David Sayang Papa

Karya . Dikliping tanggal 12 Desember 2018 dalam kategori Cerita Anak, Majalah Bobo

David duduk di bangku taman sambil menggoyang-goyangkan kakinya lesu. Doggy, anjing kecilnya, menguik-nguik mengitari kaki majikan kecilnya.

“Jangan bersedih. Ayo, kita bermain,” mungkin itu yang dikatakan Doggy.

Dari kejauhan, David melihat seorang anak perempuan bermain ayunan ditemani kedua orang tuanya. Dia memekik kesenangan ketika ayunan melambung tinggi.

“Walaupun hanya punya papa, aku pun tak kalah bahagianya dengan mereka yang punya papa dan mama,” batin David. Dia lalu duduk di ujung papan jungkat-jungkit. Dengan mata sayu dipandanginya papan kosong di seberangnya. Tiap akhir pekan David dan papanya selalu datang ke taman mini. Mereka akan memberi makan merpati, mencoba golf mini, naik undak-undakan pasir … tapi yang paling disukainya adalah naik papan jungkat-jungkit sambil makan es krim. Saat itu, mereka bisa ngobrol tentang banyak hal.

“Kira-kira peran apa yang akan kamu mainkan, David?” tanya papanya menjelang lomba drama antar sekolah.

“Yaa … saat pelajaran kesenian tadi, Bu Grasie memberitahukannya Jimi jadi Raja, Kris jadi Putri … sedangkan aku, jadi pangeran yang dikutuk jadi kodok,” ucap David lemah. “Selama pertunjukan aku akan berpakaian kodok warna hijau menyebalkan!”

“Wow! Pakaian kodok! Betapa hebatnya peran itu. Semua orang tahu, betapa sulitnya berperan sebagai binatang. Papa yakin, Bu Grasie tahu kemampuan aktingmu yang hebat. Makanya dia memilihmu. Hm, hm, penonton pasti bertanya-tanya, siapa tokoh besar di balik pakaian kodok. Seusai pertunjukan, Papa akan mengatakan pada mereka, ‘Itu anakku, David. Dia bermain dengan sangat baik, bukan?’”

Mendengar papanya mengucapkan kalimat itu dengan mata berbinar-binar, David yang mulanya membenci peran kodoknya, pelan-pelan mulai menyukai perannya. Dia berlatih penuh semangat. Dan memang akhirnya sekolah David berhasil menjadi juara kedua. David juga terpilih menjadi pemain favorit.

Papanya memang selalu membuatnya menjadi anak yang berarti. “Itu dulu. Sekarang Papa tak lagi menginginkanku,” desisnya sambil tetap memandang ujung papan jungkat-jungkit yang kosong.

Kemarin, Bibi Katya, adik papanya datang. Tak sengaja, David mendengar percakapan Bibi Katya dan papanya. “David bukan anak kandungmu …. Biar dia tinggal bersamaku,” bisik Bibi Katya. Papanya kemudian berkata, “Kalau begitu, besok David boleh tinggal bersamamu.”

Lamunan David buyar ketika tiba-tiba Doggy melompat ke dadanya. Tampaknya dia bosan dicuekin. David memeluk erat. Dulu Doggy dipungutnya dari dalam kardus bertuliskan PELIHARALAH SAYA. Hal itu biasa dilakukan terhadap anjing-anjing yang dibuang pemiliknya. “Nasib kita sama, Doggy. Aku pun diambil Papa dari panti asuhan.”

Doggy tak mungkin diserahkannya pada orang lain meskipun dibayar.

“Pasti Papa punya alasan sendiri …. Kalau tidak, tak mungkin aku diserahkan pada Bibi Katya,” David mencoba menghibur dirinya sendiri.

Setibanya di rumah, David melihat dua koper berjejer di samping tangga. Isinya pasti pakaianku, pikir David sedih. Dia melihat papanya turun dari tangga sambil menenteng satu koper lagi.

“Ah, sudah pulang rupanya. Sejak pagi Papa mencarimu,” papanya tersenyum lebar.

David berusaha keras menahan air matanya.

“Bersiap-siaplah. Sebentar lagi Bibi Katya menjemput. Papa betul-betul minta maaf, semalam tak sempat mengatakannya padamu. Rencananya pagi ini Papa akan memberi tahu, tapi kamu ke taman, ya?”

David tetap diam. Dia mengikuti papanya ke ruang makan. Sebentar lagi, papanya pasti akan mengatakan, “David, kamu bukan anakku. Aku tak menyayangimu lagi.” David benar-benar ngeri membayangkannya.

“David …” papanya mulai bicara, “Kamu tahu kalau Bibi Katya tak punya anak. Dia dan suaminya memutuskan untuk mengangkat anak laki-laki seusiamu. Tapi mereka takut tak dapat membahagiakan anak itu. Semalam Bibi Katya meminta Papa agar mengizinkanmu tinggal bersamanya selama dua minggu. Hanya untuk memastikan bahwa mereka telah siap menjadi orang tua yang baik. Karena sekarang kamu libur sekolah, Papa pikir, tidak ada salahnya kamu tinggal bersama mereka selama dua minggu. Kamu bersedia menolong mereka, kan?”

David membelalakkan mata.

“Papa harap, seminggu lagi kamu sudah kembali. Dua minggu tanpamu pasti membosankan. Tak ada yang memijat kaki Papa, tak ada yang menyambut Papa pulang kantor … dan tak ada yang mengucapkan ‘selamat malam’ ketika akan tidur.”

David segera memeluk papanya erat-erat, “Pa, aku akan segera kembali. Karena aku sayang Papa sebanyak bulu Doggy.”

Papa David terkekeh, “Kalau bulu Doggy rontok, apakah sayangmu juga lenyap?”

David menggeleng kuat-kuat. “Aku akan lebih menyayangi Papa. Tidak sebanyak bulu Doggy saja, tapi sebanyak bulu anjing di seluruh dunia ini.”

David tak peduli lagi walaupun Papa bukan papa kandungnya. Yang penting dia menyayangi papanya dan Papa menyayanginya. *****


[1] Disalin dari karya Hervianna A. Hiskia
[2] Pernah tersiar di “Majalah Bobo” No. 44 Tahun XXVII 3 Februari 2000