Mauri yang Baik Hati

Karya . Dikliping tanggal 4 September 2018 dalam kategori Cerita Anak, Suara Merdeka

Mauri adalah gadis miskin yang tinggal bersama ibunya. Ayah Mauri sudah lama meninggal. Sementara ibunya, Nyonya Melisa sakit-sakitan dan hanya terbaring di tempat tidur. Mauri sedih sekali. Beberapa barang berharga di rumahnya sudah dijual untuk makan.

Sebentar lagi musim hujan tiba. Saat musim hujan orang jarang ke luar rumah. Karena itulah, Mauri harus menambah persediaan makanannya. Jaket lama Mauri juga sudah rusak. Dia perlu jaket baru untuk menghangatkan tubuhnya saat hujan turun.

Sebenarnya, Mauri pandai memasak. Dia belajar memasak pada ibunya yang dulu mempunyai warung makan. Namun sekarang warung makan itu tutup karena Nyonya Melisa sakit dan kekurangan modal.

”Aku harus bekerja,” ucap Mauri dalam hati.

Tapi Mauri bingung. Untuk bekerja dia harus meninggalkan ibunya dalam waktu yang cukup lama.

”Mauri …,” panggil Nyonya Melisa.

Mauri menemui ibunya.

”Sebaiknya kamu sekarang ke pasar menjual cincin ini. Untuk membeli persediaan makanan saat musim dingin tiba. Lihatlah, kepingan salju sudah mulai berjatuhan. Ibu tidak ingin kamu kelaparan,” Nyonya Melisa menyerahkan cincin pada Mauri.

”Tidak, Ibu. Itu cincin perkawinan Ibu dengan Ayah. Ibu ingat pesan Ayah, cincin itu tidak boleh dijual,” tolak Mauri.

”Bawa saja ke pasar,” perintah Nyonya Melisa.

Mauri menerima cincin itu. Ia berjalan menuju pasar. Gerimis kecil mulai berjatuhan. Mauri menyilangkan tangannya di dada untuk menghangatkan tubuhnya. Mauri berjalan dengan hatihati agar tidak terpeleset jalan licin.

”Aduh…,” keluh seorang wanita tua yang terjatuh di dekat Mauri.

”Nyonya tidak apa-apa?” tanya Mauri sambil membantu wanita tua itu berdiri.

”Aku tidak apa-apa, Nona. Tetapi…,” wanita tua itu memandangi belanjaannya. ”Telur yang baru kubeli pecah semua. Padahal aku harus membuat kue kering untuk musim dingin ini,” keluh wanita tua itu.

”Membuat kue kering tidak selalu dengan telur, Nyonya. Aku biasa membuat kue kering tanpa telur,” kata Mauri.

Nyonya itu tersenyum. ”Oh, terima kasih. Kamu telah mengingatkanku pada resep warisan ibuku. Dulu saat kami hidup susah, ibuku selalu membuat kue kering tanpa telur dan rasanya enak,” kenangnya. ”Terima kasih sudah menolngku. Namaku Nyonya Arbella. Biasa dipanggil Nyonya Bella. Siapa namamu?”

”Namaku Mauri.”

”Sepertinya tanganku masih sakit untuk mengangkat tas belanjaan ini.”

”Rumah Nyonya Bella di mana? Akan kubantu mengangkat belanjaan ini sampai ke rumah Nyonya,” kata Mauri sambil mengangkat tas belanjaan Nyonya Bella.

Mauri dan Nyonya Bella berjalan beriringan. Sambil berjalan, Nyonya Bella bertanya banyak pada Mauri. Nyonya Bella iba mendengar cerita Mauri.

”Sudah sampai…,” seru Nyonya Bella. ”Tunggu sebentar, Mauri. Aku ada sesuatu untuk Ibumu.”

Beberapa menit kemudian, Nyonya Bella keluar membawa tiga toples kue kering. ”Terima kasih sudah menolongku, Mauri.”

Mauri menerimanya dengan senang hati. ”Terima kasih kembali Nyonya Bella.”

Hari semakin siang. Hujanb masih saja turun. Mauri memutuskan untuk pulang. Dia tidak berniat menjual cincin peninggalan ayahnya.

”Nona… boleh saya meminta makanan? Sudah seharian ini saya belum makan,” pinta seorang kakek berpakaian lusuh.

Mauri mendekati kakek itu. ”Makanlah, Kek. Semoga tidak kelaparan lagi.”

”Terima kasih, Nona. Ini ada jaket tebal motif bunga-bunga, semoga cocok untukmu,” kakek itu memberikan jaket pada Mauri.

”Terima kasih, Kek.” Mauri berjalan pulang dengan gembira. Ia membawa kue dan jaket untuk menyambut musim dingin.

Sesampainya di rumah, Mauri langsung menceritakan semuanya kepada Ibunya. Nyonya Melisa bangga pada kebaikan puterinya. Meskipun hidup miskin, Mauri tidak miskin hati.

Mauri mencoba jaket sambil mematut diri di cermin. Namun sebuah benda jatuh dari saku jaket itu. Mauri memungutnya. Sebuah kalung dengan liontin batu permata berwarna biru muda. Mauri senang sekali. Ketika akan memakainya, tiba-tiba Nyonya Melisa teringat sesuatu.

”Siang tadi Nyonya Jane menjenguk Ibu. Katanya, jaket puteri Raja jatuh saat mengunjungi desa ini. Jaket itu bermotif bunga-bunga dan sangat berharga. Sebaiknya kamu bawa jaket itu ke Istana. Siapa tahu itu jaket puteri Raja yang hilang,” kata Nyonya Melisa.

”Tetapi, Bu…,” Mauri kecewa. ”Aku sangat menyukai jaket dan kalung ini.”

”Sebaiknya kamu kembalikan saja. Tuhan akan menggantinya dengan lebih baik.”

Mauri menuruti perintah ibunya. Sore itu ia bergegas menuju istana Raja. Sesampainya di sana, Mauri menceritakan semuanya. Beruntung Raja percaya pada Mauri. Puteri Raja terlihat bergembira melihat benda kesayangannya telah kembali.

”Ikutlah makan malam bersama kami, Mauri,” ajak Raja.

”Ayah, makanan di dapur sudah habis. Seharian ini Bibi Milly sakit dan tidak memasak apa pun,” sela Raja.

”Gawat, sebentar lagi tamu Ayah dari Negeri Seberang akan datang,” ucap Raja khawatir.

”Maaf, Pak…” kata Mauri pelan. ”Kalau Raja tidak keberatan, saya bisa memasak beberapa makanan. Ibu dulu sering mengajarkannya padaku.”

”Kalau begitu, kamu menjadi koki saja di Istana ini. Kalau Bibi Milly sudah sembuh, kamu bisa belajar memasak menu istana padanya,” kata Raja.

Mauir senang sekali. Apalagi Raja mengizinkan Ibu Mauri tinggal di istana juga. Tentu saja kehidupan Mauri sekarang berubah. Tiba-tiba saja Mauri teringat kakek yang memberinya jaket. Dia ingin berterima kasih padanya.(49)

 

[1] Disalin dari karya Muhammad Fauzi

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu, 2 September 2018