Kejutan Buat Salsa

Karya . Dikliping tanggal 30 Juli 2018 dalam kategori Cerita Anak, Lampung Post

“SA, tolong antar makanan ini ke rumah Kakek Bakri!” pinta ibu sambil menyiapkan nasi beserta sayur tumis kangkung dan lauk tempe mendoan.

“Uh, Ibu, Salsa lelah selesai pramuka. Mau istirahat dulu.”

“Kasihan kalau Kakek Bakri membeli makanan di tempat jauh. Sebab Bu Lasmi tidak jualan,” jelas ibu. Bu Lasmi adalah pemilik warung makan di kampung ini. Biasanya Kakek Bakri membeli makanan di warungnya. Mungkin Bu Lasmi sedang tidak enak badan makanya tidak berjualan hari ini.

Kemudian ibu memasukkan bungkusan itu ke dalam kantung plastik hitam. Itu artinya Salsa harus mengantar ke rumah Kakek Bakri. “Kenapa sih, Bu, kita mesti peduli sama Kakek Bakri? Tetangga lain saja tidak,” protes Salsa sambil membetulkan baju rumah bersiap pergi.

“Menolong orang itu baik, Sa. Siapa tahu suatu saat dalam keadaan terjepit, kita ganti ditolong orang lain,” tukas ibu sudah berada di depan penggorengan lagi. Ibu menjual tempe mendoan, pisang goreng, dan bakwan. Kue-kue itu dijual di beberapa warung kucingan. Warung kucingan itu buka khusus malam hari.

Sambil menggerutu Salsa pergi ke rumah Kakek Bakri.

Kakek Bakri tetangga satu kampung. Beliau tidak mempunyai anak. Istrinya meninggal beberapa tahun lalu. Walau sudah tua, Kakek Bakri masih giat mengayuh becak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sore hari Kakek Bakri pulang ke rumah. Itulah yang membuat ibu kasihan dan sering memberi makanan.

Di samping itu ibu hanya berdua dengan Salsa. Ayah pulang kerja seminggu sekali sebagai kuli bangunan. Ayah bekerja di luar kota dan menginap di proyek tempatnya bekerja. Daripada makanan tersisa, lebih baik diberikan orang lain yang membutuhkan, begitu ibu seringkali berpesan.

Salsa semakin jengkel bila Kakek Bakri juga menyuruhnya membeli sesuatu. Lalu Salsa disuruh ke warung membeli sabun, sikat gigi, dan kebutuhan sehari- hari lain.

***

Hari Minggu ini ibu memasak kolak labu kuning. Ayah membawa labu kuning kemarin sepulang kerja. Seperti biasa ibu memberi sebagian untuk Kakek Bakri. Ibu menyiapkannya di dalam rantang.

“Kolak ini buat Kakek Bakri, Sa.”

Karena ayah di rumah, Salsa tidak berani membantah. Sebab ayah juga senang membantu orang lain, termasuk kepada Kakek Bakri.

Setelah melayani pelanggannya pada pagi buta, Kakek Bakri istirahat dulu di rumah. Setelah itu baru mencari penumpang lagi.

“Wah, senang sekali sudah lama Kakek tidak makan kolak waluh,” ungkap Kakek Bakri begitu membuka rantang berisi kolak. Kakek Bakri menyebut labu kuning dengan waluh. Waluh dari bahasa Jawa.

Ketika Salsa bersiap pulang, Kakek Bakri memanggil.

“Sa, Kakek tolong belikan kopi bubuk di toko Koh Han,” pinta Kakek Bakri sambil menyodorkan selembar uang sepuluh ribu. Kakek Bakri membeli kopi bubuk satu renteng.

“Uh, Kakek, sudah dikasih kolak malah nyuruh.”

“Kakek lupa beli,” begitulah alasan Kakek Bakri.

Karena toko Koh Han jauh, Salsa pulang ke rumah mengambil sepeda.

Pagi itu toko kelontong Koh Han ramai pembeli. Ternyata ada pembeli satu mobil dari luar kota. Biasanya Salsa titip sepeda kepada Mas Wahyu, pegawai Koh Han. Tapi sayang Mas Wahyu sibuk di dalam. Salsa melihat seorang ibu sedang berdiri di depan toko Koh Han. Ibu itu sedang menunggu ojek online.

“Bu, bisa minta tolong jagain sepeda saya? Sebentar saja. Sebab pernah terjadi pencurian di depan toko. Di sini tidak ada tukang parkir,” pinta Salsa.

“Iya, Nak, saya jagain,” jawab ibu itu.

Beberapa lama kemudian Salsa keluar dari toko. Tangannya membawa kantung plastik berisi serenteng kopi merek kesukaan Kakek Bakri. Setelah mengucap terima kasih kepada ibu itu, Salsa mulai mengayuh sepeda. Tapi tidak lama, rantai sepedanya lepas. Ibu itu datang menolong.

“Dibawa saja ke bengkel terdekat!” sarannya.

“Tidak, Bu. Rantainya memang sudah aus dan minta diganti. Saya akan menuntunnya sampai di rumah. Ayah akan memperbaikinya,” jawab Salsa.

Ibu itu merasa iba.

“Nak, apa boleh Ibu silaturahmi ke rumahmu?”

“Silakan, Bu,” jawab Salsa lalu mendikte alamatnya. Ibu itu mencatat dalam ponsel. Bersamaan dengan itu driver ojek online datang. Beliau pun pergi, sementara Salsa pulang dengan menuntun sepedanya.

***

Salsa selesai mandi sore. Ibu sedang mengantar kue gorengan pelanggannya. Tiba-tiba ayah memanggil. Ada seseorang mencarinya. Ternyata tamunya ibu yang ditemui di toko Koh Han. Beliau datang bersama suaminya. Kemudian mereka saling berkenalan. Setelah itu ibu itu menawarkan sesuatu. Salsa diminta keluar rumah.

Ketika Salsa membuka pintu…

“Ha, sepeda gunung!” ungkap Salsa dengan berteriak.

Lalu mereka bercerita, sepeda itu milik anaknya yang sudah tidak terpakai. Selama ini sepeda itu tersimpan di gudang.

Tentu saja Salsa senang. Walaupun sepeda itu tidak baru tapi masih bagus. Ayah pun tidak perlu membeli rantai baru sebab Salsa sudah mendapatkan penggantinya. Benar kata ibu, karena menolong Kakek Bakri, dalam keadaan terjepit ada orang lain yang menolong.

 

[1] Disalin dari karya Iis Soekandar

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Lampung Post” edisi Minggu, 29 Juli 2018

Sila Nilai-Bintang!