Zikir Hujan – Sembilan Ribu Hari

Karya . Dikliping tanggal 14 Agustus 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Zikir Hujan

ke kasih, 
segala yang pernah terjatuh ke tanah juga menapak
adalah tiap tetesan hujan yang setia memutihkan
segala cuaca.
sungai-sungai mengalirkan,
dedaunan, darah, dan air mata;
muaralah tempat berlabuh dan mengadu
sepanjang perjalanan
dekaplah segala pengakuanku
sebab, tak ada yang lebih mencintaimu
selain hujan dan tanah.
2016

Sembilan Ribu Hari

Lan, aku tak pernah paham
Tentang kota yang melahirkanmu
Setahuku,
Kau telah mengisi seluruhnya dengan puisi
Alu tak pernah membayangkan,
Apalagi memikirkan jatuh pada mata
Lan, dikelahiran yang kesembilan ribu hari
Aku ingin menanggalkan kegelisahan
Pada dada dan punggungmu
Sebab, doa-doa telah sampai
Juga seluruh cerita telah habis
Untuk usia kita
Aku mencintaimu,
Jadilah pengakrab musim ke musim
Seperti tempat dan kelahiranmu,
Agar cerita terus aku tuliskan
Cianjur, 2013








Arbi Sanit, lahir di Cianjur, Jawa Barat 28 Agustus 1990. Mahasiswa Universitas Suryakancana Cianjur. Menulis puisi dan bergiat di Warung Apresiasi Sastra (WARAS) UNSUR.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Arbi Sanit
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 14 Agustus 2016