Dido dan Nenek Misterius

Karya . Dikliping tanggal 5 September 2018 dalam kategori Cerita Anak, Lampung Post

SUATU hari sepulang sekolah, ia bertemu seorang nenek yang misterius. Dido penasaran dan ingin sekali tahu apa yang dilakukan nenek itu. Walaupun sebenarnya Dido takut karena ibu pernah bercerita mengenai seorang perempuan yang hilang di kebun Kecilungan.

Setiap malam sebelum tidur, Dido memang kerap minta diceritakan oleh ibu. Dido suka bercerita dan diceritakan sejak ia bisa membaca buku. Di sekolah, Dido sering meminjam buku di perpustakaan.

Di sebuah sore yang masih disinari matahari, Dido menemui Nana di rumahnya.

“Kita harus tahu apa yang dilakukan nenek itu,” ucap Dido kepada Nana.

“Tapi aku takut,”

“Tidak usah takut. Kita kan ramai- ramai. Nanti aku ajak Dik Muna sekalian. Biar kita semakin berani menghadapi nenek itu.”

“Tapi apa yang bisa kita lakukan?”

“Menangkapnya.”

Seperti seorang detektif cerdik, Dido memberi tahu teman-temannya bagaimana agar bisa menangkap nenek misterius.

“Suatu kali aku melihatnya di kebun Kecilungan, tapi tidak jelas apa yang dilakukannya. Ia hanya duduk di bawah pohon gayam. Pohon itu kan angker. Hiii!”

“Jangan begitu, Dido. Kita enggak boleh berburuk sangka.”

Ibu Dido memang pernah bercerita tentang seorang perempuan yang hilang. Kata orang-orang, perempuan itu dikejar hantu Kecilungan, tersesat, dan tidak pernah pulang. Sering jika Dido atau anak-anak lain susah disuruh makan atau mandi karena terlalu asyik bermain, para ibu akan menakut-nakuti bahwa mereka akan dibawa hantu Kecilungan. Selanjutnya, mereka akan takut dan menjadi penurut.

“Aku tidak mau ambil risiko, Dido,” kata Dik Muna.

“Enggak usah takut, Dik Muna. Kita kan berjumlah banyak. Nenek itu sendirian. Dia pasti kalah,” ujar Dido meyakinkan.

Saat anak-anak lain sedang sibuk berunding, Dwi datang bersama Satria.

“Kalian sedang apa?”

“Kami ingin menangkap nenek misterius. Kalian mau ikut?”

“Nenek misterius?”

Dido, Nana, dan Dik Muna mengangguk.

“Nenek misterius yang aneh. Kami tidak pernah melihatnya. Jangan-jangan dia hantu.”

Dwi dan Satria saling berpandangan.

Pada Minggu, anak-anak sudah berkumpul di halaman Musala Darul Abror yang tidak jauh dari kebun yang akan menjadi tempat menangkap nenek misterius.

“Aku sudah menyiapkan kain untuk menutup kepala nenek itu. Setelah mata tertutup, nenek itu tidak akan bisa melawan,” ucap Nana.

“Bagus. Yang lain?” lanjut Dido.

Tidak ada jawaban. Anak- anak hanya saling berpandangan.

“Baiklah, kita bisa berangkat.” Dido terlihat sangat bersemangat.

Sesampainya di dekat kebun, anak-anak bersembunyi di balik rimbun daun-daun wora-wari (daun bunga sepatu), daun yang sering mereka gunakan untuk membuat minyak buatan. Mula-mula daun itu diremas di dalam air, lama-lama air itu akan mengental oleh getah daun wora-wari.

“Dido …”

“Ssst!”

“Jadi nenek Sukini yang kamu maksud?”

“Satria kenal?” Dik Muna terkejut.

“Bagus bercerita kalau neneknya yang tinggal di Semarang berkunjung ke rumahnya dan akan menetap. Soalnya di Semarang Nenek Sukini kesepian. Anak- anaknya sudah hidup sendiri-sendiri. Ayo ikut aku…”

Dwi menarik lengan Dido.

“Selamat siang, Nek. Perkenalkan, kami teman-teman sekolah Bagus.”

Nenek Sukini mengajak anak- anak ke rumah Bagus. Mereka duduk di bale-bale bawah pohon kresen. “Jadi, sebenarnya apa yang nenek lakukan di kebun Kecilungan?”

“Mulai dari mencari kayu bakar, daun kelapa untuk dibuat sapu lidi, kebrok (nama lain kluwih), rebung, dan masih banyak yang lain. Selain mengurangi sampah, buah dan daun itu bisa bermanfaat untuk kita. Selain untuk digunakan sendiri, juga bisa untuk dijual. Lagi pula nenek tidak bisa berdiam diri tanpa melaku- kan sesuatu. Jika sudah dijual, uangnya bisa digunakan untuk membeli makanan kucing dan ayam.”

Anak-anak semakin terkejut, terlebih Dido yang sudah berburuk sangka.

Nenek Sukini mengajak anak-anak ke pekarangan belakang rumah Bagus. Di sana ada Bagus yang sedang berjongkok, memberi makan ayam-ayam.

Tiba-tiba Nana menjerit. Beberapa ekor kucing menggesek- kan tubuh ke kaki Nana. Anak-anak lain tertawa karena tahu Nana tidak terlalu menyukai kucing.

“Tidak suka tidak apa-apa, asal jangan sampai menyakiti,” kata Nenek Sukini, nenek misterius yang ternyata punya sifat baik hati dan penyayang binatang. ***

 

 

[1] Disalin dari karya Fina Lanahdiana

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Lampung Post” edisi Minggu, 2 September 2018

Sila Nilai-Bintang!