Ziarah

Karya . Dikliping tanggal 11 Desember 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

BERTAHUN-TAHUN aku tidak pulang ke Kampung Sepu. Ketika melihatku datang beserta suami dan putra kecilku, para tetangga memicing mata. Aku melempar senyum ramah dan menyapa mereka yang hanya berbalas pandangan kian meruncing. Aku bisa memaklumi sikap mereka yang sedemikian itu. Akan tetapi, aku berharap mereka juga dapat memaklumi ketakhadiranku waktu itu.

AKU sama sekali bukan anak durhaka seperti yang mungkin mereka sangkakan. Aku bisa menjelaskan semuanya. Namun, dilihat dari tatapan mereka begitu, tampaknya mereka belum tentu sudi menyediakan telinga untuk mendengar pembelaanku. Biarlah. Toh, aku pergi ke sini bukan untuk memaksa mereka memercayai kata-kataku. Aku ke sini hanya untuk menziarahi makam ibu.

Empat tahun lalu aku menikah dengan Hendi. Aku berpacaran dengan Hendi selama dua tahun enam bulan sebelum akhirnya kami menikah. Kami berhubungan jarak jauh. Ia tinggal di Metro, Lampung. Sementara itu, aku bermukim di Kampung Sepu, pelosok Karawang, Jawa Barat, sebuah kampung yang akan terlihat kuno sekali jika dibandingkan dengan peradaban Karawang pada umumnya. Namun, Kampung Sepu tak kuno-kuno amat Listrik dan belakangan jaringan internet sudah masuk ke daerah ini. Dan dari internet itulah perkenalanku dengan Hendi bermula.

Selama satu tahun awal aku harus banyak berterima kasih pada Mark Zuckerberg, sebab dengan perantara media sosial buatannya—Facebook—komunikasiku dengan Hendi dapat terjaga. Lewat setahun itu kami lebih kerap berhubungan melalui sambungan telefon. Lokasi kerja Hendi jarang mendapat sinyal internet yang bagus.

Satu tahun lebih tiga bulan kemudian Hendi datang bersama keluarganya untuk melamarku. Di sinilah masalah berawal. Hendi yang sebelumnya mengaku padaku sebagai seorang distributor kain, mendadak berubah profesi—tidak, bukan begitu, hanya aku yang terlambat tahu bahwa pengakuannya sebagai distributor kain adalah palsu belaka.

Ayahnya membangga-banggakan Hendi. Ibunya juga begitu.

“Sebagai seorang koki kapal pesiar, pada waktunya ia pun butuh pula untuk menikah,” ucap ayah Hendi di sela-sela perbincangan.

Sontakaku terkejut, seolah-olah ada petasan meledak di dekatku. Begitu pula ibu yang duduk di sampingku membelalakkan mata. Aku kerap bercerita pada ibu bahwa Hendi cukup mapan dan penghasilannya takkan membuatku menderita, malah bisa-bisa menikah dengannya membuatku jadi perempuan paling bahagia di Kampung Sepu—jika saja kebahagiaan diukur dengan jumlah penghasilan suami.

Baca juga:  Tengah Malam Kamu Pergi - Mengantarmu Pergi - Ketika Purnama Tiba - Rindu pada Puisi

“Memang apa pekerjaannya?”

“Distributor kain, Bu. Ia menjadi pemasok kain untuk berbagai daerah di Sumatra dan Jawa.”

Maka, ketika ayah Hendi menyebut-nyebut soal koki kapal pesiar berikut aktivitas apa saja berkaitan itu dalam rangka menceritakan Hendi, tak pelak ibu terheran-heran. Ibu memandangku berkali-kali sepenuh cemas. Wajahnya menggambarkan betapa ia sangat kecewa menerima kabar itu. Aku yang tidak tahu apa-apa hanya bisa diam sekaligus menyayangkan kenapa Hendi tak jujur padaku sejak awal.

Kulihat Hendi pun menundukkan kepala terus-menerus. Saat waktu makan tiba, ia mengajakku bicara berdua. Hendi berucap ia punya alasan kuat kenapa tak mengatakan yang sebenarnya mengenai pekerjaannya. Lalu, dia minta maaf.

“Aku takut kau tidak akan menerimaku jika aku berkata yang sebenarnya sejak awal. Aku pernah mencoba menjalin hubungan beberapa kali dengan wanita dan mereka selalu perlahan berubah dan menjauhiku begitu tahu aku koki kapal pesiar. Alasannya, tentu saja, karena mereka tak ingin punya suami yang jarang di rumah.”

Aku pun begitu. Tetapi tidak kali ini. Aku tak keberatan ia pergi melintasi lautan berbulan-bulan. Asal ia tetap mencintaiku, tidak berlaku serong seperti umumnya para pekerja di kapal pesiar, dan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap keluarga. Yang membuat pekerjaannya menjadi masalah buat kelangsungan hubungan kami adalah ingatan ibu.

Namun, kapal kami sudah telanjur jauh menyusuri waktu, tidak mungkin untuk ditarik mundur secara tiba-tiba. Bisa-bisa kapal ini akan karam dan memakan banyak korban.

Akhirnya, kami tetap menikah tiga bulan setelahnya. Tanpa restu ibu.

***

SEJAK menikah, aku tinggal bersama Hendi di Metro. Dekat dengan sanak kerabat Hendi. Rumah mertuaku bahkan dapat ditempuh sepuluh menit berjalan kaki dari rumah. Sebelumnya jangan salah sangka. Ibu memang mengatakan tidak merestui pernikahanku. Namun, pada hari pernikahanku yang diselenggarakan di Kampung Sepu, ibu tampak gembira dan menyambut baik tamu-tamu. Ibu juga mengizinkanku bermukim di Metro ketika Hendi memohon untuk membawaku ke tanah kelahirannya itu.

Baca juga:  Alit dan Nita dan Kencan yang Mematikan

“Berbahagialah kau di sana bersama suami dan anak-anakmu kelak. Tak usah terlalu mengkhawatirkan ibu. Di Kampung Sepu ini ibu tidak akan kesepian. Masih ada bibi-bibimu beserta anak-anaknya yang pasti meramaikan rumah.”

Mulanya aku ragu jauh dari ibu. Aku juga tak menduga ibu mudah saja membiarkanku tinggal jauh darinya. Aku pikir itu semacam pertanda baik bahwa ibu mulai merestui pernikahanku dengan Hendi. Namun, aku keliru. Sesampainya di Metro dan aku menelefon ibu, ibu marah-marah dan bilang jangan sekali-sekali lagi aku dan suamiku datang ke Kampung Sepu.

Aku memang tidak lagi datang ke Kampung Sepu. Bukan karena aku tak mau, tetapi karena aku tak pernah sempat. Setelah pernikahan kami, Hendi terus berlayar dan hanya beberapa kali berada di rumah sepanjang tahun. Aku mengajaknya untuk mengunjungi ibu di Kampung Sepu. Namun, Hendi selalu bilang nanti saja dengan berbagai macam alasan. Aku ingin pergi seorang diri ke Kampung Sepu, tetapi itu mustahil karena Hendi dan mertuaku tak memperbolehkannya.

Alhasil bertahun-tahun aku tak pernah ke Kampung Sepu dan ibu selalu memutus sambungan telefon tiap aku menghubunginya. Jelas saja itu membuatku cemas dan didera rasa bersalah. Ibu baru mau mengangkat telefonku sebulan silam, seminggu menjelang kematiannya. Kami mengobrol panjang dan lama sekali. Ibu banyak bercerita soal ayah dengan amarah membara-bara. Selain amarah, pada percakapan itu—yang kemudian menjadi percakapan terakhir kami—kata-kata ibu juga menguarkan kesenduan. Ibu mewasiatiku macam-macam dan mengenang banyak hal, termasuk perihal hubungannya dengan ayahku yang kandas ketika aku masih sekolah dasar.

Bibiku mengabari bahwa ibu meninggal karena penyakit darah tingginya yang kian kronis. Itu sebulan lalu. Hendi masih dalam pelayaran dan baru pulang tiga minggu setelahnya. Aku mesti menunda keberangkatan untuk mengunjungi Kampung Sepu.

***

ZiarahAKU dan Hendi yang menggendong anak kami tiba di rumah bibi. Mulanya bibi seperti enggan menemui kami dan memasang ekspresi suram. Namun, begitu Hendi menyerahkan kardus berisi aneka oleh-oleh dan amplop tebal berisi uang kepadanya, bibi mulai melunak.

Baca juga:  Tangga ke Bulan

Setelah jumpa kangen dan meminta maaf kepada bibi dan sanak keluarga lainnya, aku dan Hendi lekas menyusuri jalan Kampung Sepu yang lengang dan berudara sejuk untuk berziarah ke makam ibu. Ibu dimakamkan di satu-satunya permakaman yang ada di Kampung Sepu. Sebuah permakaman tak terlalu lebar yang hanya berpagar kayu dengan pohon-pohon tinggi bertumbuhan di sekelilingnya.

Waktu itu siang sedang terik-teriknya dan permakaman kosong dari peziarah. Putra kami kutitipkan kepada bibi. Sebab ada mitos bahwa tak baik anak kecil dibawa ke permakaman. Berdua saja aku dan Hendi menjadi peziarah hari itu. Kami sudah menyiapkan sekeranjang kemboja. Guna menaburinya ke atas tanah makam ibu yang beium kering betul. Setibanya di hadapan makam ibu, aku menaburkan kemboja dan menangis sejadi-jadinya. Hendi hanya tertegun duka di sebelahku.

Aku masih menangis beberapa lama, hingga kemudian aku menyadari bahwa makam di sebelah makam ibu juga tampak baru. Bahkan lebih basah dari makam ibu. Tak seperti makam ibu yang penuh kemboja, makam itu tampak melompong dari bunga-bunga. Hanya gumpalan tanah, batu, dan kehampaan. Aku memperhatikan nama yang tertulis di atas nisan dan seketika mulutku ternganga. Itu adalah makam ayahku! Seorang pekerja kapal pesiar yang menyelingkuhi ibuku dan meninggalkan ibu dan aku begitu saja tanpa kabar.

Sepulang dari ziarah, aku menanyakan pada bibi soal makam di sebelah makam ibu.

“Itu balasan yang setimpal untuknya. Ia mati tenggelam dalam pelayaran terakhirnya. Jasadnya yang terkubur di makam itu pun sudah nyaris tak berbentuk. Ah, masih untung dia, kampung ini mau menerima jenazahnya dimakamkan di sini.” ***


[1] Disalin dari karya Win Han
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” edisi Minggu 9 Desember 2018