Lomba Membaca Puisi

Karya . Dikliping tanggal 13 Agustus 2018 dalam kategori Cerita Anak, Suara Merdeka

EMPAT hari lagi perayaaan HUT Kemerdekaan RI. Murid-murid sekolah Bina Bahasa akan mengikuti berbagai macam lomba, seperti lomba baca puisi, lomba hias kelas, lomba makan kerupuk, lomba bawa guli, lomba lari goni, lomba tarik tambang, dan lain-lain.

Ferico, murid kelas VI-A SD, terpilih mengikuti lomba baca puisi. Teman-teman sekelas Ferico, yaitu Jody, Nicholas, Doni, Vaness, dan Felix, yang bertubuh besar, terpilih mengikuti lomba tarik tambang.

Sepulang sekolah, Ferico langsung menjumpai mamanya.

”Ma, Ma, Pak Mukti menyuruhku mengikutilomba baca puisi tanggal 17 Agustus nanti.”

”Oh ya?” kata Mama. ”Wah, ini berita bagus, Fer, kamu bisa terpilih.”

”Bukan aku saja, Ma. Teman-teman yang lain juga terpilih mengikuti bermacam-macam lomba.”

”Membaca puisi itu gampang saja, Fer, kamu sudah tahu ëkan caranya?” tanya Mama.

”Justru itulah aku tak tahu, Ma,”jawab Ferico. Wajahnya tampak bingung.

”Nggak apa-apa, Mama akan ajarin Feri cara membaca puisisupaya bisa tampil bagus nanti,” hibur Mama.

”Mama mau ajarin Feri?” tanya Ferico sedikit terhibur. ”Feri takut tak bisa membaca puisi dan ditertawakan penonton.”

”Iya, Mama akan ajarin Feri,” kata Mama.

”Mana puisinya yang akan dibacakan nanti, biar Mama kasih contoh,” sambungnya.

Ferico menyerahkan secarik kertas HVS berisikan puisi pada mamanya.

Mama memperhatikan puisi itu, membaca dan menyimak isi puisi bertema perjuan-gan. Puisinya berjudul ”Krawang Bekasi” karangan Chairil Anwar. Kebetulan, puisi itu pernah dibacakan Mama waktu SMA. Tak heran, Mama bisa memeragakan cara membaca puisi itu dengan mudah.

Mata Ferico tak lepas memperhatikan gaya Mama yang dirasa memukau. Sebentar dilihatnya, sang Mama memulai bait pertama dengansuara halus dan lembut, menuju bait kedua suara Mama berubah lantang dan keras, bait ketiga suara mama penuh semangat dan berapi-api, tapi di bait terakhir tiba-tiba suara Mama kembali lembut dan menyentuh.

”Wah, hebat!” Ferico bertepuk tangan seusai Mama mendeklamasikan puisi.

”Mama bagus sekali! Feri tak menyangka, ternyata Mama jago baca puisi,” puji Ferico sambil memandang kagum.

”Ah, biasa sajalah, Fer, yang penting dalam membaca puisi kita harus menjiwai isi puisinya dan mendeklamasikannya dengan gerak-gerik, mimik, dan suara yang sesuai, bisa sedih, marah, semangat, atau menyentuh,” ungkap Mama.

”Iya, Ma, Feri akan mempraktekkan puisi ini nanti sesuai dengan petunjuk Mama,” kata Ferico.

”Terima kasih Ma, sudah mengajari Feri.”

* * *

Tibalah hari perlombaan di sekolah Ferico. Seusai upacara bendera, murid-murid mengikuti berbagai macam lomba, ada yang di ruang kelas, di aula, di halaman atau lapangan sekolah. Suasana sangat ramai dan meriah oleh keceriaan murid-murid dan para peserta. Terdengar yel-yel menyerukan semangat dan sorak-sorai dari para suporter.

Ferico kebagian mengikuti lomba membaca puisi di ruang kelas. Para peserta lomba sudah duduk rapi.

Hati Ferico berdebar-debar. Dia sedikit gugup dan khawatir apakah akan berhasil mendeklamasikan puisi itu. Tapi Mama berpesan, dia harus percaya diri.

Setelah 15 orang tampil di depan kelas, kini giliran Ferico. Dengan yakin, dia maju ke depan kelas, memberi hormat kepada para juri dan penonton. Ferico membaca puisi itu dengan lembut di bait pertama, penonton terkesima, para juri hening. Di bait kedua, suara Ferico berubah lantang dan keras, mereka terdiam. Menuju bait ketiga, Ferico semangat dan berapi-api, para juri dan penonton bergidik. Di bait terakhir, mereka bernafas lega ketika suara Ferico kembali lembut.

Seusai Ferico tampil, seisi kelas bertepuk tangan riuh, terdengar pujian di sana-sini, bahkan para juri yang adalah para gurunya tersenyum. Seumur hidup, baru kali ini Ferico merasa begitu bangga di depan orang banyak.

Menang atau kalah bukan hal penting, yang penting dia sudah berani tampil dan berhasil membacakan puisi itu dengan bagus, biarlah juri yang menilainya nanti.

 

[1] Disalin dari karya Rosni Lim

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu, 12 Agustus 2018