Cerita Rahasia

Karya . Dikliping tanggal 25 Maret 2019 dalam kategori Cerita Anak, Pikiran Rakyat

PAGI itu Pak Ajat, guru wali kelas V SD Mandiri mengajar di depan kelas tanpa kacamata. Alhasil, berulang kali Pak Ajat membuat kesalahan penulisan hingga anak- anak menjadi bingung. Pada jam istirahat, Randi sang ketua kelas menanyakan alasan Pak Ajat tidak memakai kacamata.

“Kacamata Bapak pecah, kemarin terjatuh dari saku baju Bapak saat Bapak naik ke genteng membetulkan genteng rumah yang bocor,” jelas Pak Ajat pada Randi.

“Tidak membeli yang baru ke optik Pak?” tanya Randi.

Pak Ajat hanya membalas dengan senyum. Usai bel tanda sekolah berdentang, Randi mengumpulkan teman-temannya untuk rapat tentang kacamata Pak Ajat. Karena tanpa kacamata, Pak Ajat berkali-kali membuat kesalahan yang membuat anak-anak menjadi bingung.

“Berapa jumlah uang kas kelas kita?” tanya Randi pada Sita bendahara kelas.

“Ada kurang lebih dua juta rupiah,” jawab Sita.

Setelah berdiskusi dengan teman-temannya, akhirnya mereka sepakat membelikan kacamata baru untuk Pak Ajat menggunakan uang kas. Mereka pun membuat rencana agar Pak Ajat mau diajak ke toko optik untuk diperiksa matanya agar kacamata yang dibelikan nanti sesuai baik ukuran maupun jenis lensanya.

“Aku berpura-pura bertengkar dengan Dea, karena kesal, lalu aku sembunyi di toko optik dan tidak mau pulang. Kemudian, kalian meminta Pak Ajat agar mau ke optik menemuiku dan menasihatiku agar mau pulang supaya orangtuaku tidak khawatir. Setelah aku dan Dea bermaaf-maafan, Pak Ajat ditawari periksa mata gratis oleh petugas Optik,” ucap Sita mengulangi urutan rencana yang dibuat bersama teman-temannya

“Berarti siang ini aku harus ke toko optik untuk memberi tahu petugas optiknya tentang rencana kita sehingga dia bisa ikut dalam drama kita,” ucap Randi.

Semuanya mengangguk sepakat.

Keesokan harinya, sepulang sekolah, Randi bersama kawan-kawannya mulai melaksanakan rencananya. Sita dan Dea tampak saling berteriak-teriak persis seperti anak yang sedang bertengkar. Kemudian, Sita terlihat membanting tasnya dan berlari menuju optik. Melihat pemandangan tersebut, Pak Ajat lalu memungut tas Sita dan memanggil-manggil Sita. Namun, Sita tak memedulikannya, dia terus berlari ke arah toko optik dan masuk ke toko itu.

Randi kemudian memainkan perannya. Dia memohon kepada Pak Ajat agar Sita mau berdamai dengan Dea. Pak Ajat menyanggupi. Mereka kemudian beramai-ramai mendatangi toko optik. Di toko itu, Pak Ajat menasihati Sita dan Dea hingga keduanya bersalaman tanda telah saling memaafkan. Saat akan keluar toko, petugas optik segera memainkan perannya menawari periksa mata gratis kepada Pak Ajat. Tetapi di luar dugaan, ternyata Pak Ajat menolak karena dia sedang terburu-buru! Randi dan kawan-kawan menjadi panik! Mereka khawatir rencana mereka gagal. Dea lalu kembali membuat drama dengan menjatuhkan dirinya hingga berpura-pura lututnya terluka. Petugas optik lalu mengajak Pak Ajat masuk kembali ke toko optik untuk bersama-sama mengecek luka kaki Dea.

Petugas optik menyarankan kepada Pak A iat agar diperiksa matanya sambil menunggu luka Dea diobati oleh petugas optik yang lain. Untunglah Pak Ajat bersedia karena Pak Ajat merasa khawatir jika Dea betul-betul terluka.

Setelah petugas optik selesai memeriksa mata Pak Ajat, Dea pun kembali berpura-pura sehat seolah-olah lukanya sudah diobati. Semuanya pulang ke rumah masing-masing dan berharap kacamata Pak Ajat bisa selesai sore itu.

Pagi sekali Randi sudah menunggu teman-temannya di pintu kelas.

“Kacamata Pak Ajat sudah jadi!” ucap Randi sambil menunjukkan bungkusan berwarna cokelat. Pelajaran pertama berlalu hampir satu jam. Tiba-tiba Pak Ajat kembali salah menuliskan angka hingga murid-murid kembali menjadi bingung. Segera Randi maju ke depan kelas seraya menyerahkan bungkusan berisi kacamata kepada Pak Ajat.

“Mohon bisa diterima, Pak! Ini sekadar tanda sayang kami kepada Bapak,” ucap Randi diiringi suara kompak teman-teman satu kelasnya yang berucap, “Mohon diterima Pak! Kami sayang kepada Bapak!”

Betapa terharunya Pak Ajat. Sambil berkaca-kaca, dia mulai mengenakan kacamatanya seraya mengucapkan terima kasih pada semua murid-murid kesayangannya.

Randi, Sita, Dea, dan teman-temannya yang lain saling melempar pandangan serta mengangguk sepakat. Mereka sepakat tidak akan menceritakan kepada Pak Ajat bahwa kejadian kemarin siang di optik hanya sebuah drama rekaan. Biarlah hal itu tetap menjadi cerita rahasia.

Kelas VI SDN 164 Karangpawulang, Jalan Karawitan No 81 Bandung


[1] Disalin dari karya M Nadziif H
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 24 Maret 2019