Zuhud Waktu Membatu Dicelah Zarah Aima

Karya . Dikliping tanggal 15 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Zuhud Waktu Membatu Dicelah Zarah Aima

IV.
Aiiihhh…..Aiiihhh…..Aima
Waktu lebih cepat mendekat
Sedekat karat tak bersekat
Hati yang merekat-rekat martabat
Karena teluk lebih berhak atas lekuk
Ikan-ikan lebih berhak atas karang
Gelombang lebih berhak atas buih
Laut lebih berhak atas pantai dan pesisir
Alam menulis hukumnya sendiri
jangankan kemarahan lebih cepat pekat

Kepedihan seringkali sedikit menyela
diantara begitu banyak kegembiraan tertera
sudah berlalu lama bersapa tanpa cerita
Betapun rindu begitu dekat mendekap
berjeda titik koma yang terucap lengkap
nafas kata gelisah yang sama
Lalu mengapa tidak kita menjaganya
Bagaimanapun gemetarnya memegangi doamu
Menyimpan hasrat bertalu menuju yang maha tahu
diam didasar sungai sesabar membujuk rayu ragu

Waktu tidak pernah menunggu
Sisanya luka selebihnya semu
Hidup tak lain antrian menunggu maut-Nya
Jikalau dongeng hanyalah alpa pada waktunya
Semua akan berlabuh didermaga abadi
Hanya engkau dan aku sesepi nurani
Menyulam keheningan malam tak bertepi
secangkir pagi betapun harus tetap kopi
menganyam doa melewati sepiring harapan
merembas seperti aroma keringat keiklasan
dicelah semebrak udara yang berkelindan
meracik sungkan menawarkan persahabatan

Baca juga:  Wuru di Kebun Teh - Mesin Jahit

V.
Aiiihhh…..Aiiihhh…..Aima
Subuh pun terkatup disudut gersang
Memanggut masa muda yang lelah usang
Bencana tiada rupa bergegas lepas dipinta
Hanya malam selalu bersembunyi dibalik senja
Sewaktu kegelapan menyediakan ranjang tubuhnya
Bagai burung hantu bersarang menikam pualam
Berhati-hatilah jika bibir bawahmu memerah masam
bertambah rebah ke bawah gelisah
pertanda rasa marah sejenak masih singgah
Singgasana yang teramat agung jika ternoda
Notkah iba disebabkan salah memaknai duka
yang menumpang dideretan huruf sia-sia

Sungguhpun begitu tetaplah sulamkan kata-kata
Sebelum musim berganti rupa warna
mengelabuhui angin sepanjang laut diantara gunung
merapatkan dingin salju dendangkan kabar beku
Bukan kotamu yang membayang sepenuh kelu
kesendirian tengah membeberkan pengharapan
menjadi kayu bakar yang mengajarkan cara bertahan
seberapa panas menghantar kabar seluas kehangatan

Baca juga:  Menyimpan Rindu

Ketabahan mega-mega menanti gerimis tiba
ketika pintu-pintu menutup gelap semata
dan jendela-jendela terkatup untuk cahaya
keramahan begitu tenang dan lembut suatu ketika
sendiri menyebrangi malam seperanti hati
Kadang sunyi berpelukan gelap merindu hari
melebihi imajinasi mencuri mimpi tanpa permisi
Menikahlah seberkas aksara maya di dunia nyata
ruang niskala tak teraba sengaja mengeja mata
Zuhudkanlah waktumu dicelah zarah menjaga Darma

: Selamat pagi yang manis, Aima.

Lembah Merapi 2018.

*) Bambang J. Prasetya, penulis kelahiran Yogyakarta ini pernah mendapat beberapa penghargaan dibidang Penulisan, Sinematografi, Televisi. Karya sajak, cerpen dan esainya tersebar dalam banyak buku kumpulan antologi. Sampai saat ini masih aktif menjadi Creatif Director, Script Writer, Screenplay, Menulis Esai, Artikel, Prosa Lirik dan Buku. Fasilitator-Supervisior beberapa program kegiatan. Membenamkan diri secara intens berkelanjutan dalam kerja-kerja Media Seni Publik dan aktifitas Sosial Budaya. Berperhatian secara khusus pada permasalahan Kebudayaan dan Perdaban, sebagai suatu rangkaian dari politik keberpihakan terhadap harkat Kehidupan dan Kemanusaiaan. ❑-e


[1] Disalin dari karya Bambang J. Prasetya
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” edisi Minggu 14 Oktober 2018