Bajang

Karya . Dikliping tanggal 25 Juni 2018 dalam kategori Cerita Anak, Lampung Post

Hari ini kelasku sedang mengadakan pemilihan ketua kelas baru. Calon ketua kelas pertama Anto. Dia anak berbadan paling besar di antara anak-anak lain. Dia suka membantu teman bila diganggu anak kelas lain. Tapi dia juga suka mengganggu anak sekelasnya. Ah, kucoret namanya sebagai calon pilihanku!

Calon ketua kelas kedua Amran. Dia anak pak c a m a t . D i a suka berbuat baik, membantu anak-anak saat mengalami kesusahan, terutama masalah uang. Ronald pernah tidak memiliki uang jajan saat di kantin. Amran tanpa merasa rugi mentraktirnya makan lontong.

Aku juga sering menumpang mobilnya saat berangkat dan pulang sekolah. Rumah kami berdekatan. Ibuny dan Amran sering berkunjung ke rumahku. Setiap datang, mereka selalu membawa buah tangan. Pokoknya asyik. Rumahku menjadi penuh makanan. Paling asyik lagi, Amran sering membawa permen-permen cokelat yang dibeli ayahnya di kota. Harganya mahal. Bentuknya unik dan rasanya enak.

“Nah, ini mobil-mobilan untukmu. Ayah membelikannya dua, satu untukmu, satu untukku,” kata Amran saat berkunjung ke rumahku kemarin. Mobil-mobilan itu sangat bagus. Aku tak pernah melihat mobil-mobilan seperti itu di pasar kalangan1). Dia dibeli ayah Amran saat pergi keluar negeri. Dia bisa berbunyi seperti mobil ambulans dan mampu jungkir balik saat membentur sesuatu.

Ah, sepertinya Amran pilihan terbaik. Aku manggut-manggut sambil menyuapkan nasi uduk. Kantin kebetulan ramai anak-anak. Sebagian besar membicarakan siapa yang cocok menjadi ketua kelas masing-masing. Setiap pergantian tahun pelajaran, seluruh kelas mengadakan pemilihan ketua kelas. Pokoknya asyik. Terkadang ada anak anak yang berantem karena menjagokan calonnya masing-masing. Aku sih paling tak suka berantem hanya karena menjagokan calon ketua kelas. Dalam persoalan lain, aku pun tak suka. Untuk apa berantem hanya mencari musuh saja!

“Ir, kau mau milih siapa calon ketua kelas kita?” tanya Ronald sambil duduk di sebelahku. Dia makan siomay dengan asyiknya. Kalau sedang makan siomay, dia sering lupa kenyang.

“Hmm, siapa, ya? Sepertinya bagus-bagus.” Aku mengetuk-ngetuk pelan pilipis kiri dengan jari telunjuk seperti seorang profesor. Tik, tok, tik, tok, Ronald sampai kesal, lalu menyikut lenganku. “O, iya, kebanyakan berpikir, nih! Sepertinya aku akan memilih Amran. Dia baik hati dan anak orang kaya.” Aku membayangkan jika menjadi ketua kelas, Amran akan sering membawa oleh-oleh ke kelas, dan a k u i k u t menikmatinya.

“Aman?” Suara Rondald mengecil. Keningnya mengerut, bibirnya mengerucut. Aku tertawa geli. Ronald
selalu bersikap seperti itu bila tak senang terhadap sesuatu. “Baik sih baik si Amran itu. Tapi…”

“Tapi, kenapa? Kau juga pernah merasakan kebaikannya saat ditraktir lontong. Iya, kan! Tak boleh loh melupakan kebaikan orang.” Aku tersenyum menang sambil menyilangkan tangan di depan dada.

Pelan-pelan Ronald berbisik kepadaku, bahwa Amran suka membangga-banggakan pemberiannya. Ketika ayahnya menghadiahkan sepeda ke bapak penjaga sekolah, Amran menceritakan kalau bukan karena seped hadiah ayahnya, belum tentu bapak penjaga sekolah memiliki sepeda.

“Loh, benar, kan? Lagi pula dia membicarakan pemberian ayahnya, bukanpemberiannya!” ketusku. “Kalau kau
memilih siapa?”

“Bajang!” jawabnya mantap.

“Bajang?” Aku terkejut. Bajang adalah anak baru di sekolahku. Tubuhnya agak kurus, berkulit putih dan sering
menyendiri. Bapak Bajang hanya seorang tukang sol sepatu. Ibunya berjualan kue-kue basah. Masak Ronald menjagokan orang kere begitu. Aku sih aneh juga kenapa ibu wali kelas mencalonkan dia. Apa hebatnya?

“Meskipun anak orang kurang berada, Bajang itu pintar, bisa mengaji Alquran. Bahkan sering membantu
ibunya berjualan kue bila hari libur. Aku senang sekali, karena sekarang suka pelajaran Matematika. Bajang sering mengajariku pelajaran itu. Jangan pula tanya main bola, kalau masuk grup dia, sering menang.” Ronald berdiri sam-
bil memperagakan mengocek2) bola. L a l u , d i a p e r g i sambil tersenyum senang.

Ah, si Bajang itu hebatnya apa! Meskipun nasi uduk masih bersisa setengah piring, kutinggalkan saja karena sebal. Ngapain pula Ronald mendukung Bajang, Amran kan anak orang kaya? Bapaknya camat. Aku sekarang baru tahu kenapa anak-anak suka berantem karena menjagokan calonnya. Sebel rasanya!

Aku berjalan sambil menekuk kepala. Tapi, saat melewati lorong menuju kelas, aku tiba-tiba berhenti. Sepertinya ada orang yang menyebut-nyebut namaku. Perlahan aku mengintip dari balik dinding. Aku melihat Amran dan lima anak sedang berbincang. Amran berkata, “Kalau bukan karena aku, mana mungkin Irfan mempunyai mobilan bagus.” Dia tertawa terbahak-bahak. Anak-anak yang lain menurutinya.

“Jadi, kalau ibumu tak selalu membawakan makanan ke rumahnya, tak mungkin dong Irfan makan yang enak-enak,” kata anak yang paling kecil di antara mereka sambil memegangi perut karena kebanyakan tertawa.

“Nah, kau memang pintar! Oke, pulang sekolah nanti aku traktir makan es cendol sepuas-puasnya. Yang penting, ha, ha, ha, pilih aku dong sang ketua kelas.” Arman memainkan matanya.

Tiba-tiba aku ingin meminta maaf kepada Ronald, pilihannya memang tepat. Bajang pernah juga mengajari aku saat kesulitan memecahkan soal Matematika. n

 

[1] Disalin dari karya Rifan Nazhif
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Lampung Post” edisi Sabtu, 3 Maret 2018