Belajar dengan Tekun

Karya . Dikliping tanggal 12 September 2018 dalam kategori Cerita Anak, Kompas

Malam itu, Ginting sedang sibuk belajar di rumahnya di Kota Binjai, Sumatera Utara. Besok ada ulangan harian tematik di sekolah.

“Aduh, banyak nian yang harus dihafal. Belum pula hitung-hitungannya,” keluh Ginting.

Ibu Ginting, yang biasa dipanggil Mamak, tersenyum mendengar perkataan Ginting. Beliau kemudian ke dapur untuk membuat susu cokelat.

“Ini susu buatmu. Belajar yang semangat, ya!” Mamak meletakkan segelas susu di dekat meja belajar.

Beberapa jam kemudian, Mamak menengok kamar Ginting. Dilihatnya Ginting masih sibuk dengan bukunya.

“Tidurlah dulu, Nak. Sudah malam. Besok kau bisa telat ke sekolah,” saran Mamak.

“Sebentar lagi, Mak. Ada pelajaran yang belum Ginting baca,” jawab Ginting.

Mamak hanya geleng-geleng kepala.

Esoknya, akibat begadang semalam, Ginting hampir terlambat bangun. Ia juga masih mengantuk di sekolah. Untung saja ia masih bisa mengerjakan ulangannya dengan baik. Setelah semua anak selesai mengerjakan ulangan, Ibu guru langsung memeriksanya. Tidak lama kemudian, hasil ulangan pun dibagikan.

“Capek-capek aku belajar, hasilnya hanya dapat nilai 75,” keluh Ginting. Ia melirik nilai Agam, teman sebangkunya.

“Hebat kau, Gam! Dapat nilai 100. Pasti semalam kau belajar sampai pagi,” tebaknya.

“Bukan begitulah kawan. Mana kuat aku belajar sampai pagi.”

“Lalu bagaimana kau bisa dapat nilai bagus? Materi ulangan kali ini kan sangat banyak,” tanya Ginting penasaran.

“Aku tiap hari sudah belajar sedikit demi sedikit. Dengan begitu lebih mudah memahami materinya.”

Ginting hanya manggut-manggut. Berbeda dengan Agam, ia baru belajar kalau mau ulangan saja. Makanya ia kewalahan.

“Kalau disiplin belajar setiap hari, pasti akan lebih mudah mencerna materi. Contohnya saat aku merasa masih kurang di pelajaran matematika, aku coba selalu mengulang-ulang pelajaran itu sampai aku bisa,” jelas Agam lagi.

Tak berapa lama, Ibu guru Jeni berkata di muka kelas.  “Hasil ulangan sudah Ibu bagikan. Agam yang mendapatkan nilai tertinggi, 100.  Nah, kalian bisa mencontoh cara Agam belajar. Ia dengan tekun terus mengulang pelajaran sekolah setiap hari. Jika ada pelajaran yang tidak mengerti, Agam selalu bertanya pada ibu guru atau orang tuanya di rumah.”

“Iya, Bu,” jawab anak-anak serempak.

“Satu hal lagi, sikap tekun membuat kita tidak gampang menyerah dan berputus asa dalam menghadapi persoalan. Itulah yang akan membuat kita sukses di masa depan.”

Anak-anak dengan sungguh-sungguh mendengar nasihat ibu guru Jeni. Mereka menjadi kembali bersemangat untuk belajar. Di dalam hati, Ginting juga bertekad akan mulai belajar dengan tekun setiap hari. Agar nanti saat ulangan ia bisa lebih siap lagi. *

 

[1] Disalin dari karya Herdita Dwi R

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” rubrik Nusantara Bertutur edisi Minggu, 9 September 2018