Menunggu Angsa Bertelur

Karya . Dikliping tanggal 16 Juli 2018 dalam kategori Cerita Anak, Suara Merdeka

Arif duduk di bawah pohon rindang. Dengan penuh cemas, ia mengamati rumpun ilalang di sekitar. Tiba-tiba terdengar suara Andi menyapa, “Hai, Arif! Apa kamu sedang menunggu angsa bertelur?”

Seketika Arif terkejut. Rupanya kedatangan Andi akan menjadi pesaing untuk mendapatkan telur angsa. Arif mencari cara untuk menyembuyikan angsa-angsa yang bertelur. Tapi Andi telanjur tahu kebiasaan Arif. Temannya itu tak mungkin ada di sekitar semak ilalang kalau tak ada angsa bertelur di sana.

Angsa-angsa milik Pak Rokan memang suka bertelur di tempat itu. Biasanya ada beberapa anak yang menunggu telurnya dan beradu cepat mengambilnya. Tapi kali ini tak ada yang tahu kecuali Arif dan Andi.

Lalu, bagaimana dengan sang pemilik angsa? Pak Rokan sudah tahu sedari lama tentang kebiasaan anak-anak berebut telur angsa. Karena Pak Rokan orang yang baik hati, maka ia membiarkannya. Pak Rokan biasanya hanya mengambil telur angsanya bila beruntung menemukannya. Bila tidak, Pak Rokan sekadar menganggap itu bukan rezekinya.

“Hari ini aku bakal makan telur angsa dadar. HmmÖ pasti lezat sekali,” ucap Andi penuh yakin.

“Sama. Aku juga,” sahut Arif tak mau kalah.

Mereka pun sepakat beradu cepat. Siapa yang cepat mengambil telur itu, dialah yang berhak memilikinya.

Hari semakin siang. Arif dan Andi masih menunggu sampai angsa selesai bertelur. Mereka tampak tegang. Tiba-tiba keduanya terkejut ketika Pak Rokan datang mendekat.

“Kalian sedang menunggu angsa bertelur, ya?” tebak Pak Rokan dengan bibir mengembang.

Arif dan Andi tak bisa berkata apa-apa. Mereka tampak kebingungan menjawabnya. Dengan terpaksa, Arif akirnya berkata. “Oh, tidak Pak. Kami di sini sedang berteduh saja,” ucap Arif berbohong.

Seketika Andi menyenggol lengan Arif sebagai tanda tak setuju dengan alasan yang dilontarkan Arif. Andi tahu, dirinya dan Arif memang menginginkan telur angsa. Tapi berbohong kan tidak boleh. Apalagi berbohong kepada orang tua, ditambah orang itu baik pula. Andi tak bisa berbohong. Ia pun mengatakan yang sebenarnya.

“Benar, Pak. Kami sedang menunggu telur angsa milik Bapak,” kata Andi jujur.

Pak Rokan tersenyum lebar. Arif menggeleng kecewa. Percuma menunggu lama-lama kalau nantinya Pak Rokan juga yang memiliki telur itu, batin Arif. Ia pun hendak meninggalkan tempat itu. Tapi Pak Rokan mencegahnya.

“Tunggu, Arif. Sebentar lagi telurnya keluar. Sayang lo kalau ditinggalkan begitu saja. Kamu kan sudah menunggunya sedari tadi. Ayo, kita tunggu telur itu sama-sama!” kata Pak Rokan tanpa diduga.

Menanggapi sikap Pak Rokan yang ramah, Arif urung pergi. Ia mendadak menyesal atas ucapannya berbohong kepada Pak Rokan. Arif segera meminta maaf. Namun, niat itu tertahan ketika terdengar suara ibunya memanggil.

“Arif!” seru Ibu.

Arif menghampiri Ibu yang sudah berdiri di pinggiran jalan. Ibu menyuruhnya membeli gula. Arif merasa keberatan, mengingat sebentar lagi ia berebut telur angsa dengan Andi. Tapi Ibu mendesaknya agar segera berangkat. Arif tak punya pilihan lain. Dia berharap angsa itu tak bertelur sebelum ia kembali.

“Jangan bertelur dulu! Jangan bertelur dulu!” gumam Arif berulang-ulang selama berjalan ke toko hingga memberikan gula kepada ibunya. Lalu bergegas kembali ke tempat angsa bertelur.

Setiba di sana, Arif melihat telur angsa sudah ada di tangan Andi. Lagi-lagi ia kecewa. Hati dan wajahnya muram seketika. Terlambat! Andai tak ada Andi. Andai Ibu tak menyuruhnya membeli gula. Ah, sudahlah!

Arif cemberut. Tiba-tiba Andi mendekat, lalu menyodorkan telur angsa yang dibawanya.

“Telur ini milikmu karena kamu yang pertama kali ada di sini,” kata Andi.

“Buatku? Bukannya kau tadi mengatakan ingin makan telur angsa dadar?” balas Arif.

“Sudalah. Untuk kamu saja. Aku bisa memakannya lain hari,” ucap Andi.

Arif sadar. Ia berpikir telah melakukan kesalahan lagi. Selain berbohong, ia juga tak bisa berlapang dada. Akhirnya Arif mengembalikan telur angsa kepada Andi.

“Kamu yang mendapatkan telur ini. Jadi, kamu yang lebih pantas memilikinya,” cetus Arif.

Lalu, Arif juga meminta maaf kepada Pak Rokan. Arif menyesal karena sudah berbohong.

Pak Rokan pun tertawa bangga melihat perubahan sikap Arif. Ia memutuskan untuk hari berikutnya, Arif yang berhak memiliki telur tersebut. Begitu pun hari-hari selanjutnya. Arif dan Andi saling bergilir mendapatkan telur angsa sampai masa bertelur angsa benar-benar habis.(49)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Anton Dwi Ratno

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu, 15 Juli 2018