Ikat Kepala Nusantara

Karya . Dikliping tanggal 30 Juli 2018 dalam kategori Cerita Anak, Kompas

Dadang, Bowo, dan Rafael sedang asyik bersepeda mengeliling kompleks perumahan mereka di Kota Bandung, Jawa Barat. Mereka bertiga lalu melihat Kang Asep sedang duduk di teras rumahnya sambil membuat sesuatu. Kang Asep adalah ketua karang taruna di kompleks. Ketiga anak itu lalu mampir ke rumah Kang Asep.

Punten, Kang Asep!” sapa mereka bertiga.

“Eh, kalian. Mangga… Mari masuk!” sahut Kang Asep.

Dadang  lalu bertanya, “Kang Asep sedang membuat apa?”

“Oh, ini totopong. Iket kepala sunda untuk dipakai di kepala,” jawab Kang Asep.

“Apa kalian juga mau ikut belajar membuatnya?” kata Kang Asep lagi.

“Kelihatannya rumit ya, Kang,” komentar Rafael.

“Tidak rumit. Dicoba dulu atuh,” bujuk Kang Asep.

Kemudian, Kang Asep memberi selembar kain batik pada masing-masing anak. Kang Asep lalu mengajari ketiga sahabat itu cara melipat kain untuk dijadikan totopong.

“Kalau lihat ikat kepala ini, aku jadi teringat blangkon milik bapak,” celetuk Bowo yang berasal dari Jawa Tengah.

“Mungkin juga, karena keduanya sama-sama berbahan dasar kain batik. Totopong ini khas Sunda, sedangkan blangkon khas Jawa,” timpal Kang Asep. “Masih banyak lho, daerah lain yang mempunyai ikat kepala yang khas. Kalian tahu tidak?”

“Aku tahu, Kang,” seru Dadang. “Udeng, dari Bali.”

“Benar sekali. Ada juga tanjak yang dipakai orang Melayu di Sumatera,” tambah Kang Asep.

Dadang dan Bowo antusias mendengar penjelasan Kang Asep. Sementara Rafael hanya terdiam.

“Kamu kenapa diam saja, Rafael?” tanya Kang Asep.

“Saya bingung, Kang. Kalau daerah asal saya, ada ikat kepala yang khas tidak, ya?” tanya Rafael. Ia berasal dari Sulawesi Utara.

“Ada. Suku Minahasa dari Sulawesi Utara punya penutup kepala khas bernama porong,” jawab Kang Asep. “Setiap Provinsi di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, semua kaya dengan kebudayaan daerahnya masing-masing. Ada tarian, pakaian, rumah adat, sampai makanan pun beraneka ragam. Termasuk juga ikat kepala seperti ini.”

Kang Asep lalu berkata, “Kebudayaan daerah akan memperkaya kebudayaan nasional. Keberagaman budaya yang ada akan menjadi identitas Bangsa Indonesia. Itulah mengapa kita wajib untuk melestarikannya.”

“Wah, hebat sekali, ya, Negeri kita Indonesia,” ucap Dadang bangga. Mereka bertiga terus lanjut belajar membuat totopong.

“Nah, simpul terakhir diikat ke depan,” jelas Kang Asep sambil memperlihatkan caranya.

Akhirnya jadilah totopong buatan mereka masing-masing. Dadang, Bowo dan Rafael puas melihat hasilnya. Mereka langsung memakai totopong hasil karya  mereka sendiri itu.

“Dengan mempelajari kekayaan budaya daerah seperti ini, rasa cinta kita pada Indonesia akan terus tumbuh,” tambah Kang Asep bijak. Dadang, Bowo, dan Rafael mengangguk setuju. *

 

[1] Disalin dari karya Herdita Dwi R.

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” rubrik Nusantara Bertutur edisi Minggu, 29 Juli 2018