Misteri Bayangan Hitam

Karya . Dikliping tanggal 18 September 2018 dalam kategori Cerita Anak, Lampung Post

Duaaarrr!

Suara petir mengejutkan Doni yang sedang mengerjakan soal-soal latihan. Sepertinya tak lama lagi hujan akan turun. Benar saja, tak lama kemudian hujan turun dengan derasnya. Diiringi kilat yang menyambar dan disusul suara gemuruh. Sudah beberapa malam ini, Doni belajar hingga larut malam. Ia tak ingin predikat juara kelas berpindah ke tangan orang lain.

Jarum pendek jam dinding kamar Doni tepat di angka sebelas. Pantas saja, matanya mulai terasa pedih. Hujan pun mulai reda. Ia bergegas merapikan meja belajar.

Ceplakk… ceplakk… ceplakk..

Samar-samar Doni mendengar suara seperti langkah kaki yang menginjak genangan air.

Ceplakk… ceplakk… ceplakk..

Suara itu kini terdengar lagi. Kali ini semakin terdengar jelas.

“Siapa malam-malam begini lewat di depan kamarku,” gumam Doni. Dengan memberanikan diri, ia perlahan menyibakkan tirai jen- delanya.

Whuaaa!” pekik Doni. Sontak ia melompat ke atas tempat tidurnya. Lalu meringkuk di bawah selimut. Dadanya berdegup kencang. Tangan dan kakinya gemetar. Ia melihat sosok bayangan hitam berrambut panjang melintas di halaman rumahnya menuju pendopo.

***

Malam ini udara terasa begitu dingin. Gerimis belum juga reda. Doni belajar seperti biasa. Hanya saja, malam ini ia tak ingin sampai larut malam seperti kemarin. Rupanya, ia masih terbayang-bayang sosok berambut panjang yang dilihatnya kemarin malam. Tepat pukul 10 malam Doni mulai beranjak tidur.

Ceplakk… Ceplakk… Ceplakk…

Doni mendengar suara seperti kemarin malam. Ia meringkuk di bawah selimut dan menutup telinganya rapat-rapat dengan bantal.

“Kenapa enggak bisa tidur ya,” keluh Doni. Ia ingin sekali segera tidur dan melupakan bayangan misterius itu. Namun, rasa takut dan penasaran terus saja mengganggunya. Doni memberanikan diri membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Lalu ia berjalan ke arah jendela.

Sret..!

Perlahan Doni menyibakkan tirai jendela. Tangannya masih gemetaran. Jantungnya berdegup kencang. Tapi, ia memberanikan diri untuk melihat siapa di balik sosok bayangan hitam itu.

Sret..!

Doni menyibakkan tirai jendelanya lebih lebar.

“Huuu… huuu… huuu….”

Doni dikejutkan oleh suara tangisan anak kecil. Seketika, ia menutup kembali tirai jendela rapat-rapat dan melompat ke atas tempat tidur lalu menutup tubuhnya dengan selimut. Ingin sekali ia berteriak memanggil ayahnya. Tapi, ia khawatir teriakannya akan terdengar oleh bayangan misterius itu.

***

Azan subuh menggema, membangunkan Doni dari tidurnya. Ia melompat ke arah jendela dan menyibakkan tirainya. Tidak ada siapa-siapa di pendopo.

Tok… tok… tok…!

Pintu kamar Doni diketuk.

“Doni… bangun, Nak! Kita salat subuh berjemaah.”

“Ayah!” Doni berlari membuka pintu kamarnya dan segera menceritakan semua yang dialaminya.

“Mungkin kamu cuma mimpi, Nak,” ayah mencoba menenangkan.

“Nggak mungkin. Ayo, kita periksa, Yah!” Doni menarik tangan ayahnya menuju halaman.

“Lihat! Ada jejak kaki mengarah ke pendopo, Yah,” Doni berpindah tempat, bersembunyi di balik tubuh ayahnya.

“Jangan takut, Nak. Bayangan hitam yang kamu lihat itu bukan hantu. Hantu tidak mungkin meninggalkan jejak kaki. Iya, kan?” ayah memberi pengertian. Doni mengangguk.

“Tapi, bagaimana kalau bayangan hitam itu muncul lagi, Yah?” Doni khawatir.

“Kita tangkap bayangan hitam itu,” ucap ayah penuh semangat.

“Ayo!” pekik Doni bersemangat.

***

Malamnya ayah dan Doni sudah menyusun rencana. Malam itu Doni tidak berkonsentrasi belajar. Ia bolak-balik melirik jam dinding. Ia ingin segera menangkap bayangan hitam itu.

“Jam sebelas!” seru Doni berlari keluar ka- mar memanggil ayahnya.

Ayah dan Doni menunggu di balik jendela kamar Doni. Setelah menunggu beberapa lama sosok misterius yang ditunggu tak juga muncul. Tak terasa hampir satu jam mereka menunggu. Doni mulai mengantuk.

Ceplakk… Ceplakk… Ceplakk…

Tiba-tiba terdengar suara seperti kemarin malam.

“Suara itu, Yah!” bisik Doni bersemangat. Seketika rasa kantuk Doni menghilang.

“Sst….” ayah memberi isyarat dengan menempelkan jari telunjuk ke bibir.

Mereka mengendap-endap ke luar rumah melalui pintu samping. Setelah ayah memberi aba-aba mama yang berada di dalam rumah segera menyalakan lampu pendopo.

“Aaakkhhh…!”

Sosok bayangan hitam itu terkejut. Lampu pendopo tiba-tiba menyala. Ayah dan Doni berdiri hanya beberapa langkah dari pendopo.

Misteri sosok bayangan hitam akhirnya terbongkar. Ternyata, ia adalah seorang pemulung, namanya Bu Yati. Bu Yati ingin sekali pulang ke kampung halaman, tapi ia sudah tidak memiliki uang untuk ongkos. Selama ini ia tidur di emperan toko di ujung jalan. Karena hampir tiap malam turun hujan, ia mencari tempat berteduh yang lebih baik. Leni, anaknya yang masih berumur empat tahun itu sudah tiga hari terserang demam.

“Ketika suasana malam telah sunyi, saya memasuki halaman rumah dengan hati-hati. Sayang, langkah kaki saya terdengar oleh Nak Doni yang sedang belajar,” ucap Bu Yati penuh sesal. Bu Yati lalu meminta maaf karena telah membuat Doni ketakutan selama beberapa hari. Ayah yang mendengar cerita Bu Yati justru merasa kasihan. Akhirnya ayah meminta Bu Yati untuk menginap saja malam itu karena cuaca sangat dingin.

Keesokan harinya, setelah membawa Leni ke dokter, ayah memberi uang untuk ongkos Bu Yati pulang ke kampung halamannya. Bu Yati sangat senang bertemu dengan keluarga Doni. Ia pun sangat berterima kasih atas bantuan yang sudah diperolehnya.

***

Malam selanjutnya Doni dapat belajar dengan tenang. Bayangan misterius tak lagi mengganggu pikirannya. Tepat jam sebelas malam, tiba-tiba…

Ceplakk… ceplakk… ceplakk..

“Hmmm… siapa itu?” Doni mulai merasa takut.

“Meooong… meooong…!”

Huuffhh….” Doni bernafas lega. **

 

[1] Disalin dari karya Anna Humaira

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Lampung Post” edisi Minggu, 16 September 2018

Sila Nilai-Bintang!