Ke Museum Kartini

Karya . Dikliping tanggal 15 Oktober 2018 dalam kategori Cerita Anak, Lampung Post

LIBURAN sekolah, Rani diajak ibunya berkunjung ke rumah sepupunya, Intan. Rumah Intan terletak di Kota Jepara, Jawa Tengah. Intan menyambut kedatangan Rani dengan gembira. Intan bahkan mengajak Rani menikmati liburan bersama.

“Bener nih, aku diajak jalan-jalan?” tanya Rani.

“Tentu saja! Kamu tidak boleh melewatkan tempat wisata ini, kalau sudah ke Jepara.” Jelas Intan.

“Iyakah? Aku jadi penasaran.” Rani terlihat sangat bersemangat.

~*~

Keesokan harinya, Intan dan Rani sudah siap untuk berangkat. Rani menurut saja dengan rencana Intan. Mereka berangkat dengan diantar Nina, kakak Intan. Selama perjalannya mereka saling bercerita dengan riang. Tapi sesampainya di tempat tujuan Rani yang asalnya sangat bersemangat tiba-tiba terlihat sedikit kecewa. Dia menatap tempat yang ada di depannya. “Museum Kartini?” lirih Rani.

“Kenapa, Ran? Kamu tidak suka?” tanya Intan yang menyadari perubahan wajah Rani.

Rani mengangguk. “Maaf …, aku tidak terlalu suka berlibur ke museum, In. Aku sering dengar, kalau mengunjungi museum itu sangat membosankan. Nggak ada yang menarik.

“Tidak bisakah kita ke tempat wisata lain? Mungkin ke Pantai Kartini atau Benteng Portugis? Atau ke tempat wisata lain di Jepara?” Pinta Rani penuh harap.

Intan sering menceritakan wisata-wisata menarik di Jepara pada Rani. Kalau pergi ke salah satu wisata itu, pasti dia tidak akan menolak. Tapi harapannya hilang ketika Intan dan Nila menggelengkan kepala. Mereka sudah telanjur di sini dan membeli tiket masuk.

“Yuk, coba dulu saja, Ran. Liburan di museum tidak sejelek yang kamu pikirkan, kok.” Bujuk Intan.

“Aku yakin kamu akan berubah pikiran setelah kunjungan ini. Kamu pasti akan ketagihan buat mengunjungi museum lain di Indonesia. Kamu tahu, kan banyak banget museum di negeri ini? Aku saja penasaran ingin mengunjungi semua.” Intan menambahi dengan penuh semangat.

“Iya, Ran. Presiden Sukarno pernah berkata, ‘Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya’. Nah, salah satu cara mengenal sejarah Indonesia itu dengan mengunjungi museum.” Nina ikut membujuk.

Akhirnya Rani mengikuti langkah kedua sepupunya. Dia tidak punya pilihan. Menunggu di luar dia takut, apalagi harus pulang sendiri. Kalau memaksa pulang, dia juga tidak enak dengan kedua sepupunya.

“Kita ke ruang satu dulu, ya. Kamu harus melihat foto-foto Raden Ajeng Kartini semasa hidup, Ran.” Celoteh Intan.

“Lihat itu Ran!” tunjuk Intan. Dia menunjukkan buku-buku koleksi Ibu Kartini.

“Kalau yang ini ada canting, alat yang digunakan Ibu Kartini untuk membatik.”

“Memangnya Ibu Kartini bisa membantik?” Rani yang tadi hanya diam mengikuti Intan, akhirnya bersuara.

“Iya dong. Ibu Kartini sudah mulai membatik sejak usia 12 tahun, loh. Kemudian Ibu Kartini juga mengenalkan budaya batik sampai ke luar negeri. Hebat kan?”

Rani mengangguk dengan antusias. “Wah aku baru tahu, In.” Ucap Rani penuh kekaguman.

“Aku jadi malu sama kamu. Pengetahuan sejarahku sangat jelek.”

“Makanya kita harus lebih sering mengunjungi museum, Ran. Di museum banyak sejarah-sejarah yang bisa kita ambil pelajaran.” Intan tersenyum. “Misalnya Museum Negeri Lampung Ruwai Jurai. Di sana kita bisa mengenal lebih jauh tentang adat budaya Lampung dan sejarah Indonesia. Karena di sana ada koleksi benda-benda di zaman prasejarah, zaman Hindu-Budha, masuknya Islam ke Indonesia, zaman penjajahan dan banyak lagi.

“Terus ada pula Museum Diponegoro di Yogyakarta. Di sana ada banyak peninggalan Pangeran Diponegoro. Kemudian ada pula Museum Batik Danar Hadi, Solo, yang akan mengenalkan kepada kita tentang sejarah batik. Selain itu tentu saja masih banyak lagi.” Intan mengakhiri penjelasannya.

“Wah … kamu paham banget, In.” Rani sangat takjub.

“Habis aku penasaran banget, Ran. Jadi aku meminta ibu untuk membelikan buku-buku yang ada pembahasan- nya tentang museum di Indonesia. Kadang aku searching di internet untuk menambah pengetahuan.”

“Eh … jangan-jangan kamu mulai tertarik juga, ya soal museum dan sejarah?” Intan meledek Rani. Dia sengaja menyenggol lengan Rani.

“Iya, nih.” Rani tersenyum agak malu. “Ternyata, liburan ke museum tidak membosankan seperti yang aku pikir- kan.” Ucapnya jujur.

“Apa aku bilang? Kalau begitu kamu siap mengunjungi setiap ruang di museum Kartini, kan?”

Rani mengangguk mantap. Dengan sabar, Intan pun mengajak Rani agar melihat hal-hal menarik lainnya di Museum Kartini. Seperti benda-benda peninggalan Ibu Kartini semasa hidup, benda-benda bersejarah yang ditemukan di Jepara, kerajinan tangan Jepara dan banyak lagi.

“Terima kasih, ya, In. Liburan kali ini benar-benar seru. Lain kali kita harus mengunjungi berbagai museum di Indonesia bersama-sama.” Ucap Rani yang langsung disetujui Intan.

Srobyong, 4 Februari 2018


[1] Disalin dari karya Ratnani Latifah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Lampung Post” edisi Minggu, 14 Oktober 2018