Buku-Buku Terbang

Karya . Dikliping tanggal 10 September 2018 dalam kategori Cerita Anak, Lampung Post

BONI mendekati salah satu lemari penuh buku. Diambilnya salah satu buku lalu ia duduk di salah satu meja yang sisi kanan dan kirinya diberi sekat. Ini adalah kali pertama ia memasuki perpustakaan kota tempat tinggalnya.

Di sekolah, Boni jarang sekali mengunjungi perpustakaan. Dalam sepekan mungkin hanya satu atau dua kali. Itu pun karena ada tugas dari Pak Guru Sole. Kalau tak ada tugas ia lebih memilih berada di kantin.

Baru beberapa saat Boni duduk membaca buku sudah merasa bosan. Ia berjalan menyusuri lorong. Di kanan kirinya lemari penuh buku berjejer rapi. Tiba-tiba langkahnya terhenti di depan sebuah ruangan yang pintunya tertutup. Sebuah tulisan dari ukiran kayu terpampang dengan jelas. Buku-Buku Terbang. Dibukanya pintu itu perlahan.

Whooaa!” seru Boni. Matanya terbelalak kaget. Lemari penuh berisi buku berjejer-jejer rapi. Sebenarnya, yang membuatnya kaget adalah ukuran lemari dan buku yang diihatnya. Buku-buku itu sangat besar. Mungkin sepuluh kali lipat dari buku yang ia miliki.

Paman Hane, penjaga perpustakaan kota datang dengan tergesa. Tak lama berselang teman-teman Boni datang dengan wajah ceria.

“Sstt… Ale, aku ingin bertanya sebentar,” bisik Boni. Ale adalah teman Boni. Ia suka sekali membaca buku dan rajin mengunjungi perpustakaan di sekolah.

“Ada apa?” Ale memelankan suaranya.

“Apakah memang buku-buku di sini ukurannya tidak seperti biasa ya?” tanya Boni ingin tahu.

“Kenapa kamu bertanya seperti itu?” Ale balik bertanya.

“Itu.” Boni menunjuk buku-buku berukuran besar tersusun rapi di lemari. Ale tak menjawab. Ia justru tertawa kecil dan mengedipkan sebelah matanya.

“Lihat saja kejutan yang akan Paman Hane berikan.” Ale melangkah pergi meninggalkan Boni.

“Baik anak-anak, seperti yang telah saya sampaikan kemarin. Hari ini ada kejutan untuk kalian,” Paman Hane membuka suara.

“Kejutan?” Boni makin penasaran. Ia tak sabar ingin tahu kejutan apa yang akan diberikan Paman Hane.

“Aku akan memberi waktu kalian beberapa saat. Silakan pilih buku apa saja yang kalian sukai.” Paman Hane menyodorkan kertas berisi gambar sampul buku. Anak-anak bebas memilih buku yang disukainya.

“Hei Boni! Kenapa kamu diam saja di situ?” panggil Paman Hane.

Boni terkejut. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Ayo lekas mendekat dan pilihlah buku yang kau sukai,’ lanjut Paman Hane.

Boni masih terdiam. Ia tak suka membaca buku. Kalau saja tak ada tugas dari Pak Guru Sole, tentunya Boni tak akan pergi ke perpustakaan. Ia lebih memilih santai saja di rumah.

“Oh … Maaf. Tidak Paman Hane. Terima kasih, aku hanya mencari buku untuk mengerjakan tugas dari Pak Guru Sole.

“Wah, sayang sekali. Kukira kau pasti akan tertarik dengan kejutan yang akan aku berikan.”

Dalam hati Boni sebenarnya penasaran dengan kejutan yang akan Paman Hane berikan. Tapi mendengar kata buku, ia sudah merasa bosan sekali. Apalagi berlama-lama membaca buku di perpustakaan. Membayangkan saja, kepalanya langsung terasa pusing.

“Kamu yakin, Boni?” Paman Hane bertanya sekali lagi pada Boni.

Boni mengangguk pelan.

“Baiklah kalau begitu. Sudah siap semua?” Tanya Paman Hane pada anak-anak.

“Siap, Paman Hane,” jawab anak- anak serempak.

Buter.. Buter… Hap..!!” teriak Pa-man Hane sambil mengacungkan jari telunjuknya. Seketika lemari berisi buku berukuran besar itu bergoyang- goyang. Satu per satu buku terbang melayang-layang lalu berhenti di atas kepala mereka. Anak-anak melonjak- lonjak kegirangan. Hanya Boni yang terbengong-bengong.

Ini punyaku-ini punyaku. Suara mereka terdengar riuh. Ini buku tentang laut. Ini buku tentang hutan. Suara terdengar semakin ramai.

“Asyik, ini buku kesukaanku, buku tentang luar angkasa! ” teriak Ale sambil melompat-lompat senang. Seketika buku itu terbuka lalu melekat di punggung mereka seperti sayap burung. Perlahan-lahan sayap buku itu bergerak-gerak. Selang beberapa saat kaki mereka mulai terangkat. Paman Hane membuka jendela.

Wuusss!!!

Satu per satu terbang ke luar melalui jendela yang dibuka Paman Hane.

“Bagimana cara mengendalikan buku ini, Paman Hane?” Tiba-tiba Boni mulai takut.

“Bagaimana, Paman?” tanya Boni lagi. Kali ini wajahnya terlihat pucat.

“Seharusnya kamu bisa mengendalikannya seperti teman-temanmu. Apa kah kamu sudah pernah membaca buku itu?” Paman Hane merasa heran.

“Belum, Paman,” jawab Boni penuh sesal.

“Sayang sekali, aku tak dapat membantumu. Karena cara mengendalikannya ada di dalam buku itu.”

Brakkk!!!

Buku yang dipegang Boni terjatuh ke lantai. Ale dan beberapa teman yang tengah membaca sontak melihat ke arah Boni. Boni melihat sekeliling. Semuanya tampak hening. Buku-buku berukuran besar tak Boni jumpai. Paman Hane melihat ke arah Boni. Ia mendekatkan jari telunjuknya ke bibir, memberi isyarat agar jangan gaduh. **

 

[1] Disalin dari karya Suwanda

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Lampung Post” edisi Minggu, 9 September 2018

Sila Nilai-Bintang!