Kibaran Merah Putih

Karya . Dikliping tanggal 27 Agustus 2018 dalam kategori Cerita Anak, Lampung Post

PAGI itu Adit dan Toro bermain bersama di depan sebuah sekolah dasar yang dekat lingkungan tempat tinggal mereka. Tiba-tiba, langkah mereka terhenti ketika melihat siswa-siswi sekolah itu sedang melakukan upacara bendera. Toro lalu menarik tangan Adit dan menuntunnya ke depan pintu gerbang sekolah. Mereka pun mengamati tahapan-tahapan upacara dengan tenang.

Di depan sana, tampak oleh mereka para siswa berseragam putih merah sedang berbaris rapi mengikuti upacara yang sedang berlangsung. Adit dan Toro tampak antusias mengamati jalannya upacara bendera.

“Nanti aku mau sekolah di sini,” ucap Toro.

“Aku juga mau bersekolah di sini,” Adit berkata kemudian.

”Kepada Sang Merah Putih, hormaaat grak!,” aba-aba dari pemimpin upacara.

lagu Indonesia Raya berkumandang, Adit dan Toro masih berdiri di depan gerbang dan mereka ikut hormat ketika bendera Merah Putih dikibarkan. Mereka mengikuti jalannya upacara sampai selesai.

***

Setelah masuk sekolah, rupanya Toro tak pernah berubah. Dia selalu bersemangat ketika mengikuti upacara bendera. Menata barisan teman-temannya sebelum upacara berlangsung dan berdiri paling tegap di barisan paling depan.

Suatu ketika, Toro mendapatkan tugas dari Bu Ning, guru di kelas tiga. Tugasnya adalah mencuci bendera Merah Putih. Ia tampak begitu ceria. Wajahnya yang hitam legam karena sengatan sinar matahari itu langsung berhias warna putih dari giginya yang terlihat saat tersenyum gembira.

Tak perlu menunggu lama, pulang sekolah Toro langsung menurunkan bendera Merah Putih dari tiangnya dengan ter­lebih da hulu mem­beri hormat. Adit jadi semakin heran dengan tingkah laku temannya itu.

”Kamu kok senang banget sih dapat tugas mencuci bendera?” tanya Adit

“Iya Dit. Mencuci bendera itu suatu kehormatan sendiri bagiku.”

Toro kemudian bercerita tentang beberapa peristiwa sebelum proklamasi kemerdekaan dikumandangkan sembari mereka berjalan pulang ke rumah. Ia bercerita tentang vacum of power, peristiwa Rengas Dengklok, perumusan naskah teks Proklamasi, hingga pembacaannya di depan kediaman Ir Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur No. 54, Jakarta. Mendengar ceritanya, Adit hanya bisa diam dan tak percaya jika temannya itu punya pengetahuan lebih tentang hal yang belum dipelajarinya di kelas.

“Itulah kawan. Untuk bisa mengibarkan bendera Merah Putih di negeri kita sendiri saja membutuhkan perjalanan yang cukup panjang. Dan asal kamu tahu, bendera yang berkibar ketika Proklamasi kemerdekaan pertama kali dibacakan bukanlah bendera yang dibuat dari jahitan mesin. Bendera itu adalah bendera sederhana yang dijahit tangan oleh seorang wanita hebat bernama Ibu Fatmawati. Beliaulah istri dari Ir Soekarno.”

“Kenapa sih kamu bisa tahu banyak hal?” tanya Adit.

“Aku kan suka baca.”

“Tapi dari mana kamu dapat buku? Aku kok nggak pernah lihat kamu beli buku di sekolah?.”

“Ibuku sering membeli kertas bekas dari tukang loak untuk bungkus gorengan. Dari kertas-kertas itulah aku bisa tau banyak hal tentang dunia.”

“Hebat yah, aku yang berlangganan majalah anak saja tidak banyak tahu tentang hal itu.”

“Makanya kita harus sering membaca buku agar tidak ketinggalan informasi. Buku kan jendela dunia. Darinya kita bisa tahu banyak hal.” “Memang kau ingin jadi apa nanti?.”

“Aku ingin jadi pengibar bendera seperti Suhud dan Syodanco Latief Hendraningrat, merekalah yang telah mengibarkan bendera Merah Putih ketika naskah proklamasi dikumandangkan.”

***

Tanpa perlu menunggu lama, rupanya keinginan Toro untuk menjadi pengibar bendera segera terkabul. Bu Ning yang sering melihat kesungguhan Toro ketika upacara bendera memintanya untuk menjadi petugas upacara dalam rangka memperingati HUT RI. Toro pun sangat senang mendapatkan tugas tersebut.

Upacara peringatan HUT RI berlangsung dengan hikmah hingga tibalah saatnya pada acara pengibaran bendera sang Merah Putih. Puluhan anak berbaris dengan seragam putih rapi, langkahnya tegap serempak muncul dari pintu gerbang sekolah tempat upacara berlangsung. Gaya berjalan, tatapan dan kerapian mereka dalam berbaris begitu anggun dan berwibawa, tak beda jauh dengan pasukan pengibar bendera di Istana Merdeka.

Adit melihat sang Merah Putih dibawa oleh anak perempuan yang berada di tengah barisan paling depan dan diikuti oleh barisan lain yang ada di belakangnya. Ia tampak berhati-hati membawa bendera di tangannya. Si pembawa bendera diapit oleh dua orang anak lelaki yang sama tinggi, yang satu berkulit putih dan satunya berkulit hitam. Dialah Toro.

Ia berjalan mendekati tiang, mengambil bendera yang telah dipersiapkan dan mengikatkan bendera itu ke tali tiang dengan bantuan anak lelaki berkulit putih yang ada di hadapannya. Mereka menaikkan bendera perlahan-lahan dengan diiringi lagu Indonesia Raya karya WR Supratman. Seiring dengan selesainya lagu kebangsaan, bendera Merah Putih pun berkibar di puncak tiang. ***

 

[1] Disalin dari karya Umu Fatimiah

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Lampung Post” edisi Minggu, 26 Agustus 2018