Yogya Sore Hari – Kembang Babur – Kematian – Tangan-tangan Penghancur – Gerimis Magrib – Mencintai Hujan – Paoto’an

Karya . Dikliping tanggal 13 Maret 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Yogya Sore Hari

pada sebuah sore, dari balik sebuah jendela
mataku menjala tubuh kota
orang-orang bagai burung-burung pengembara
pulang meninggalkan tempat kerja
ketika azan menggema dari langit ketiga
angka dalam jarak menjelma sebuah doa
selebihnya menjadi berak di trotoar
di antara pejalan kaki dan pedagang kaki lima
di antara ribuan suara kendaraan, yang bagai ombak
menghapusku dari kehidupan

Kembang Babur

aku berjalan ke tepian malam
tercium wangi kembang tujuh rupa
yang disiram gerimis dna ditabur angin
ke atas mama si fulan
pelan-pelan kudengar langkahmu mendekat
duh, malaikat bertangan emas
kau elus-elus degup jantung dunia
hingga dadaku berguncang seperti ingin terbelah
dan dari tenggara semerbak daun pandan
menelusuk ke dalam jiwaku yang menyala
sesekali berkerlip bagai pijar cahaya semesta
sebab kutahu engkau bagian dari hidup
kelak engkau akan memelukku
aku akan memelukmu
di dalam ruang, di pusaran waktu
yang menggugurkan kelopak kamboja ibu
Yogya, 25-12-2015

Kematian

kematian adlaah aku yang berjalan ke luar takdir
meninggalkan penyair di tepi getir
lalu kutanggalkan jiwa penuh luka
kubiarkan ruh-ruh melesat mengembalikan
seluruh makna pada kampung halmanNya
dan kini di seberang pulau yang jauh
penyair-penyair itu mengasah doa pada akin kabah
Yogya, 21-12-2015

Tangan-tangan Penghancur

: anak-anak Kutub

di atas hamparan duan pisang
denyut kehidupan tercipta
berpuluh-puluh tangan saling tikam dan terkam
saling menghancurkan atas nama masa depan dan peracaban
walau akhirnya tak ada tangan yang
meski merasa kalah atau menang
sebab di atas hamparan daun pisang
dunia tak lebih darisekadar bayang-bayang
Yogya, 25-12-2015

Gerimis Magrib

ketika suara azan menggesek dinsing kamarku
ada yang teramat rahasia berlinang di halaman
bening cahaya bulan memantul dari langit peradaban
di amna kawanan laron berenang ke lubuk kesunyian
hingga kudengar gemercik sungai di kampung
melebur ke inti debur gajah wong
maka berlayarlah ke selatan, duh… bahtera doaku yang purba
menuju pulau-pulau impian, tempat segalanya bermula dan berpulang
Yogya, 7-12-2015

Mencintai Hujan

mencintai hujan adlaah merawat kenangan dari kepedihan
seperti melihat diri kita tempo hari berlari dari halaman ke hutan
sungai berkelok membelah dusun menampung tangis masa lalu
mencintai hujan adalah doa yang tak lupa kita panjatkan 
semoga di tanah gembur itu, di ladang dada ayah dna ibu
padi-padi meninggi hanya untuk merunduk ke kedalaman hati
sebab di nyalang mata ayah dan ibu
walau cuaca adalah gatar petir, warna langit cukup hanya mendung
membentang di luas sawah dan di sempitnya mimpi kita

Paoto’an

dari rahim dusunmu aku memercik
menjadi sekeping fajar yang kanak-kanak
suara senggama malam dengan siang
adalah desah angin di ketiak siwalan: merawatku penuh sayang
ke rimbun diriku burung-burung alas terbang dan bersarang
sesekali menembang lagu-lagu kasmaran, tentang
musim hujan atau kemarau yang mengepung
bagai asap, bagai roh-roh kudus melesat ke bibir senja-
hingga kini waktu melaju memahat usiaku
di simpang-simpang jalan yang membawaku berlari
jauh darimu, melewati baris demi baris
nama-nama kota dalam sebuah sajak
Yogya, 16-12-2015


Mohammad Ali Tsabit: mahasiswa  Perbandingan Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Aktif di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY) dan Jejak Imaji Yogyakarta.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mohammad Ali Tsabit
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 13 Maret 2016