Layang-layang Istimewa

Karya . Dikliping tanggal 6 Agustus 2018 dalam kategori Cerita Anak, Lampung Post

“WAW!” seru Galing girang. Dia sangat antusias membaca pengumuman lomba layang- layang yang tertempel di mading sekolah. Galing tersenyum-senyum kecil, ketika membaca hadiah lombanya.

Kalau aku menang lomba. Aku akan beli sepatu baru, tas, baju, dan beberapa buku petualangan anak favoritku. Aduh… senangnya. Galing kembali tersenyum-senyum membayangkan uang hadiah itu.

“Hihi…kok senyum-senyum sendiri? Kamu lagi mikir apa?” Umar meringis heran.

“Hehe…. Aku membayangkan jika menang lomba layang-layang alangkah senangnya hatiku! Dududu…” Galing merapatkan dua tangannya di dada sambil goyang-goyang.

“Lomba layang-layang?” ulang Umar dengan mata berbinar-binar.

“Iya…lomba layang-layang! Hadiahnya lumayan besar! Sana baca pengumuman di mading,” ujar Galing sambil mengarahkan jempolnya ke arah ruang guru.

Tidak lama kemudian…

“Benar katamu, hadiahnya banyak sekali. Kalau begini aku jadi semangat ikut lomba!” seru Umar jingkrak-jingkrak. Melihat keduanya bergembira, Randi dan Arya yang sedang duduk di bawah pohon akasia langsung mendekat.

“Kita harus susun strategi supaya menang!” ucap Umar semangat.

“Strategi apa?” sambar Randi begitu mendekat.

“Lomba layang-layang, Ran,” jawab Gilang.

Gilang memijit keningnya, matanya memicing, mulutnya terbuka sedikit. Sepertinya Gilang sedang berpikir keras. Begitu pun ketiga temannya. Mereka memikirkan strategi lomba tersebut dengan gaya masing-masing. Ya, seperti detektif memikirkan kasus berat.

“Layangannya beli saja di pasar!” celetuk Umar tiba-tiba.

“Di warung Mang Udin juga banyak!” lanjut Randi.

“Tidak! Aku tidak setuju kalau beli. Menerbangkan layang-layang buatan sendiri tentunya lebih menyenangkan. Nanti, kita bisa buat gambar yang unik- unik. Aku pernah lihat festival layang- layang di Taiwan. Layang-layangnya sangat bagus dan lucu. Ada yang berbentuk panda, tokoh kartun atau superhero. Kalau di pantai Bali, ada layang-layang yang motif Gatot Kaca,” timpal Galing panjang sekali.

“Kamu pernah ke Taiwan dan Bali?” tanya Randi sambil memandang wajah Galing.

“Hehee…baca di Google!” jawab Galing cepat daripada pembicaraan jadi melebar ke mana-mana.

“Setuju, kalau kita bikin sendiri. Jadi bentuknya gak akan sama dengan orang lain!” tegas Arya.

“Kamu bisa?” tanya Randi garuk-garuk kepala

Galing mulai cengar-cengir. Aslinya dia tidak bisa membuat layang-layang. Tapi, melihat hadiah lomba, semangatnya jadi menggebu-gebu. “Oho…kalau itu, kita bisa belajar dari Paman Husen! Beliau, kan, ahli pembuat layang-layang.”

“Kalau itu aku setuju, daripada Galing yang belajar sendiri. Bisa-bisa layang- layangnya nyungsep,” sambar Arya. Galing tersenyum senang, akhirnya semua setuju dengan usulnya. Ya, mereka akan belajar dengan Paman Husen.

Siang itu sangat terik. Galing dan ketiga temannya sudah berkumpul di rumah Paman Husen. Melihat kedatangan mereka yang tiba-tiba, Paman Husen sudah bisa menebak, pasti mereka ada maunya. Dengan tidak mengurangi rasa hormat. Akhirnya, dengan malu-malu mereka mengutarakan maksud kedatangan ke rumah Paman Husen.

“Tak masalah! Paman bisa membantu kalian membuat layang-layang,” jawab Paman Husen dan membuat mereka semua lega.

Dengan telaten Paman Husen mengajari mereka. Mulai dari menyerut bambu menjadi tulang layang-layang sampai menempelkan kertas hingga menjadi layang-layang utuh.

“Kenapa tulangnya ditimbang, Paman?” tanya Randi.

“Supaya imbang, jadi layang-layangnya bisa naik sempurna. Kalau tulangnya berat sebelah layang-layangnya susah naik. Kalau pun bisa, pasti akan nyungsep kembali,” jelas Paman Husen.

Untuk sementara mereka membuat layang-layang sederhana yang berbentuk ketupat dengan ekor yang panjang sebagai penyeimbang.

“Aha….aku dapat ide. Nanti layang- layang kita terbuat dari bungkus detergen saja!”

“Iyeeee…itu sudah biasa. Di toko-toko banyak dijual!” celetuk Arya.

“Terus apa idemu?” Galing balik bertanya.

“Ada deh, rahasia!” jawab Arya sok misterius.

“Sudah…sudah! Bahannya apa saja yang penting bisa jadi layang-layang,” lerai Paman Husen. Mereka berempat pun diam dengan pikiran masing-masing.

***

Hari perlombaan pun tiba. Semua peserta telah berkumpul di tanah lapang. Perlombaan dibagi menjadi dua, yaitu anak-anak dan dewasa. Semua ceria dan semua bahagia.

Galing dan ketiga temannya sangat semangat menerbangkan layang-layang, soalnya itu adalah hasil karya mereka sendiri. Layang-layang Galing terbuat dari bungkus detergen bermotif pesawat. Umar dengan motif klub Barcelona. Randi dan Arya motifnya Doraemon, heran juga mengapa keduanya mempunyai ide yang sama?

Lomba pun selesai, mereka berempat tak ada yang menang. Walaupun begitu, mereka tetap bahagia, karena bisa menerbangkan layang-layang istimewa karena buatan sendiri. Mungkin tahun depan mereka jadi pemenangnya. Semoga!

 

[1] Disalin dari karya Liza Erfiana

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Lampung Post” edisi Minggu, 5 Agustus 2018