Ziarah Tanah Ayah – Sepanjang Jalan Ayah – Seumpama Hujan – Pusara Kata – Semalam Bersama Ibu – Pertemuan

Karya . Dikliping tanggal 6 September 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Jawa Pos

Ziarah Tanah Ayah

Rumput sudah meninggi
Nisan yang berkilau
Kenangan menebal
Udara yang parau
*
Jejak sakitmu
Masa kanak membeku
Suara batukmu
Menghimpun sedih yang menyerpih
*
Jeritmu hanya igau
Aku yang yatim
Melangkah sendiri
Di lantai perih
*
Mestinya tak ada ilalang
Di tanahmu
Supaya kenangan acap tergenang
Sebab airmata cuma lintah luka
Menjerat dengan tuba
*
Gemetar ingatan
Melebar di ceruk retina
Aku terpapah
Melangkah
Sebagai lelaki
*
Tangis larut di lumpur percakapan
Engkau sendirian kini, Ayah
Kepanasan dan Kehujanan
Dan aku berkunjung hanya sekali waktu
Tanpa alas kaki
*
Harum rumah
Tapi cuaca tak mau berbenah
Hanya pusara
Gemerincing doa
Ilalang itu kucabuti
Menyeka nisanmu dengan air mawar
*
Aku gemetar
Mengeja doa
Menyulam kata
Barangkali langit akan terbuka
*
Biru yang beku
Sesak tubuh
Bayangan dirimu
Lantai rumah sakit
Yang dingin
Maut yang bergelut
*
Suaramu menikam
Seperti pecahan kaca yang tajam
Membelah dadaku
*
Dan aku tak tuntas
Mengingatmu
Yang telah lepas
Edelweis, 2015

Sepanjang Jalan Ayah

Sepanjang jalan Ayah, adalah kenangan yang
tak hancur. Meskipun waktu telah mengubur.
Tangisku jadi benih yang hambur
Bagaimanapun ayah adalah jantung, yang terus mengurung.
Setiap detak, decak, atau serak suara. Bagaimanapun ia adalah 
ujung rindu yang kerap utuh. Tak bisa kuhitung,
petuah yang memanah.
Sepanjang jalan ayah. Kelokan yang panjang.
aku kerap menelusuri lagi. Segala serpih yang lesap.
Memungutinya lagi. Dan lingkaran foto menahun.
Aku merawat airmata yang curah,
dari setiap detik kepergianmu. Tak pernah habis untuk kutepis.
Sepanjang jalan ayah. Kota yang alpa mencatat ihwal kanak 
yang berkerat. Keriangan masa muda, yang kini kembali dilumuri sepi. Tanpa ayah.
Tangerang, 2015

Seumpama Hujan

Seumpama hujan, mungkin kau akan menggulung lengan kemeja panjangmu,
atau celana. Jalanan air. Remah ingatan yang berkabung. Dan kota mengudap dingin, abai pada petaka.
Seumpama hujan, tentu akan kurindukan pelukan atau ciuman perempuan.
Membawa mata kenangan akan gelap awan.
Namun hari cerah. Kota bergetah sempurna. Engkau melangkah dengan luka yang masih basah
2015

Pusara Kata

Ada yang berdiam di kerlip kata.  Saat puisi terbuka,
dan kau membacanya serupa mantra. Hanya
ada bekas lebam, yang tersisa di lembar kertas.
Dan kau bertahan, menampung jejak murung.
Menghitung rajah kata yang pernah runyam di sengit kulit.
Melilit sakit. Dan kau sibuk merakit perjalanan. 
Membuka rimbun hujan yang pernah berlalu dari tubuhmu.
Di saat itu, kata seperti rekah yang nyata. Asik kau
susun tanpa mesti berhitung akan makna.
2015

Semalam Bersama Ibu

Lalu kuceritakan masa kanak yang tak tanak
kudekap. Waktu seperti terus melilit tubuhmu.
Kerutan di wajah, tapi engkau tak pernah tua.
Ibu matamu adalah pertemuan titik yang jauh.
Aku yang membungkuk dari cadas waktu.
2015

Pertemuan

Kami telah menyusun diri masing-masing.
Remah cakap yang sekadar. Limbung tatap
mata dengan sejumlah tanda yang gemetar.
Bahan saat kausantap hidangan. Semuanya
hanya upacara sedih. Yang rutin dan formal.
Meski kami berpura-pura tak sedih, tapi congkak
untuk menjadi bahagia. Lalu percakapan melebar,
mengunyah waktu bersama tissue di mulutmu.
Perlahan dan pasti, begitu banyak kesunyian
yang menjejak di mulut kami.
Di restoran–terang cahaya lampu hanya silau kemilau.
Tak kunjung menuntun memasuki masa lalu yang tertidur.
Lalu kami berkumur dengan minuman.
Menanyakan hal yang biasa saja. Lampu kehilangan cahaya.
Sampai tanda waktu habis. Dan kami meminta bill,
bertanya dalam hati. Melangkah lagi,
memasuki isi kepala yang telah terkunci di bilangan hari.
Tanpa ada sedikit rajah yang kaubelah,
bagi tubuhku.
2015

Alex R. Nainggolan, lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Bukunya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, Nulis Buku, 2012).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Alex R. Nainggolan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu 6 September 2015