya.
“Ibuku meninggal. Sekarang ini aku sedang dalam perjalanan kembali ke yeshiva.”
“Namamu siapa?”
“Avigdor.”
“Mengapa kamu belum kawin juga?”
Pemuda itu menarik-narik jenggotnya. 
“Ceritanya panjang.”
“Coba ceritakan padaku.”
Avigdor menutup matanya dan sejenak berpikir. 
“Kamu jadi ikut ke Bechev?”
“Ya.”
“Kalau begitu kamu akan segera tahu. Sebenarnya aku pernah bertunangan dengan anak perempuan tunggal dari orang terkaya di kota itu, Alter Vishkower. Bahkan tanggal perkawinan sudah ditentukan ketika tiba-tiba keluarga itu mengembalikan kontrak pertunangan.”
“Apa yang terjadi?”
“Aku tak tahu. Karena banyak gosip bermunculan, kurasa. Aku sebenarnya berhak menerima kembali setengah dari mas kawin, tapi itu bertentangan dengan pribadiku. Sekarang mereka sedang berusaha mengenalkan aku dengan wanita lain, tapi gadis ini kelihatannya tak cocok untukku.”
“Memangnya di Bechev murid-murid yeshiva juga melirik wanita-wanita?”
“Di rumah Alter, tempatku makan sekali seminggu, Hadass, anak perempuannya, selalu membawakan makanan ….”
“Ia cantik?”
“Ia berambut pirang.”
“Rambut cokelat juga bisa cantik.”
“Tidak.”
Yentl memandang Avigdor. Pemuda itu langsing dan berotot, dengan pipi-pipinya yang cekung. Rambutnya berombak dan berwarna amat hitam sehingga tampak biru, dan alis matanya bertemu di tengah tepat di ujung hidungnya. Avigdor memandang Yentl dengan tajam, dalam dirinya bergolak rasa malu bercampur penyesalan seperti seseorang yang baru saja membuka rahasia. Tenaganya habis, seperti halnya orang yang berduka cita, dan lapisan gabardin pada mantelnya tampak jelas. Seperti orang sedang senewen, ia mengetuk-ngetukkan tangannya pada meja; dan menyenandungkan sebuah lagu. Di balik keningnya yang berkerenyut, pikirannya seolah berlari ke sana kemari. Tiba-tiba ia berkata: 
“Apa pun yang terjadi, aku akan jadi pertapa.”

2

KELIHATANNYA ANEH, TAPI segera setelah Yentl—atau Anshel—tiba di Bechev, ia ditempatkan di rumah si orang kaya, Alter Vishkower, selama seminggu. 
Murid-murid di yeshiva belajar secara berpasang-pasangan, dan Avigdor memilih Anshel sebagai pasangan belajarnya. Ia banyak membantu Anshel dalam belajar. Ia juga seorang perenang tangguh, dan sudah menawarkan diri untuk mengajar Anshel berenang gaya dada, dan juga bagaimana caranya menginjak-injak air; tapi Anshel selalu punya alasan untuk menolak pergi ke sungai. Avigdor mengusulkan agar mereka berbagi tempat di pondokannya, tapi Anshel memilih pondokan di rumah seorang janda tua yang setengah buta. 
Pada hari-hari Selasa, Anshel makan di rumah Alter Vishkower dan Hadass menungguinya Avigdor selalu menanyakan banyak hal: “Bagaimana keadaan Hadass sekarang? Apakah ia kelihatan sedih? Apakah ia gembira? Apakah keluarganya sudah mau mengawinkan ia dengan seseorang? Apakah ia pernah menyebut-nyebut namaku?” Anshel melaporkan bahwa Hadass menumpahkan makanan di taplak meja, lupa membawa garam, dan memasukkan jari-jarinya ke dalam piring. Ia sedang membawanya. Ia menyuruh-nyuruh pembantu wanitanya, selalu asyik dengan buku-buku cerita, dan mengubah model rambutnya setiap minggu. Lebih dari itu, ia tentu memandang dirinya cantik, karena ia selalu berada di depan kaca, padahal sebenarnya ia tidak begitu cantik. 
“Dua tahun setelah kawin,” kata Anshel, “ia tentu sudah jadi perempuan tua.”
“Jadi menurutmu ia tidak cantik?”
“Tak terlalu.”
“Sekarang ini, kalau ia mau sama kamu, kamu tentu tidak akan menolaknya.”
“Aku bisa jalan terus tanpa dia.”
“Kamu ini menyimpan dorongan-dorongan setan, ya?”
Kedua sahabat itu, berbagi tempat di rumah belajar, namun lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mengobrol daripada belajar. Biasanya Avigdor merokok, dan Anshel biasanya mengambil rokok dari bibir Avigdor untuk kemudian mengisapnya sekali. Avigdor suka makan kue soba panggang, dan Anshel setiap pagi mampir di toko kue untuk membeli kue itu sebuah, dan tak akan membiarkan Avigdor membayarnya kembali. Seringkali Anshel melakukan banyak hal yang mengejutkan Avigdor. Jika ada sebuah kancing mantel Avigdor lepas misalnya, keesokan paginya Anshel akan datang ke yeshiva sambil membawa jarum dan benang dan kemudian menjahitkan kancing yang lepas itu. Anshel juga membawakan segala macam hadiah untuk Avigdor: sebuah sapu tangan sutera, sepasang kaos kaki, sebuah selendang. Dan Avigdor semakin merasa terikat dengan pemuda ini, yang umurnya lima tahun lebih muda darinya, yang cambang dan jenggotnya belum lagi tumbuh. Suatu kali Avigdor berkata kepada Anshel:
“Aku ingin kamu mengawini Hadass.”
“Apa manfaatnya hal ini untukmu?”
“Lebih baik begitu daripada ia jatuh ke tangan orang lain yang sama sekali asing.”
“Kamu akan jadi musuhku.”
“Tak akan pernah.”
Avigdor senang berjalan berkeliling kota dan seringkali Anshel menyertainya. Sambil asyik mengobrol, mereka berjalan menuju kincir air, atau ke hutan pinus, atau ke palang merah—tempat keramat orang Kristen, terkadang mereka berbaring-baring di atas rerumputan. 
“Mengapa seorang perempuan tidak bisa seperti seorang laki-laki?” Suatu kali Avigdor bertanya sambil menatap langit. 
“Apa maksudmu?”
“Mengapa Hadass tidak bisa seperti kamu?”
“Seperti aku yang bagaimana?”
“Oh … seorang sahabat yang baik.”
Anshel mendadak jadi senang bermain-main. Ia memetik sekuntum bunga dan mempreteli daun bunganya satu per satu. Ia memungut sebuah kenari dan melemparkannya ke Avigdor. Avigdor memandang seekor belalang yang bertengger di telapak tangannya. Sesudah berdiam sejenak, ia kembali berkata:
“Mereka mencoba mengawinkan aku.”
Anshel berdiri tertegun.
“Dengan siapa?”
“Dengan anak perempuan Feitl, Peshe.”
“Si janda?”
“Ya.”
“Mengapa kamu harus kawin dengan seorang janda?”
“Tak seorang pun mau denganku.”
“Itu tak benar. Kamu akan menemukan seseorang nanti.”
“Tak akan pernah.”
Anshel memberi tahu Avigdor bahwa pasangan seperti itu tidak baik. Peshe tidak cantik dan juga tidak pandai, dan hanya mirip sapi bermata dua. Di samping itu peruntungannya buruk, karena suaminya mati pada tahun pertama perkawinan mereka. Wanita seperti itu pembunuh suami. Tapi Avigdor tidak menjawab. Ia menyalakan sebatang rokok dan mengisapnya dalam-dalam, dan mengepulkan asapnya menjadi lingkaran-lingkaran. Wajahnya berubah menjadi hijau. 
“Aku membutuhkan seorang perempuan. Aku tak bisa tidur kalau malam.”
Anshel terkejut. 
“Mengapa kamu tak mau menunggu sampai ada jodoh yang benar-benar tepat untukmu?”
Dan mata Avigdor menjadi basah. Mendadak ia melangkah. 
“Sudah cukup kita ngoceh. Mari kita pergi.”
Setelah itu, segala sesuatu terjadi begitu cepat. Suatu hari Avigdor menceritakan masalahnya kepada Anshel—dua hari setelah ia bertunangan dengan Peshe, dan ia datang ke yeshiva sambil membawa kue madu dan brandy. Tanggal perkawinan sudah ditentukan. Jika calon pengantin perempuan itu janda, berarti tak perlu lagi menunggu selesainya pakaian pengantin. Segala sesuatu sudah siap. Pengantin laki-laki, lebih-lebih lagi, karena ia anak yatim piatu sehingga tak ada orang yang perlu dimintai nasihat. Murid-murid yeshiva minum-minum brandy dan mengucapkan selamat pada Avigdor. Anshel juga meminumnya sedikit, tapi mendadak lehernya terasa tercekik.
“Oh, terasa dibakar.”
“Kamu ini kok tidak seperti laki-laki,” Avigdor menggoda.
Setelah perayaan, Avigdor dan Anshel duduk sambil membawa Gemara, tapi mereka hanya belajar sedikit, dan percakapan mereka menjadi lamban. Avigdor menggoyang-goyangkan badannya ke depan ke belakang, menarik-narik janggutnya, bergumam sambil sesekali menarik napas.
“Aku kalah,” katanya tiba-tiba. 
“Kalau kamu tidak suka, mengapa mau kawin dengannya?”
“Aku akan kawin dengan seekor kambing betina.”
Hari berikutnya Avigdor tak muncul di rumah belajar. Feitl sang pedagang kulit berasal dari Hasidim dan ia ingin menantunya itu melanjutkan studinya di rumah sembahyang Hasidim. Murid-murid yeshiva diam-diam mengatakan bahwa meskipun tak ada penolakan, tapi sang janda bersikap kasar dan mengomel terus seperti mitraliur, ibunya seorang anak pedagang susu; ayahnya agak tak perdulian, tapi masih saja keluarga itu punya uang. Feitl punya saham di tempat penyamakan kulit; Peshe telah menggunakan mas kawinnya untuk membuka toko yang berjualan ikan haring, ter, pot-pot, panci-panci, dan yang selalu penuh oleh para petani. Ayah dan anak perempuannya telah membekali Avigdor dengan memesan sebuah mantel bulu, sebuah mantel dari kain, sebuah capote sutera, dan dua pasang sepatu. Di samping itu, Avigdor langsung menerima banyak hadiah, segala sesuatu yang menjadi milik suami pertama Peshe: edisi Vilna dari Talmud, sebuah jam emas, sebuah kandil Chanukah, sebuah kotak bumbu. Anshel duduk sendirian di lesnar. Pada suatu hari Selasa, ketika Anshel datang untuk makan malam ke rumah Alter Vishkower, Hadass berkata:
“Apa pendapatmu tentang partnermu itu—kembali hidup mewah, ya?”
“Apa yang kamu harapkan—tak seorang pun yang menginginkan dirinya?”
Muka Hadass menjadi merah. 
“Itu bukan salahku. Ayahku menentang hubungan kami.”
“Mengapa?”
“Keluargaku mendapati seorang saudara laki-laki Avigdor telah menggantung diri.”
Anshel memandang Hadass ketika gadis itu berdiri di dekatnya—tinggi, pirang, dengan leher yang panjang, pipi cekung, dan mata biru, mengenakan rok dari katun dan celana celemek belacu. Rambutnya dikepang dua, terlempar ke punggungnya melalui bahunya. Sayang aku bukan laki-laki, pikir Anshel. 
“Sekarang kamu menyesal?”
“Oh, ya!”
Hadass lari dari ruangan itu. Makanan lainnya: lauk daging dan teh dibawa ke dalam oleh gadis pembantu. Baru saja Anshel selesai makan dan hendak mencuci tangannya untuk Pemberkatan Terakhir ketika Hadass muncul kembali. Ia mendekat ke meja makan dan dengan suara tertahan berkata: 
“Bersumpahlah padaku kamu tak akan bercerita apa-apa padanya. Apa perlunya ia mengetahui isi hatiku …!”
Kemudian ia berlari ke luar lagi, hampir-hampir limbung. 

3

KEPALA YESHIVA MEMINTA Anshel untuk memilih seorang teman belajar lain, tapi minggu demi minggu telah berlalu dan Anshel masih saja belajar sendiri. Teman-temannya yang lain, ia anggap kecil, tubuh dan jiwanya. Mereka berbicara yang tidak-tidak, membual tentang bedil-bedil, tampak bodoh, dan berlaku seperti shoorrers. Tanpa Avigdor, rumah belajar terasa sepi. 
Pada malam-malam hari Anshel berbaring di tempat tidurnya—di rumah janda tua yang setengah buta itu, tak bisa tidur. Dengan melepas pantalon dan bajunya, ia kembali menjadi Yentl, seorang gadis di usia kawin, dan sedang jatuh cinta dengan seorang laki-laki muda yang telah bertunangan dengan orang lain. Mungin aku perlu mengatakan yang sebenarnya, pikir Anshel. Tapi sudah terlalu terlambat untuk melakukannya. Anshel tak bisa kembali lagi menjadi seorang gadis, tak bisa melepaskan buku-buku dan rumah belajarnya. Ia berbaring sambil memikirkan yang aneh-aneh yang hampir membuat dirinya gila. Akhirnya ia pun jatuh tertidur, dan bangun dengan terkejut. 
Dalam mimpi, ia telah menjadi seorang laki-laki dan sekaligus perempuan, memiliki tubuh perempuan dan pakaian laki-laki. Menstruasinya sudah terlambat dan mendadak ia jadi takut … siapa yang tahu? Dalam Medrash Talpioth ia telah membaca tentang seorang perempuan yang menjadi hamil hanya karena membayangkan seorang laki-laki. Baru sekarang Yentl benar-benar bisa memahami arti larangan mengenakan pakaian lawan jenis yang ada dalam Taurat. Dengan melakukan itu, seseorang tak hanya menipu orang lain, tapi juga dirinya sendiri. Bahkan sang jiwa menjadi bingung, mendapati dirinya dalam sebuah tubuh yang asing. 
Di malam hari Anshel tak bisa tidur; di siang hari ia hampir tak bisa membuka matanya. Di rumah-rumah tempat ia makan, para wanita mengeluh bahwa anak muda itu tak doyan makan. Sang rabbi melihat bahwa Anshel tak bisa lagi memberi perhatian pada pelajaran-pelajaran, dan hanya memandang ke luar jendela dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Ketika hari Selasa tiba, Anshel muncul di rumah Vishkower untuk makan malam. Hadass menyiapkan semangkok sup dan kemudian menunggu, tapi Anshel begitu kacau sehingga tidak sempat mengucapkan terima kasih. Ia mengambil sendok tapi kemudian membiarkannya jatuh. Hadass berkomentar:
“Kudengar Avigdor telah meninggalkanmu.”
Anshel terbangun dari alam tak sadarnya. 
“Apa maksudmu?”
“Ia tak lagi menjadi teman belajarmu.”
“Ia telah meninggalkan yeshiva.”
“Pernahkah kamu bertemu dengannya?”
“Ia sepertinya sengaja menyembunyikan diri.”
“Kamu akan datang di pesta perkawinannya?”
Sejenak Anshel terdiam seperti tahu arti ucapan Hadass. Kemudian ia berkata:
“Ia benar-benar bodoh.”
“Mengapa kamu berkata begitu?”
“Kamu cantik, dan yang satu itu seperti monyet.”
“Ia benar-benar bodoh.”
Hadass merasa mukanya panas. 
“Semua itu salah ayahku.”
“Jangan khawatir. Kamu akan menemukan seseorang yang cocok untukmu.
“Tak seorang pun yang kuinginkan.”
“Tapi setiap orang menginginkan dirimu ….”
Keduanya terdiam lama. Mata Hadass membesar, dipenuhi kesedihan yang orang bisa tahu bahwa tak ada penghiburnya. 
“Supmu hampir dingin.”
“Aku juga menginginkan dirimu.”
Anshel terkejut dengan ucapannya sendiri. Hadass memandang pemuda yang ada di depannya itu.
“Kamu sedang bicara apa?”
“Ini kenyataan.”
“Jangan-jangan ada yang mendengar pembicaraan kita.”
“Aku tidak takut.”
“Makanlah sup itu. Sebentar akan kuambilkan daging.”
Hadass membalikkan tubuhnya dan pergi, sepatunya yang bertumit tinggi itu berbunyi berisik. Anshel mulai berburu kacang-kacang yang ada dalam sup, memancing sebuah dan kemudian membiarkannya jatuh. Nafsu makannya lenyap; tenggorokannya telah terkunci. Ia tahu pasti dirinya sedang terlibat dalam kejahatan, tapi ada sejumlah kekuatan yang mendorongnya untuk jalan terus. Hadass muncul kembali, membawa sebuah piring kecil berisi dua potong daging. 
“Mengapa kamu tidak makan?”
“Aku sedang memikirkan kamu.”
“Apa yang kamu pikirkan?”
“Aku ingin mengawinimu.”
Hadass menampilkan wajahnya seolah ia telah menelan sesuatu. 
“Untuk hal-hal seperti itu kamu harus bicara dengan ayahku.”
“Aku tahu.”
“Menurut kebiasaan, kamu harus mengirim seorang pelamar.”
Hadass berlari ke luar ruangan, membiarkan pintu terhempas di belakangnya. Sambil tertawa dalam hati, Anshel berpikir: “Dengan gadis-gadis aku bisa bermain sesukaku!” Ia lalu menaburkan garam pada supnya dan kemudian lada. Sambil duduk di meja makan, Anshel merasakan sakit kepala. Apa yang telah kulakukan? Aku pasti sudah gila. Tak ada kata lain …. Ia memaksakan diri untuk makan tapi tidak bisa merasakan apa-apa. Baru kemudian ia sadar bahwa Avigdorlah yang ingin mengawini Hadass.
Dalam kebingungan yang dirasakannya, Anshel menyiapkan sebuah rencana: ia akan membalas dendam pada Avigdor, dan pada saat yang sama, melalui Hadass, membuat pemuda itu dekat dengan dirinya. Hadass seorang perawan: apa yang ia ketahui tentang laki-laki? Seorang gadis seperti itu bisa dikelabui untuk waktu yang lama. Memang, Anshel sendiri juga masih perawan, tapi ia tahu banyak tentang masalah-masalah seperti itu dari Gemara dan dari pembicaraan para laki-laki. Anshel merasakan sebuah ketakutan bercampur kegembiraan, sebagai orang yang punya rencana untu mengelabui seluruh anggota masyarakat. Ia ingat dengan pepatah: “Masyarakat itu orang-orang bodoh.” Ia berdiri tegak dan berkata keras-keras: “Sekarang aku siap melakukan sesuatu.”
Malam itu Anshel tak tidur sekejap pun. Setiap beberapa menit ia bangkit untuk minum. Tenggorokannya terasa panas dan dahinya seperti terbakar. Otaknya bekerja semau-maunya sendiri. Sebuah pertempuran seperti sedang terjadi dalam dirinya. Perutnya melilit dan lututnya terasa sakit. Sepertinya ia telah terikat dalam sebuah perjanjian dengan Setan, Sumber Kejahatan yang selalu mengecoh manusia, yang memasang penghalang dan perangkap pada jalan mereka. 
Ketika Anshel jatuh tertidur, hari sudah pagi. Ia bangun dengan kelelahan yang lebih besar daripada waktu-waktu sebelumnya. Tapi ia tak bisa tidur terus di bangku sang janda. Dengan sebuah tenaga, ia bangkit dan menenteng tas yang berisi phylacterynya, bersiap pergi ke rumah belajar. Di jalan Anshel bertemu dengan seseorang yang seharusnya ia jumpai, ayah Hadass. Dengan takzim Anshel mengucapkan selamat pagi dan menerima ucapan balasan yang ramah. Reb Alter meraba-raba jenggotnya dan kemudian mengajak Anshel mengobrol:
“Anak perempuanku Hadass tentu melayanimu dengan seenaknya. Engkau kelihatan kelaparan.”
“Anak Anda seorang gadis yang baik, dan sangat hebat.”
“Lalu mengapa wajahmu begitu pucat?”
Anshel sejenak terdiam.
“Reb Alter, ada sesuatu yang harus saya katakan pada Anda.”
“Baik, katakan saja.”
“Reb Alter, anak Anda membuat saya gembira.”
Alter Viskower tertegun.
“Oh, benarkah? Kupikir murid-murid yeshiva tidak membicarakan hal-hal seperti itu.”
Matanya dipenuhi tawa.
“Tapi saya sungguh-sungguh.”
“Seseorang tak bisa membicarakan masalah itu dengan pemuda yang ingin kawin.”
“Tapi saya ini yatim piatu.”
“Ya … dalam hal seperti itu, menurut kebiasaan yang ada engkau harus mengirimkan seorang pelamar.”
“Ya ….”
“Apa yang kau lihat pada Hadass?”
“Ia cantik … baik … cerdas ….”
“Baik, baik, baik …. Coba sekarang ceritakan padaku tentang keluargamu.”
Alter Vishkower meletakkan lengannya pada bahu Ashel dan dengan gaya seperti itu kedua orang ini berjalan sampai mereka tiba di halaman sinagog. 

4

SEKALI ANDA MENGATAKAN “A”, Anda harus mengatakan “B”. Pikiran-pikiran mengawali kata-kata, kata-kata mengawali perbuata-perbuatan. Reb Alter Vishkower memberikan persetujuannya kepada pasangan Anshel dan Hadass. Tapi ibu si gadis, Freyda Leah, mula-mula menolak. Ia mengatakan tak ingin lagi mendapatkan murid yeshiva untuk anak perempuannya, dan lebih suka memilih calon menantu dari Lublin atau Zamosc; tapi Hadass mengancam jika ia dibuat malu di muka umum sekali lagi (seperti yang terjadi dalam hubungannya dengan Avigdor), ia akan menceburkan diri ke sumur. Seperti halnya yang sering terjadi dengan para penasehat pasangan, setiap orang tampak amat menyukai hal itu—rabbi, sanak saudara, teman-teman wanita Hadass. 
Untuk beberapa lama, gadis-gadis Bechev telah mengamat-amati Anshel, melongok dari jendela mereka ketika pemuda itu lewat. Anshel selalu mengenakan sepatu yang disemir rapi, dan jika ada gadis lewat matanya tidak melirik ke sana kemari. Ketika singgah di Beila si Pembuat Roti untuk membeli sebuah pletzl, ia menyapa gadis-gadis yang ada di sana dengan gaya begitu rupa sehingga para gadis itu terkagum-kagum kepadanya. Para wanita sependapat bahwa ada sesuatu yang spesial pada diri Anshel: rambutnya yang ikal begitu beda dengan yang lain, dan caranya mengikatkan syal di lehernya begitu khas; matanya tersenyum samar, sepertinya tertuju pada sesuatu yang jauh. Dan adanya kenyataan bahwa Avigdor telah bertunangan dengan anak gadis Feilt, Peshe, dan kemudian meninggalkan Anshel, membuat pemuda ini disayang oleh orang sekota melebihi yang lain. 
Alter Vishkower membuat sebuah kontrak pertunangan, menjanjikan pada Anshel mas kawin yang lebih besar, lebih banyak hadiah, dan bahkan tanggungan hidup yang lebih lama daripada yang ia janjikan pada Avigdor. Gadis-gadis memeluk Hadass dan mengucapkan selamat kepadanya. Hadass segera mulai merajut sebuah tas untuk phylacterias Anshel, sebuah pakaian challah, sebuah tas massah.
Ketika Avigdor mendengar kabar pertunangan Anshel, ia mendatangi rumah belajar untuk mengucapkan selamat. Waktu beberapa minggu telah membuatnya tampak lebih tua. Janggutnya tak rapi, matanya merah. Ia berkata pada Anshel: 
“Aku tahu ini akan terjadi. Sejak semula. Begitu aku bertemu denganmu di penginapan dulu.”
“Tapi kamu ‘kan yang menyuruhku melakukan ini.”
“Aku tahu.”
“Mengapa kamu meninggalkan aku? Kamu bahkan pergi tanpa mengucap selamat berpisah.”
“Aku ingin membakar masalah-masalahku.”
Avigdor mengajak Anshel berjalan-jalan. Meskipun sudah Succoth terakhir, hari tampak cerah dengan matahari yang bersinar-sinar. Avigdor, lebih ramah dari biasanya, membukakan isi hatinya pada Anshel. Ya benar, saudara laki-lakinya telah mengalami depresi, dan akhirnya menggantung diri. Sekarang ia juga merasakan dirinya berada di tepi jurang yang dalam sekali. Peshe punya banyak uang dan ayahnya merupakan orang yang kaya; meskipun begitu di malam-malam hari ia tetap tak bisa tidur. Ia tak ingin menjadi penjaga toko. Ia tidak bisa melupakan Hadass. Gadis itu muncul dalam mimpi-mimpinya. Malam Sabbath, ketika nama Hadass muncul dalam sembahyang Havdala, mendadak kepalanya pusing. Tapi masih bagus Anshel yang mengawini Hadass dan bukan yang lain …. Paling tidak gadis itu jatuh ke tangan yang layak. Avigdor berhenti melangkah dan air matanya berlinangan di atas rumput yang layu. Tiba-tiba ia berkata:
“Aku punya pikiran untuk melakukan seperti yang dilakukan saudaraku.”
“Apakah kamu begitu mencintainya?”
“Ia telah terpahat dalam hatiku.”
Kedua orang muda itu mengikrarkan persahabatan mereka dan saling berjanji tak akan berpisah lagi. Anshel kemudian mengusulkan setelah keduanya kawin, mereka harus hidup bertetangga atau bahkan berbagi rumah bersama. Setiap hari mereka akan belajar bersama, bahkan mungkin bersama-sama menjaga toko. 
“Maukah kamu mengetahui sebuah kenyataan?” tanya Avigdor. “Ini seperti kisah Yakub dan Benyamin: hidupku terjalin dalam hidupmu.”
“Tapi mengapa kamu meninggalkanku?”
“Mungkin untuk alasan-alasan yang amat khusus.”
Meskipun hari sudah menjadi dingin dan berangin, kedua sahabat ini terus saja berjalan sampai akhirnya tiba di hutan pinus, dan tidak kembali lagi sampai senja, ketika tiba saatnya sembahyang malam. Gadis-gadis Bechev, dari pos mereka … di pintu-pintu jendela, melihat bagaimana kedua orang itu berjalan berangkulan, dan begitu asyik bercakap-cakap sampai mereka melewati genangan air dan gundukan sampah tanpa menyadarinya. Avigdor tampak pucat, kusut, dan angin menerbang-nerbangkan rambutnya; Anshel menggigit-gigit kuku jari-jarinya. Hadass, juga, berlari menuju jendela, sejenak memandang kedua orang itu dan kemudian matanya basah ….
Kejadian-kejadian berlangsung begitu cepat. Avigdorlah yang pertama menikah. Karena pengantin perempuannya janda, pesta perkawinan tidak dibuat terlalu meriah, tak ada pemusik, tak ada pelawak, tak ada upacara menyingkap kerudung pengantin wanita. Hari ini Peshe berdiri di bawah canopy perkawinan, besoknya ia sudah kembali berjualan di toko, membagi-bagikan ter dengan tangannya yang berminyak-minyak. Avigdor sembahyang di perkumpulan Hasidim, dengan selendang baru. Siang hari, Anshel mengunjunginya dan kedua orang itu berbisik-bisik dan mengobrol sampai malam. Hari perkawinan Anshel dan Hadass jatuh pada hari Sabbath dalam minggu Ghanukah, meskipun calon ayah mertua menginginkan lebih awal lagi. Hadass sudah pernah bertunangan. Di samping itu, mempelai laki-laki seorang yatim piatu. Mengapa ia harus memikirkan untuk sementara meninggalkan tempat tidurnya di rumah janda tua itu jika ia bisa memiliki seorang istri dan rumah sendiri?
Setiap hari, berulang kali Anshel mengingatkan dirinya sendiri bahwa apa yang akan ia lakukan merupakan dosa, perbuatan gila, perbuatan terkutuk. Ia tengah melibatkan Hadass dan dirinya sendiri dalam sebuah rantai penipuan dan juga melakukan begitu banyak pelanggaran sehingga tak mungkin rasanya bisa menebus dosa. Sebuah kebohongan diikuti dengan kebohongan yang lain. Berulang kali Anshel berpikir untuk suatu saat melarikan diri dari Bechev, agar bisa mengakhiri komedi yang mengerikan ini, yang lebih merupakan hasil perbuatan setan daripada seorang manusia. Namun ia terikat dengan sebuah kekuatan yang tak bisa ia tolak. Ia merasa semakin terikat dengan Avigdor, dan ia juga merasa tidak bisa menghancurkan bayangan kegembiraan Hadass.
Setelah menikah, semangat belajar Avigdor tampak semakin besar, dan kedua sahabat ini mengadakan pertemuan dua kali sehari: pagi hari mereka mempelajari Gemara dan the Commentaries, dan siangnya the Legal Codes beserta keterangannya. Alter Vishkower dan Feitl sang Pedagang kulit tampak gembira dan membandingkan pasangan Avigdor dan Anshel dengan David dan Jonathan (Daud dan Yunus). 
Dengan semua kesulitan itu, Anshel jalan terus seperti orang mabok. Para penjahit mengukur tubuhnya untuk isi sebuah lemari pakaian baru, dan ia dengan segala macam cara berusaha agar orang-orang itu tak menemukan kenyataan bahwa dirinya bukan laki-laki. Meskipun penipuan telah berjalan selama berminggu-minggu, Anshel masih saja belum mempercayainya. Bagaimana mungkin? Membodohi masyarakat bisa menjadi sebuah permainan, tapi berapa lama lagi ia akan tahan? Dan dengan cara apa kebenaran itu muncul? Di dalam hari, Anshel tertawa sekaligus menangis. Ia telah menjadi seorang peri, yang turun ke dunia untuk mengolok-olok dan mengelabui orang-orang. Aku ini orang jahat, orang berdosa, seorang Jeroboam ben Nabat, kata Anshel pada dirinya. Satu-satunya pembenaran diri terhadap apa yang dilakukannya adalah bahwa ia mau menanggung semua beban ini karena jiwanya yang haus untuk mempelajari Taurat ….
Avigdor mulai mengeluh bahwa Peshe memperlakukan dirinya dengan buruk. Peshe menjulukinya pemalas, pengacau, orang yang harus diberi makan. Peshe mencoba mengikat Avigdor di toko, memberinya tugas-tugas yang sama sekali tak diminatinya, menyesali uang jajan yang ia keluarkan untuk Avigdor. Anshel, bukannya menasihati Avigdor, malahan mendorong sahabatnya untuk melawan Peshe. Anshel menyebut Peshe sebagai orang yang merusak pemandangan, perempuan pemberang, kikir; Anshel juga berpendapat Peshe sudah pasti mengomeli suami pertamanya sampai mati dan akan melakukan hal yang sama pada Avigdor. Pada saat yang sama, Anshel menyebut kelebihan Avigdor satu per satu: tingginya, kelaki-lakiannya, kebijaksanaannya, kepandaiannya. 
“Seandainya aku perempuan dan kemudian kawan denganmu,” ujar Anshel, “aku akan tahu bagaimana caranya menghargaimu.”
“Ya, tapi kamu ‘kan bukan ….”
Avigdor menarik napas panjang. 
Sementara itu hari perkawinan Anshel semakin dekat. Pada hari Sabbath sebelum Chanukah, Anshel diminta berdiri di mimbar untuk membacakan Taurat. Wanita-wanita menghujaninya dengan kismis dan buah almon. Pada hari perkawinan, Alter Vishkower menyelenggarakan sebuah pesta untuk para laki-laki muda. Avigdor duduk di sebelah kanan Anshel. Pengantin laki-laki memberi pengajaran Talmud, dan teman-temannya mengajukan argumentasi tentang isi bacaan, sambil merokok dan minum-minum anggur, liquor, teh dengan lemon atau selai frambus. Kemudian tiba upacara menyingkap kerudung pengantin wanita, dan setelah itu pengantin laki-laki dibawa ke canopy, perkawinan yang telah didirikan di samping sinagog. 
Malam sangat dingin dan terang, langit penuh bintang. Pemain musik mulai mengumandangkan sebuah lagu. Dua baris gadis-gadis membawa jalinan pita-pita berwarna terang dan lilin-lilin. Setelah upacara selesai, pengantin wanita dan pengantin laki-laki mengistirahatkan pesta dengan kaldu anak ayam emas. Kemudian acara dansa dimulai menyusul pengumuman tentang hadiah-hadiah perkawinan, semuanya sesuai dengan adat. Hadiahnya banyak dan mahal-mahal. Pelawak menceritakan kegembiraan dan kesedihan yang khusus ditujukan untuk pengantin wanita. 
Istri Avigdor, Peshe, merupakan salah seorang tamu yang hadir; tapi meskipun mengenakan banyak perhiasan permata ia tetap saja tampak jelek karena rambut palsunya yang jongkok di dahinya, dan ia mengenakan mantel bulu yang besar, dan bekas-bekas ter di tangannya itu seolah tak akan bisa hilang dengan air berapa pun banyaknya. Setelah berlangsung Tari Kebaikan, mempelai dibiarkan berada di kamar pengantin. Para tamu sebelumnya mengajarkan pada mereka tentang cara-cara yang tepat dan mengharapkan mereka segera beranak-pinak. 
Paginya ibu mertua Anshel dan sekelompok orang memasuki kamar pengantin dan menyobek alas tempat tidur di bawah Hadass untuk mencari tahu apakah kedua pengantin telah tidur bersama. Ketika ditemukan bekas noda darah, orang-orang itu tampak gembira dan langsung memberi selamat kepada pengantin wanita. Kemudian, sambil mengacungkan sobekan kain itu, berduyun-duyun mereka ke luar menarikan Dansa Kosher di bawah hujan salju yang mulai turun. 
Anshel menemukan cara untuk memperawani pengantin wanita. Hadass dalam kepolosannya menganggap segala sesuatu terjadi sebagaimana yang seharusnya. Ia mulai amat mencintai Anshel. Setelah hubungan sebadan yang pertama, menurut adat pengantin laki-laki dipisahkan dengan pengantin wanita selama seminggu. Hari berikutnya Anshel dan Avigdor mempelajari risalat tentang wanita, yang sedang menstruasi. Ketika murid lain sudah pergi dan kedua sahabat itu tinggal berdua di sinagog, dengan malu-malu Avigdor bertanya pada Anshel tentang malam pertamanya bersama Hadass. Anshel memuaskan rasa ingin tahu sahabatnya dan mereka bicara berbisik-bisik sampai malam tiba. 

5

ANSHEL BERNASIB BAIK. Hadass merupakan istri yang setia dan orang tuanya amat memanjakan menantunya dan selalu membanggakan keberhasilan-keberhasilan menantunya. Memang bulan demi bulan terlah berlalu dan Hadass masih belum juga hamil, tapi tak seorang pun yang mempermasalahkannya. Sebaliknya, keadaan Avigdor bertambah buruk. Peshe menyiksanya dan akhirnya tidak mau memberi makanan yang cukup pada suaminya dan bahkan menolak untuk mencucikan baju-baju suaminya. Karena Avigdor selalu tak memegang uang, lagi-lagi Anshel setiap hari membawakan roti soba untuk sahabatnya. Karena Peshe terlalu sibuk untuk bisa memasak dan terlalu pelit untuk menggaji seorang pembantu, Anshel meminta Avigdor untuk makan di rumahnya. Reb Alter Vishkower dan istrinya tidak menyetujui hal itu dengan mengatakan bahwa salah bagi seseorang yang mengunjungi bekas rumah kekasihnya. Seisi kota juga membicarakannya. Tapi Anshel berusaha menunjukkan bahwa yang ia lakukan itu tidak melanggar hukum. Kebanyakan orang memihak Avigdor dan menyalahkan Peshe untuk segala yang terjadi. 
Avigdor mulai menekan Peshe agar mau bercerai, dan karena ia tak ingin mempunyai anak dari wanita pemarah seperti itu, ia berbuat seperti Onan, atau, seperti yang diterjemahkan dalam Gemara; ia memasukkan tapi tidak menaburkan benihnya. Ia juga menceritakan rahasia itu pada Anshel dan mengungkap bagaimana Peshe naik ke tempat tidur tanpa mandi terlebih dulu dan kemudian mengorok seperti gergaji, dan tentang bagaimana wanita itu begitu terikat dengan uang hasil berjualan di toko yang terus ia ocehkan bahkan juga ketika tidur. 
“Oh, Anshel, aku begitu iri padamu,” katanya. 
“Tak ada alasan untuk mengiri padaku.”
“Kamu punya segalanya. Aku berharap nasib baikmu itu menjadi milikku—tentu saja tanpa melenyapkannya darimu.”
“Setiap orang punya masalah sendiri-sendiri.”
“Kesulitan macam apa yang kau alami? Jangan menantang Bahaya.”
Bagaimana mungkin Avigdor bisa tahu bahwa di malam-malam hari Anshel tak bisa tidur dan terus-menerus berpikir untuk melarikan diri? Berbaring dengan Hadass dan menipu wanita itu telah menjadi sesuatu yang semakin menyakitkan. Cinta dan kelembutan Hadass padanya membuatnya malu. Kesetiaan ayah dan ibu mertuanya, dan harapan mereka untuk memperoleh seorang cucu menjadi sebuah beban berat. Pada hari-hari Jumat siang, setiap warga kota pergi ke pemandian dan setiap minggu Anshel harus mencari alasan baru. Namun sekarang hal ini telah menjadi sumber kecurigaan. Tersebar gosip yang mengatakan bahwa Anshel tentu memiliki sebuah cacat bawaan yang ingin disembunyikannya, atau sakit burut, atau mungkin belum dikhitan dengan baik. Melihat umurnya, seharusnya sudah mulai tumbuh cambang, tapi sampai sekarang pipinya masih saja halus. Purim dan Passover segera tiba. Berarti musim panas juga segera datang. Tak jauh dari Bechev, ada sebuah sungai tempat semua murid yeshiva dan para laki-laki muda berenang, segera setelah udara cukup hangat. Kebohongan itu telah membengkak seperti sebuah abses dan pada hari-hari terakhir tentu akan pecah. Anshel tahu ia harus segera menemukan cara untuk membebaskan diri. 
Adalah kebiasaan para laki-laki muda untuk pergi bersama ipar-iparnya yang laki-laki ke kota-kota tetangga, selama setengah minggu dalam liburan Passover. Mereka biasa menikmati perubahan, melakukan penyegaran, melihat-lihat ke sekeliling untuk mencari kesempatan dalam bisnis, membeli buku-buku atau barang-barang lain yang dibutuhkan oleh seorang laki-laki muda. Letak Bechev tak jauh dari Lublin dan Anshel membujuk Avigdor agar mau mengadakan perjalanan bersamanya dengan biaya yang akan ditanggungnya. Avigdor gembira, membayangkan dirinya bisa terbebas selama beberapa hari dari si pemberang di rumah. 
Perjalanan dengan kereta merupakan sesuatu yang menyenangkan. Sawah-sawah tampak menghijau, burung-burung bangau, yang baru kembali dari negara-negara yang bercuaca hangat, menyambar-nyambar di udara dalam bentuk lingkaran besar. Jeram-jeram membelah lembah-lembah. Burung-burung berkicau. Kincir angin berputar. Bunga-bunga musim semi mulai bermekaran. Di sana-sini sapi-sapi mulai merumput. Kedua sahabat ini asyik mengobrol, makan buah-buahan dan roti yang disiapkan Hadass, saling menceritakan rahasia masing-masing, sampai mereka tiba di Lublin. Di sana mereka menuju sebuah penginapan dan meyewa satu kamar untuk dua orang. 
Dalam perjalanan, Anshel telah berjanji untuk mengungkap sebuah rahasia penting pada Avigdor, sesampai mereka di Lublin. Avigdor berkelakar: rahasia macam apa itu? Apakah Anshel telah menemukan tempat harta karun terpendam? Apakah Anshel telah menulis esai? Atau setelah mempelajari Qabalah, mungkin ia telah menciptakan sebuah tempat untuk menyelam? … Sekarang mereka memasuki kamar dan sementara Anshel mengunci pintu dengan hati-hati, Avigdor berkata sambil berolok-olok:
“Mari sekarang kita dengarkan rahasia besarmu itu.”
“Siapkan dirimu untuk mendapati kenyataan yang paling mengejutkan dalam hidupmu.”
“Aku sudah siap untuk mendengar apa pun.”
“Aku ini bukan seorang laki-laki, melainkan perempuan,” kata Anshel. “Namaku bukan Anshel, tapi Yentl.”
Avigdor tertawa terbahak-bahak. 
“Aku tahu, ini sebuah penipuan.”
“Tapi itu betul.”
“Seandainya aku orang tolol pun, tak akan aku begitu saja menelan cerita ini.”
“Kamu ingin agar aku menunjukkannya padamu?”
“Ya.”
“Kalau begitu aku akan mencopot bajuku.”
Mata Avigdor terbelalak. Terasa olehnya Anshel ingin melakukan praktik homoseksual. Anshel menanggalkan bajunya satu per satu, dan melepas pakaian dalamnya. Avigdor sekilas melihat, dan wajahnya menjadi putih dan kemudian merah. Anshel buru-buru menutupi tubuhnya. 
“Aku lakukan ini agar kamu bisa menjadi saksi di pengadilan nanti. Kalau tidak begitu, Hadass akan menjadi janda rumput.”
Avigdor tak bisa bicara. Badannya gemetaran. Ingin rasanya ia berkata-kata, tapi lidahnya bergerak tanpa sepatah kata pun ke luar dari mulutnya. Dengan cepat ia duduk, karena kakinya tak berdaya menopang tubuhnya. Akhirnya ia bergumam:
“Bagaimana mungkin? Aku tak percaya!”
“Haruskah aku telanjang lagi?”
“Jangan!”
Yentl kemudian menceritakan semuanya: bagaimana ayahnya, sambil berbaring di tempat tidur, mempelajari Taurat bersamanya; bagaimana ia tak pernah memiliki kesabaran terhadap wanita-wanita dan pembicaraannya yang tolol itu; bagaimana ia telah menjual rumah dan seluruh perabotannya, dan meninggalkan kota, menyamar sebagai laki-laki untuk menuju Lublin, dan di jalan bertemu dengan Avigdor. Avigdor duduk terdiam, memandang orang yang sedang bercerita di hadapannya. Sekarang Yentl mengenakan pakaian laki-laki lagi. Avigdor berkata:
“Ini pasti sebuah mimpi.”
Ia mencubit pipinya sendiri. 
“Ini bukan mimpi.”
“Bahwa yang seperti itu terjadi padaku …!”
“Semuanya benar-benar terjadi.”
“Mengapa kau lakukan semua itu? Nu, lebih baik aku diam.”
“Aku tidak ingin menghabiskan hidupku untuk tinggal di dapur dan mengaduk makanan.”
“Dan bagaimana dengan Hadass—mengapa kau lakukan itu?”
“Aku melakukannya demi kamu. Aku tahu bahwa Peshe akan menyiksamu dan di rumah kami kamu bisa merasakan kedamaian …!”
Avigdor terdiam lama. Ia menundukkan kepalanya, menekan-nekankan tangannya pada dahinya, menggeleng-gelengkan kepalanya. 
“Sekarang apa yang mau kamu lakukan?”
“Aku akan pergi ke yeshiva lain.”
“Apa? Jika kamu mengatakan hal ini sebelumnya, kita bisa ….”
Avigdor berhenti di tengah pembicaraan. 
“Tidak—itu tidak baik.”
“Mengapa?”
“Aku bukan seseorang dan bukan pula orang lain.”
“Dilema macam apa yang sedang kuhadapi ini!”
“Bercerailah dari si horor. Dan kawini Hadass.”
“Ia tak akan pernah menceraikan aku. Dan Hadass tak akan mau kawin denganku.”
“Hadass mencintaimu. Ia tak akan mendengar ayahnya lagi.”
Tiba-tiba Avigdor berdiri, tapi kemudian kembali duduk.
“Aku tak akan pernah bisa melupakanmu. Selamanya ….”

6

MENURUT HUKUM, SEKARANG Avigdor dilarang menghabiskan waktunya berdua-duaan dengan Yentl; dengan pantalonnya, ia menjadi Anshel kembali. Mereka meneruskan pembicaraan sambil mengutip sebuah ayat:
“Bagaimana kamu bisa setiap saat membawa dirimu melanggar perintah Tuhan: ‘Seorang wanita tak boleh mengenakan pakaian yang membuatnya menyerupai laki-laki’?”
“Aku tidak diciptakan untuk mencabuti bulu-bulu ayam dan mengobrol dengan para wanita.”
“Apakah kamu lebih memilih kehilangan peranmu di dunia?”
“Mungkin ….”
Avigdor menaikkan alis matanya. Baru sekarang ia menyadari bahwa pipi Anshel terlalu halus untuk seorang laki-laki, rambutnya terlalu tebal, tangan-tangannya terlalu kecil. Bahkan ia masih tidak bisa mempercayai bahwa hal seperti itu bisa terjadi. Pada saat-saat tertentu ia ingin terbangun dari tidurnya. Ia menggigit bibirnya, mencubit pahanya. Ia diliputi rasa malu, dan tidak bisa bicara tanpa tergagap. Persahabatannya dengan Anshel, pembicaraan-pembicaraan mereka yang intim, rahasia-rahasia mereka, telah menjadi sebuah kepura-puraan dan delusi. Bahkan muncul dalam pikirannya bahwa Anshel mungkin penjelmaan setan. Ia mengguncang-guncangkan tubuhnya seolah ingin mengakhiri sebuah mimpi buruk; sekarang sebuah kekuatan yang mengetahui perbedaan antara mimpi dan kenyataan memberitahunya bahwa semua itu benar adanya. Ia mengumpulkan seluruh keberaniannya. Ia dan Anshel tak pernah menjadi asing satu sama lain, meskipun Anshel ternyata Yentl …. Ia mengemukakan sebuah pendapat:
“Sepertinya saksi untuk wanita yang ditinggalkan tak akan mungkin mengawini wanita itu, karena hukum akan menganggapnya ‘turut mendalangi peristiwa’.”
“Apa? Tak mungkin!”
“Kita harus melihatnya kembali di Eben Ezer.”
“Aku tidak yakin bahwa peraturan-peraturan menyangkut seorang wanita yang ditinggalkam bisa diterapkan dalam masalah ini,” ujar Anshel dengan gaya bicara seorang ahli. 
“Jika kamu tak ingin Hadass menjadi seorang janda rumput, kamu harus mengungkap rahasia ini langsung kepadanya.”
“Aku tak bisa melakukannya.”
“Kalau begitu, kamu harus mencari saksi lain.”
Pelan-pelan keduanya kembali ke pembicaraan mereka tentang Talmud. Pada mulanya terasa aneh bagi Avigdor mendiskusikan tulisan suci dengan seorang wanita, sekarang, meskipun lama sebelumnya Taurat telah mempertemukan mereka. Meskipun tubuh mereka berbeda, jiwa mereka sama, Anshel berbicara dengan cara bersajak, memberi isyarat dengan ibu jarinya, mencengkeram rambutnya, mencabuti dagunya yang tak berjanggut, menampilkan semua isyarat yang biasa dimliki seorang murid yeshiva. Di tengah perdebatan, ia bahkan menyerang Avigdor dengan kelepaknya dan mengatainya bodoh. Dalam diri Avigdor muncul rasa cinta yang besar, bercampur dengan rasa malu, penyesalan yang dalam, kecemasan. Seandainya saja aku mengetahui hal ini sebelumnya, kata Avigdor pada dirinya. Dalam pikirannya, ia menyamakan Anshel (atau Yentl) dengan Bruria, istri Reb Meir, dan dengan Yalta, istri Reb Nachman.
Untuk pertama kalinya ia tahu dengan pasti bahwa inilah yang ia inginkan: seorang istri yang jiwanya tidak terikat dengan hal-hal yang besifat materi …. Keinginannya untuk memiliki Hadass mendadak hilang, dan ia tahu dirinya akan merindukan Yentl, tapi ia tak berani mengatakannya. Ia merasakan panas mengaliri tubuhnya, dan ia tahu bahwa wajahnya merah. Ia tak bisa lagi menatap langsung mata Anshel. Ia mulai menghitung dosa-dosa Anshel dan melihat bahwa dirinya juga terlibat, karena ia telah duduk dekat-dekat dengan Yentl dan menyentuhnya selama hari-hari menstruasi gadis itu. Nu, dan apa yang bisa dikatakan tentang perkawinan gadis itu dengan Hadass? Pelanggaran hukum macam apa yang terjadi! Penipuan yang direncanakan, sumpah-sumpah palsu, penampilan yang menipu!—Tuhan tahu yang lainnya. Tiba-tiba Avigdor bertanya:
“Katakan sebenarnya, apakah kamu ini seorang yang suka membuat hukum sendiri?”
“Semoga Tuhan melindungiku!”
“Lalu bagaimana kamu bisa melakukan semua ini?”
Semakin lama Anshel berbicara, semakin Avigdor tak mengerti. Sepertinya semua penjelasan Anshel menunjuk ke satu hal: dirinya memiliki jiwa wanita dan tubuh laki-laki. Anshel mengatakan bahwa ia mengawini Hadass agar dirinya bisa selalu berdekatan dengan Avigdor. 
“Kamu seharusnya kawin denganku,” kata Avigdor. 
“Aku ingin mempelajari Gemara dan Commentaries denganmu, dan bukan menisik kaos kakimu!”
Keduanya terdiam lama. Kemudian Avigdor memecah kesunyian:
“Aku takut Hadass akan menjadi sakit karena semua ini. Semoga Tuhan melindunginya!”
“Aku juga mengkhawatirkan hal itu.”
“Apa yang akan terjadi sekarang?”
Senja turun dan kedua orang itu mulai menjalankan sembahyang malam. Dalam kebingungannya, Avigdor mengacaukan doa-doanya, menghilangkan beberapa di antaranya dan mengulang-ulang yang lain. Ia memandang Anshel dari samping. Gadis itu sedang menggoyangkan tubuhnya ke depan dan belakang, memukul dadanya, menundukkan kepalanya. Ia melihat gadis itu, matanya tertutup, menengadahkan wajahnya seolah sedang memohon. Engkau, Bapa yang di surga, yang mengetahui kebenaran …. Ketika sembahyang mereka telah selesai, mereka duduk di kursi berhadap-hadapan, dalam jarak yang tak terlalu dekat. Kamar mereka dipenuhi bayangan-bayangan. Bayangan matahari terbenam, seperti sulaman berwana lembayung, bertengger di dinding yang letaknya berlawanan dengan jendela. Avigdor lagi-lagi ingin berbicara, tapi kata-katanya bergetar di ujung lidahnya, dan tidak mau ke luar. Namun tiba-tiba kata-kata itu tersembur ke luar:
“Mungkin belum terlalu terlambat? Aku tak akan bisa hidup dengan wanita terkutuk itu …. Kamu ….”
“Tidak, Avigdor, tidak mungkin.”
“Aku akan merindukanmu. Amat merindukanmu.”
“Dan aku juga akan merindukanmu.”
“Apa arti semua ini?”
Anshel tidak menjawab. Malam tiba dan cahaya menghilang. Dalam kegelapan mereka tampak saling mendengar isi pikiran yang lain. Hukum melarang Avigdor berada di kamar bersama Anshel, namun ia tidak bisa melihat Anshel hanya sebagai seorang perempuan. Kekuatan aneh macam apa yang ada dalam pakaian, pikirnya. Tapi ia mengatakan sesuatu yang lain: 
“Aku menasihati kamu, untuk mengirim surat cerai pada Hadass.”
“Bagaimana aku bisa melakukan itu?”
“Dengan alasan sakramen perkawinan tidak sah, apa bedanya?”
“Kamu benar.”
“Tersedia cukup waktu baginya untuk menghadapi kenyataan yang sesungguhnya.”
Pesuruh penginapan memasuki kamar sambil membawa sebuah lampu, tapi begitu ia ke luar, Avigdor langsung mematikannya. Kesulitan yang mereka alami dan kata-kata yang harus mereka ucapkan tak mampu menahan nyala cahaya. Dalam kegelapan, Anshel menghubungkan semua dengan segala sesuatu yang khusus. Ia menjawab semua pertanyaan Avigdor. Anshel memberi tahu Avigdor bahwa Hadass tidak pernah bisa melupakannya. Hadass sering membicarakan Avigdor, mengkhawatirkan kesehatannya, dan juga merasa sedih—meski bukannya tanpa kepuasan tertentu—bahwa segala sesuatu jadi berubah dengan kehadiran Peshe. 
“Ia akan menjadi istri yang bak,” kata Anshel. “Sementara aku tak bisa membuat roti.”
“Tapi, jika kamu mau ….”
“Tidak, Avigdor, itu bukan tujuan hidupku ….”

7

SEGALANYA MENJADI SEBUAH teka-teki besar bagi warga kota: dengan tibanya kurir yang membawa surat cerai untuk Hadass; Avigdor tetap tinggal di Lublin sampai liburan usai; ia kembali ke Bechev dengan tubuh lunglai dan mata sayu seolah baru sakit. Hadass terbaring di tempat tidurnya, dan dikunjungi dokter tiga kali dalam sehari. Kemudian Avigdor pergi mengasingkan diri. Jika ada seseorang yang berjumpa dengannya dan menyapanya, ia tidak menjawab. Peshe mengeluh pada orang tuanya bahwa Avigdor mengalami kemunduran dan terus-terusan merokok sepanjang malam. Ketika ia akhirnya jatuh disebabkan kelelahan yang amat sangat, dalam tidurnya ia menyebut nama seorang wanita yang tak dikenal—Yentl. Peshe mulai membicarakan perceraian. Seisi kota menduga Avigdor tidak akan memberinya uang atau paling tidak akan menuntut ganti rugi, tapi Avigdor menerima saja segala keputusan. 
Di Bechev, orang-orang tidak bisa membiarkan misteri tetap menjadi misteri. Bagaimana mungkin Anda bisa menyimpan rahasia dalam sebuah kota kecil di mana setiap orang tahu isi panci orang lain? Meskipun ada banyak orang yang biasa mengintip-intip melalui lubang kunci dan menempelkan satu telinganya pada daun jendela rumah orang lain, saat ini yang terjadi tetap menjadi sebuah teka-teki. Hadass terbaring di tempat tidurnya sambil terus-terusan menangis. Chanina, ahli jamu, mengatakan bahwa wanita ini merana. Anshel telah menghilang tanpa jejak. Reb Alter Vishkower meminta Avigdor datang, tapi orang-orang yang berdiri di bawah jendela tak bisa menangkap sepatah kata pun dari pembicaraan mereka. Orang-orang yang biasanya mencampuri urusan orang lain berbicara dengan segala macam teori, tapi tak seorang pun yang konsisten dengan teorinya itu. 
Sekelompok orang berkesimpulan bahwa Anshel telah jatuh ke tangan pendeta-pendeta Katolik dan sudah murtad. Sepertinya masuk akal. Tapi kapan Anshel punya waktu untuk pendeta-pendeta itu karena ia selalu belajar di yeshiva? Dan di samping itu, sejak kapan orang yang murtad mengirim surat cerai pada istrinya?
Sekelompok yang lain lagi berbisik-bisik bahwa Anshel telah kecantol wanita lain. Tapi siapa wanita itu? Tak ada “love affair” seperti itu di Bechev. Dan tak seorang wanita muda pun yang baru-baru ini meninggalkan kota—tak seorang wanita Yahudi dan tidak juga seorang non-Yahudi. 
Seseorang menawarkan teori bahwa Anshel telah dibawa lari setan, atau bahkan Anshellah salah seorang di antara setan itu. Sebagai bukti ia mengungkap kenyataan bahwa Anshel tak pernah ke pemandian ataupun sungai. Sudah dikenal luas bahwa setan-setan itu memiliki kaki angsa. Tapi, apakah Hadass tak pernah melihatnya bertelanjang kaki? Dan siapa yang pernah mendengar ada setan mengirim surat cerai pada istrinya? Jika ada setan yang kawin dengan anak manusia, biasanya ia akan membiarkan istrinya menjadi janda rumput. 
Muncul pendapat seseorang bahwa Anshel telah melakukan pelanggaran besar dan sekarang pergi mengasingkan diri untuk menjalani hukuman. Namun pelanggaran macam apakah itu? Dan mengapa ia tak mengaku saja pada rabbi? Dan mengapa Avigdor menggerambyang seperti hantu?
Hipotesa Tevel sang Pemusik hampir mendekati kebenaran. Tevel mengatakan bahwa Avigdor tidak bisa melupakan Hadass dan bahwa Anshel telah menceraikan istrinya agar sahabatnya itu bisa mengawini bekas istrinya. Tapi adakah di dunia ini persahabatan semacam itu? Bisa terjadi. Dan dalam hal ini, mengapa Anshel menceraikan Hadass sebelum Avigdor menceraikan Peshe? Lebih jauh lagi, hal seperti itu bisa terjadi hanya bila sang istri telah lebih dulu diberi tahu tentang rencana itu dan bersedia melakukannya, padahal sekarang semuanya menunjukkan betapa besar cinta Hadass terhadap Anshel, dan adanya kenyataan Hadass menderita sakit karena kesedihan yang dialaminya. 
Satu hal yang jelas bagi semuanya: Avigdor mengetahui keadaan yang sebenarnya. Tapi tak mungkin memperoleh sebuah informasi pun darinya. Ia tetap mengasingkan diri dan dengan sikap keras kepalanya itu tak mau membuka mulut, yang akhirnya menjadi obyek celaan seluruh warga kota. 
Teman-teman dekat Peshe menyarankan wanita itu untuk menceraikan Avigdor, meskipun kenyataannya mereka tak lagi hidup sebagai suami istri, Avigdor bahkan tidak melakukan ibadah kiddush untuk istrinya, pada hari-hari Jumat malam. Ia menghabiskan malam-malamnya di rumah belajar atau di rumah janda tempat Anshel menyewa kamar. Ketika Peshe berbicara dengannya, Avigdor tidak menjawab, melainkan hanya berdiam diri dengan kepala menunduk. Pedagang wanita ini merasa tak sabar lagi dengan apa yang terjadi. Ia membutuhkan laki-laki muda yang bisa membantunya bekerja di toko, dan bukan seorang murid yeshiva yang melankolis. Seseorang seperti itu bahkan mungkin sudah berencana untuk meninggalkan istrinya dalam keadaan menderita. Akhirnya Peshe menyetujui adanya perceraian.
Sementara itu Hadass sudah mulai sembuh, dan Reb Alter Vishkower mengumumkan bahwa akan segera dibuat sebuah perjanjian perkawinan. Hadass akan kawin dengan Avigdor. Kota guncang. Sebuah perkawinan antara seorang laki-laki dan seorang wanita yang dulunya pernah bertunangan dan kemudian putus, belum pernah terjadi di Bechev. Pesta perkawinan rencananya akan dilakukan pada hari pertama Sabbath setelah Tishe b’Av, dan akan menggunakan semua adat perkawinan seorang perawan: perjamuan untuk orang miskin, canopy di dekat sinagog, para pemusik, pelawak, Tari Kebijakan. Hanya satu hal yng tidak ada: kegembiraan. Pengantin laki-laki berdiri di bawah canopy dengan penampilan yang sedih. Pengantin wanita baru saja sembuh dari sakitnya, tapi tetap pucat dan kurus. Air matanya berjatuhan di kaldu ayam emas. Dari semua mata tamu yang hadir, timbul satu pertanyaan yang sama: Mengapa Anshel melakukan itu?
Usai pesta perkawinan Avigdor dengan Hadass, Peshe menyebarkan gosip bahwa Anshel telah menjual istrinya pada Avigdor untuk mendapatkan sejumlah uang, dan bahwa uang itu telah diberikan pada Alter Vishkower. Seorang laki-laki muda telah lama merenungkan teka-teki ini sampai akhirnya sampai pada keputusan bahwa Anshel telah kehilangan istrinya untuk secara berencana diberikan kepada Avigdor, dan bahwa Anshel sebenarnya hanya sedang melakukan perjalanan keliling dreidl Chanukah. Merupakan pandangan umum bahwa ketika dasar kebenaran tidak bisa ditemukan, orang akan mudah menelan kesalahan. Kebenaran itu sendiri seringkali terungkap sebegitu rupa sehingga semakin keras Anda berusaha memperolehnya, semakin sulit kebenaran itu didapat. 
Tak lama setelah perkawinan keduanya, Hadass hamil. Anak yang lahir laki-laki, dan mereka yang menyelenggarakan khitan untuk si bayi hampir tak bisa mempercayai pendengarannya ketika mendengar ayahnya memberi nama anaknya itu Anshel. 
***
(Judul asli: Yentl The Yeshiva Boy, alihbahasa: S. Z. Luxfianti)
Isaac Bashevis Singer, pemenang Nobel Sastra 1978, lahir di Radzymin, Polandia pada 1904, dan tiba di Amerika pada 1935, dan menjadi warga negara AS pada 1943. Ia bekerja sebagai wartawan untuk Jewish Daily Forward di New York selama bertahun-tahun, dan memenangkan Hadiah Buku Nasional (untuk kategori sastra anak-anak) pada 1970. Singer menulis dalam bahasa Yahudi dan sering menerjemahkan karya-karyanya sendiri ke dalam bahasa Inggris, meskipun untuk beberapa kasus perlu dikatakan bahwa ada perbedaan-perbedaan penting dalam isi dan gaya dari karya aslinya. Ia memiliki sekumpulan karya dalam bahasa Yahudi yang ia selesaikan sebelum 1950. Tuan Singer adalah master dari yang lama dan baru, yang tradisional dan modern, dan transisi (seringkali menyakitkan) dari satu hal ke hal lain. Dalam banyak hal ia adalah seorang penulis “Dunia Ketiga”. Perlu dicatat bahwa Singer juga menggabungkan mistik dan fantasi ke dalam karyanya; kenyataannya, ia telah menjadi Tamu Kehormatan pada Konperensi Internasional tentang yang Fantastis, yang diselenggarakan pada setiap musim semi di Universitas Atlantik Florida. Ia benar-benar manusia untuk segala musim. Cerita ini sudah difilmkan; dimainkan oleh Barbara Streisand. (Matra, Juni 1989)
***
Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada Dyah Setyowati Anggrahita yang telah berkenan mengirimkan karya cerpen lama ini kepada klipingsastra. Salam Sastra
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Isaac Bashevis Singer
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Majalah Matra” Juni 1989