Ziarah Laut Selatan

Karya . Dikliping tanggal 23 Mei 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

“DI pantai ini ombak akan menghapus seluruh rasa sedihmu. Dan di pantai ini ombak membawa rindumu kepada orang-orang yang telah jauh meninggalkanmu.”

Kalimat itu masih terngiang dalam ingatanku. Kalimat itu Ibu ucapkan ketika aku berumur lima tahun. Dulu, Ibu sering mengajakku ke Pantai Parangtritis. Di sana ia seolah melampiaskan rasa sedih dan rindu kepada ombak. Apalagi bila memasuki awal Ramadan, ia akan datang dengan sekantong anyaman bambu berisi bunga. Ia membawa bunga itu untuk dia larung ke laut. Bungabunga itu ungkapan atas rasa rindunya kepada Ayah yang meninggal.

Ayah secara langsung tak pernah aku kenal sejak kecil. Aku mengenal Ayah hanya dari cerita Ibu. Ibu mengisahkan, Ayah adalah pekerja keras yang sangat bertanggung jawab. Ia rela melakukan apa saja demi keluarga. Ia bahkan akan menukar nyawa dengan orang-orang dia cintai. Demikian juga pada hari durja itu. Ayah yang bekerja sebagai nelayan nekat menjalankan perahu untuk mencari ikan. Nasib sial menimpa pria itu. Ombak membawa dia pergi. Ia tak pernah kembali.

“Semoga kelak ombaklah yang membawa Ibu, seperti ayahmu,” ujar Ibu setiap kali menutup cerita.

Demikianlah. Aku tak mengerti mengapa Ibu dulu selalu mengatakan itu. Aku mengira kalimat itu kiasan agar membuat ceritanya dramatis. Namun ternyata kalimat itu doa bagi Ibu. Ia berharap pergi bersama ombak seperti yang terjadi pada Ayah. Dan seperti harapan Ibu, tepat pada awal Ramadan, ketika aku berumur enam tahun, ia memutuskan menjadi tenaga kerja bantu di negeri orang, dan kapal yang membawanya karam. Ia benar-benar pergi bersama ombak.

***

DUA kejadian menyedihkan itu seakan menjadi batu penanda kepedihan dalam hidupku. Batu kesedihan itu bahkan terus mengeras dan menyesaki dadaku, hingga aku besar kini. Maka seperti Ibu dahulu, aku sering mendatangi Pantai Parangtritis. Aku biasanya menekur untuk melabuhkan bunga dan doa kepada dua orang yang aku cintai itu. Dua orang yang telah pergi bersama ombak. Pun ketika memasuki awal Ramadan, aku berziarah ke tepi pantai. Begitulah. Waktu orang-orang berduyunduyun menuju makam, aku malah menepi di bibir pantai. Di sana aku melabuhkan seluruh rasa sedih dan rinduku kepada Ayah serta Ibu.

“Semoga kalian hidup bahagia di dalam ombak,” pekikku lemah.

Hari ini pun, dua hari sebelum puasa, aku mendatangi tepi pantai. Aku menatap Pantai Parangtritis yang seolah mati. Setelah melabuhkan bunga dan doa, aku berjalan menyusuri tepi pantai yang sunyi. Aku menyauk-nyaukkan kaki ke ombak yang terempas ke tepian. Akhirnya aku termenung di sebuah batu karang cukup besar. Aku pandang bintang-bintang bertebaran. Hatiku terasa makin sepi. Apalagi bila mengingat Ayah dan Ibu.

Aku menarik napas panjang. Aku duduk di atas batu itu. Mataku menerawang ke laut lepas. Aku melihat kegelapan perlahan menguasai. Dan, ketika laut benar-benar tenggelam dalam gulita, aku melaihat di kejauhan sebuah cahaya melintas. Cahaya itu berkedip begitu cepat. Aku awalnya mengira cahaya itu dari kapal nelayan yang melaut. Namun ketika cahaya itu makin dekat, aku mendengar lengking mesin lokomotif. Tiba-tiba, sebuah kereta api melintas di depanku.

Aku tak percaya atas apa yang aku lihat. Pasti aku berkhayal. Namun ketika kereta itu berhenti, aku percaya kereta itu memang sungguh melintas di atas laut. “Kau ingin pergi ke mana?” tanya seseorang yang aku pikir masinis. “Jika kau sedih, kami akan mengatarmu berkeliling hingga bahagia.”

Air muka pria yang sedang berbicara denganku itu tampak lugu. Namun gaya bicara yang ramah membuatku yakin ia masinis.

“Kau tidak usaha bingung. Apa yang kaulihat sekarang nyata,” lanjut pria itu. “Kereta ini memang dibuat untuk orang-orang yang sedih. Jadi siapa pun bisa naik kereta laut ini.”

Aku baru tahu kini di Pantai Parangtritis ada kereta hanya untuk orang sedih. Namun aku masih tidak habis pikir dari mana kereta itu berasal. Apakah sama seperti kereta yang sering aku lihat di stasiun, atau berasal dari negeri sangat jauh dari dunia ini? Aku masih diam, tak tahu harus berkata apa.

“Kami akan membawamu pergi ke tempat kebahagiaan.”

“Maksudmu?”

“Kami akan membawamu pergi dari semua kenyataan pahit yang tidak dapat kauselesaikan. Kereta ini diciptakan untuk itu.”

Aku memandang orang-orang di dalam kereta. Orang-orang berwajah pucat dan tak memiliki harapan. Tatapan mata mereka pun tampak kosong.

“Bagaimana?”

Aku membisu. Pria itu yang aku anggap masinis itu masih bersikap ramah kepadaku. Ia pun menepuk bahuku beberapa kali.

“Aku tidak akan memaksamu ikut kereta ini,” ucapnya. “Namun bila kau berubah pikiran, kau cukup datang ke tempat ini. Kereta ini akan menjemputmu.”

Aku mengangguk. Pria itu pergi. Lamat-lamat mesin kereta menderu, disusul lengking nyaring. Kereta itu melaju di tengah laut, menjauh, menyisakan perasaan ganjil tak bernama di hatiku.

***

SEMINGGU setelah kejadian itu aku makin terpuruk. Kakekku mendadak meninggal. Ia pergi dalam keadaan duduk saat menyantap makanan yang disukainya.

Padahal ia satu-satunya orang yang memahami segala kesedihanku. Ialah yang merawat dan menjagaku sejak kecil hingga tumbuh dewasa. Ia sosok terakhir yang bisa kukatakan angat kucintai dalam hidup ini.

Aku terpuruk sedih. Aku seakan tak memiliki siapa pun lagi di dunia ini. Aku merasa sebatang kara. Hari itu pun setelah pemakamannya aku termenung lama. Aku duduk berlinang air mata. Aku merasa sangat sedih harus melewatkan bulan Ramadan tanpa dia. Sementara itu, menyadari kesedihanku yang sangat mendalam, banyak kawan berusaha menghibur.

“Lupakan,” kata sahabatku. “Ia telah tuntas menjalankan hidup. Jangan kautangisi. Itu hanya membuatnya terluka.”

Aku membiarkan temanku terus berbicara. Aku tidak peduli. Mataku terus tertumbuk ke tanah merah yang menggunduk di makam Kakek. Walaupun sebenarnya, diamku terjadi karena tidak tahu harus mengatakan apa pada kawanku. Yang bisa kulakukan kini hanya terdiam. Begitulah. Di tengah lamunan, aku teringat kereta Laut Selatan. Aku ingat pria yang mengatakan akan mengantarku ke sebuah kebahagian. Malam itu aku memutuskan hendak naik kereta itu.

***

Ziarah Laut SelatanMALAM ini, Laut Selatan seperti dikuasi kegelapan begitu kental. Aku tidak menemukan seorang pun. Pantai Parangtritis begitu sunyi. Hanya terdengar desir angin dan ombak. Aku termenung di tempat ketika melihat kereta itu berhenti. Aku berharap kereta itu malam ini datang lagi.

Namun hingga malam menua, kereta Laut Selatan yang kutunggu-tunggu tidak datang. Aku khawatir kereta itu sudah melintas sebelum aku sampai ke tempat ini. Aku kukuh menunggu sembari membiarkan angin laut mengacak rambutku. Aku akan terus menunggu hingga kereta itu datang. Dan, tepat tengah malam, kereta itu akhirnya tiba. Kereta itu melintas dengan cahaya menyilaukan. Kereta itu berhenti di depanku. Seorang pria yang aku jumpai seminggu lalu menyeruak dan menghampiriku.

“Silakan masuk. Kami akan mengantarkanmu ke negeri penuh kebahagiaan.”

Aku tidak banyak bertanya. Aku melangkah masuk dan duduk di bangku paling ujung.

***

WAKTU menyandarkan tubuh ke kursi empuk di dalam kereta, aku melihat wajah Ibu, Kakek, dan Ayah. Mereka semua di dalam kereta ini. Mereka tersenyum kepadaku. Mereka lantas melambaikan tangan agar aku mendekat.

“Kau sudah besar, Anakku!” kata mereka.

“Apakah kau naik kereta ini karena merindukan kami?” Aku mengangguk. Lalu aku menceritakan pada mereka mengenai seluruh rasa sedihku. Aku merasa sangat kesepian. Aku pun memeluk mereka erat.

Sementara itu, kereta melintas di atas Laut Selatan. Kereta melintas tanpa rel yang mengarahkan. Kereta terus melaju ke ufuk yang tak aku tahu ke mana. Bintang-bintang pun terasa sangat dekat. Aku bahkan sesekali melihat kapal nelayan dan lumba-lumba bercahaya terang mengiringi perjalanan kami.

“Itu roh dari setiap kehidupan. Mereka tetap hidup dan abadi.”

Aku tidak paham apa yang mereka jelaskan. Aku hanya mendengarkan. Namun makin jauh kereta membawaku, aku kian banyak melihat hal aneh dan sulit aku jelaskan.

Dari dalam kereta, aku melihat kota-kota dengan cahaya terang. Kota-kota itu berdiri di atas lautan. Aku melihat burung-burung dengan cahaya biru menyala. Burung-burung itu terbang sangat bebas.

“Kesedihan adalah hal paling abadi di dunia ini. Kita mungkin terlahir dari kesedihan. Namun karena kesedihan itu kita ada,” kata mereka.

“Namun aku tak mau hidup dalam kesedihan!” balasku.

“Kau harus belajar menyukai apa yang kau tak suka karena hidup memang demikian.” Kereta itu mendadak berhenti. Tubuhku tibatiba melayang keluar dari kereta. Aku diturunkan di tempat pertama aku naik.

Kereta itu kembali melaju bersama lumba-lumba, burung-burung, dan kesedihan yang menyertai. (28)

Risda Nur Widia telah menerbitkan kumpulan cerpen tunggal Bunga-Bunga Kesunyian (2015) dan Tokoh Anda yang Ingin Mati Bahagia seperti Mersault(2016).


[1] Disalin dari karya Risda Nur Widia
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 21 Mei 2019