Kokok si Kiko

Karya . Dikliping tanggal 27 Agustus 2018 dalam kategori Cerita Anak, Suara Merdeka

Kiko buru-buru bangkit dari tidurnya begitu mendengar suara lantang nan merdu itu. Ia pastikan bahwa itu adalah suara ayahnya. Alangkah indahnya pagi. Seperti juga pagipagi kemarin, ayahnya yang berjasa membangunkan semua penghuni kebun belakang rumah Pak Marto.

”Kau sudah bangun, Kiko? Ah, ayo cobalah kau perdengarkan suaramu kepada dunia. Bangunkan semua orang!” ujar ayah Kiko yang sosoknya tinggi menjulang lantaran berdiri di atas tonggak pohon petai cina yang telah ditebang.

”Aku? TapiÖ,” suara Kiko bernada ragu. Meski dalam hatinya ada letup gairah yang tak bisa ia mungkiri. Sudah sepekan ini ayah Kiko membujuk anaknya. Tapi sayang Kiko masih saja tertahan ragu.

”Tunggu apa lagi? Kapan lagi kamu bisa, kalau tidak mencobanya sekarang juga?” \Dada Kiko semakin berdebar. Matanya sudah menemukan sebuah tonggak pohon waru yang tak jauh dari posisi ayahnya. Akhirnya ia melompat juga. Lalu, dengan sepenuh rasa percaya diriÖ

KukuruyuuuukkÖ kukuruyuuukk!!

Kokok si Kiko terdengar memecah pagi. Ia merasa bertambah dewasa sekarang.

***

”Huahahaha, mirip suara Mimi kucing saat kejepit pintu. Itu kata ayahku lho,” ledek Dumpy si bebek saat mereka kumpul main bersama. ”Adikku juga langsung terbangun, tapi menangis. Mungkin karena takut dengan suara kokok yang aneh itu, hahaha,” tambah Wowok si kambing yang turut dalam kerumunan.

Kiko yang merasa tersudut dengan candaancandaan itu, langsung mundur teratur. Sungguh tak lucu, pikirnya. Padahal ia sudah rela mengorbankan waktu dengan bangun lebih pagi demi membangunkan mereka.

Sesampainya di rumah, wajah Kiko masih juga terlihat cemberut. Ia kehilangan gairah melakukan apa pun. Ia juga kehilangan selera dengan makanan apa pun.

”Gigimu sakit?” tanya ibu Kiko, yang langsung dijawab dengan gelengan.

”Perutmu sakit?” tanya ibunya lagi. Tapi Kiko sedang kehilangan gairah bercakap dengan siapa pun.

Sepanjang hari Kiko juga malas mengerjakan apa pun. Ayah dan ibu Kiko mulai bisa menebak penyebab perubahan sikap anaknya ketika setiap pagi Kiko menolak ajakan ayahnya untuk membangunkan dunia.

”Jadi, kamu malu karena ditertawakan temantemanmu?” tebak ayah Kiko di suatu pagi.

Kiko tak mau jawab. Ia juga tak mau beranjak dari tempat tidurnya meski matahari sudah hampir menampakkan diri.

”Nak, coba dengarlah ucapan Ayah. Kita memang ditakdirkan dengan tugas itu. Perhatikanlah yang lainnya juga. Seperti para jangkrik yang bertugas di malam hari atau serombongan pipit yang sebentar lagi akan menyambung tugas Ayah. Coba tertawailah saat salah satu di antara mereka ada yang suaranya cempreng. Lalu pikirkanlah, siapa yang sebenarnya bodoh, yang menertawai atau yang ditertawai? Ayah dulu mulanya juga sepertimu, hingga akhirnya mahir seperti sekarang,” panjang lebar ayah Kiko menasihati.

Sementara Kiko masih diam saja. Raut wajahnya masih tak sedap dipandang.

***

Dua hari kemudian Kiko mulai menyadari betapa penting posisi ayahnya. Ketika Ayah Kiko sakit, hampir sebagian besar penghuni kebun belakang rumah Pak Marto bangun kesiangan.

Tak ayal, tugas harian mereka menjadi sedikit kacau. Pak Marto sendiri sampai harus tergesa saat hendak berangkat ke pasar.

”Lantaran kalah cepat saat bangun, keluarga Dumpy sampai kehilangan makanan lantaran pembuangan air rumah Pak Marto sudah dipenuhi bebek-bebek dari kebun yang lain. Jono anaknya Pak Marto katanya juga terlAmbat sekolahÖ,” cerita Kiko saat membangunkan ayahnya.

”Sekolahannya Jono memang letaknya jauh, Nak,” sahut ayah Kiko dengan suara gemetar. Sudah dua hari ia demam. Perubahan cuaca menjadi penyebabnya. Musim penghujan sedang memasuki masa deras-derasnya. Siapa yang tak pandai jaga kesehatan, akan mudah terserang demam.

”Ayo, Nak. Gantikanlah tugas Ayah sebentar,” ujar ayah Kiko kemudian. Wajahnya terlihat cemas saat melihat ufuk langit timur. Cahaya sudah terlihat mengintip bumi.

”Tidak, Ayah, tidak,” Kiko spontan mundur dari hadapan ayahnya. Kepalanya mulai dipenuhi suara ejekan teman-temannya.

”Ayolah, Nak. Tolonglah orang-orang. Siapa lagi kalau bukan dirimu?”

Kiko masih terkungkung ragu. Tapi perasaan yang meletup-letup dalam dadanya entah mengapa semakin bertambah. Lalu entah bagaimana, tiba-tiba saja terdengar suara nyaring darinyaÖ

Kiko berkokok!

Kiko dan ayahnya sama-sama tersenyum melihat mereka yang kemudian terbangun dan bergegas menjalankan rutinitas hariannya. Dalam hati Kiko berbisik, ”Bagaimana reaksi mereka jika tahu siapa yang tadi berkokok…”(49)

 

[1] Disalin dari karya Nur Hadi

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu, 26 Agustus 2018

Sila Nilai-Bintang!