Jangan Bilang Siapa-siapa

Karya . Dikliping tanggal 23 Juli 2018 dalam kategori Cerita Anak, Majalah Bobo

Pagi itu halaman sekolah masih sepi. Inno, salah satu siswi kelas VB memang sudah terbiasa datang lebih awal. Daun-daun pohon akasia di halaman meneteskan air sisa dari hujan semalam. Tik tik tik … plok!

Ouwh? Betapa terkejutnya Inno ketika sebuah lipatan yang berbentuk persegi melayang dan menabrak tangannya. Lalu jatuh tepat di tali sepatunya.

“Good morning, Non!” sapa Pak Ardi, pegawai tata usaha yang mulai sibuk bersih-bersih di belakang mejanya.

“Ah! Pak Ardi, bikin kaget saja. Good morning too,” sahut Inno seraya mengambil lipatan kertas itu.

Sambil terus berjalan ke kelas, Inno iseng membuka lipatan kertas itu. Ada tulisan yang terketik rapi di kertas itu. Dibaca, dan dibacanya lagi ….

“Oh my God!” Inno bengong. Itu ternyata soal untuk ulangan matematika minggu depan, kelas … tanggal … waktu …. Lho!

“Hello, In. How are you today?” sapa Winna yang baru saja datang.

“Oww, I am fine, fine. Thanks.” Inno memasukkan kertas buram tadi ke dalam tasnya dengan gugup.

“Apaan itu, In?” tanya Winna ingin tahu.

“Oh ini, sa … su … surat,” jawab Inno semakin gugup.

Untunglah Ewin, Rina, dan Pam datang bersamaan dan memasuki kelas. Lalu anak-anak yang lain. Suasana kelas mulai ramai. Winna tidak tertarik lagi pada surat itu. Beberapa menit kemudian bel masuk berbunyi. Teeet … teeet ….

Ketika pelajaran Bahasa Indonesia dimulai, Inno tidak dapat konsentrasi. Apakah kertas itu masih digunakan? Ah, tidak mungkin. Tadi, kan, Pak Ardi sengaja membuangnya. Inno bingung memikirkan kertas soal ulangan tadi.

Teeet … teeet …. Bel istirahat berbunyi.

Teman-teman Inno berlomba pergi ke kantin. Cuma Inno yang malas.

“In, ada apa sih? Sejak tadi kulihat kamu melamun saja,” tegur Rita.

Inno menengok ke kiri dan kanan, lalu berkata, “Rit, jangan bilang siapa-siapa ya! Ng tadi ….” Inno ragu-ragu.

“Tadi apa?” tanya Rita penasaran.

Inno akhirnya menceritakan peristiwa pagi tadi. Ia memperlihatkan kertas berisi soal ulangan matematika tadi pada Rita.

“Haaaa …” setengah tidak percaya Rita memelototi lembar soal itu.

“Hayoo! Dapat bocoran soal ya? Kasih tahu kita-kita, dong!” sergap Lina dan Resi bersamaan.

Inno dan Rita terkejut melihat mereka muncul tiba-tiba dari belakang.

“Ssst! Jangan keras-keras!” seru Rita.

Akhirnya mereka berempat membicarakan soal ulangan matematika itu. Berulang kali Inno mengingatkan untuk tidak memberikan soal itu pada anak lain.

Tapi entah lupa, atau tidak sadar … yah, lidah memang tak bertulang. Suatu hari,

“Eh, Ewin! Kamu mau kuberi info?” Lina menawarkan.

“Info, info apa?” tanya Ewin.

“Ah! Ini menyangkut ulangan besok,” jawab Lina serius, lalu memperlihatkan selembar kertas yang penuh berisi salinan soal matematika. “Inno yang menemukan kertas soal itu. Katanya, Pak Ardi tanpa sengaja membuang kertas itu. Tapi awas lho Win … jangan bilang siapa-siapa!”

“Oke-karaoke-lah!” Ewin mengangguk setuju.

Namun begitulah! Walaupun selalu ditekankan “Ingat, jangan bilang siapa-siapa!” ternyata bocoran soal itu terus menjalar dari satu anak ke anak yang lain. Sampai akhirnya seisi kelas mengetahuinya.

Akhirnya tibalah hari ulangan itu.

Pak Immanuel, guru matematika mulai membagikan kertas soal ulangan. Dan, oww! Soal yang mereka terima, sama persis dengan yang telah mereka ketahui sebelumnya.

“Bagai mimpi,” ujar Pam.

Di bangku lain, tampak Lulu berulang kali mencubit-cubit pipinya sendiri.

Satu minggu pun berlalu. Kelas VB heboh. Hampir 90% siswa kelas mendapat nilai seratus. Selebihnya mendapat nilai 85 ke atas. Pak Immanuel bangga sekaligus bingung. Bangga karena punya anak didik yang pandai-pandai. Dan berarti dirinya telah berhasil mengajar. Namun beliau juga bingung. Sebab, pada ulangan-ulangan sebelumnya, nilai yang tertinggi hanya 72 atau 75. Selebihnya 50, 60 … bahkan Pam dan Lulu langganan dapat nilai 45. Apa mereka cinta tahun kemerdekaan?!

Pak Guru akhirnya mencoba menawarkan ulangan yang kedua kalinya. Namun semua anak tidak setuju.

“Nilai kita kan bagus-bagus. Kenapa harus diulang?”

“Habis ulangan ya happy-happy dong …” seru Lina.

Pak Immanuel lalu mencari informasi ke siswa-siswi yang bisa dipercaya. Akhirnya, terbongkarlah rahasia “keberhasilan” siswa-siswi kelas VB yang menghebohkan itu.

Pada hari itu juga Inno dipanggil ke kantor untuk menghadap Pak Immanuel. Ketika ditanya, tanpa bimbang Inno menceritakan bagaimana sampai ia menemukan lembaran soal itu.

Ah, Inno tidak bisa disalahkan. Dia kan, tidak sengaja menemukan lembaran soal itu! batin Pak Immanuel. Dan Pak Ardi juga tidak salah. Kalau dia lupa, itu kan memang salah satu sifat manusia, pikir Pak Immanuel.

Pada saat pertemuan berikutnya, Pak Immanuel mengumumkan bahwa ia sudah tahu soal bocoran soal itu. Dan hasil ulangan kemarin dianggap tidak sah!

“Kalian semua sudah besar. Kesadaran dan kejujuran adalah hal yang utama. Jika tidak jujur, risiko ditanggung sendiri,” tekan Pak Guru.

“Ulangan keduanya kapan, Pak?” tanya Gun.

“Hari ini juga. Keluarkan selembar kertas kosong,” ujar Pak Immanuel enteng.

“Huaaa …” Mereka semua terkejut, bengong, dan saling berpandangan.

“Mimpikah aku hari ini?” ucap Lulu tanpa sadar sambil mencubit pipinya sendiri.

 

Rujukan:

[1] Disalin dari karya Ni’am Murokh’im

[2] Pernah tersiar di “Majalah Bobo” No. 36 Tahun XXVIII 7 Desember 2000