Muazin Cilik

Karya . Dikliping tanggal 22 Oktober 2018 dalam kategori Cerita Anak, Lampung Post

AKHIR-AKHIR ini, Firdaus punya kebiasaan baru. Bocah SD kelas lima itu sengaja menyalakan televisi saat azan magrib berkumandang, lalu mematikannya kembali.

“Firdaus, bukankah setiap magrib hingga jam belajar selesai, enggak boleh menonton televisi?” tegur Bunda.

“Maaf, Bunda. Firdaus hanya ingin mendengarkan lantunan azan, kok. Suaranya merdu sekali.” Anak lelaki putra semata wayang itu mengacungkan jempolnya. “Pasti orang itu ngajinya hebat, enggak kayak aku.”

Bunda tersenyum. “Firdaus juga bisa mengumandangkan azan semerdu suara di televisi.”

“Ah, yang benar, Bunda? Suaraku sumbang gini, kok.”

“Itu namanya kurang bersyukur atas karunia Allah.” Bunda menyentil ujung hidung Firdaus.” Semua orang berangkat dari nol, dari tidak bisa menjadi mahir. Seperti bayi yang baru lahir, masa ia langsung pandai berlari?”

Firdaus terkekeh. “Iya juga ya, Bunda.”

“Untuk menguasai suatu bidang, harus tekun berlatih dan belajar. Ketekunan dalam mengerjakan sesuatu akan memberikan hasil yang maksimal. Ingat enggak dulu, seberapa gigih Firdaus belajar bersepeda?”

Firdaus tersenyum lebar. Ingatannya melayang ke beberapa bulan silam. Meskipun berkali-kali jatuh, ia terus belajar bersepeda tanpa kenal putus asa. Sekarang, Firdaus tak perlu capek jalan kaki ke sekolah.

“Iya, Bunda. Seperti pesan Ayah dulu saat melatih Firdaus, berakit-rakit dahulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Mulai sekarang, Firdaus akan serius dan tekun mengaji biar mahir mengumandangkan azan.”

“Bagus. Pelajari baik-baik makhraj, tajwid, serta panjang pendeknya huruf. Oh iya satu lagi, jangan tergesa-gesa dalam melantunkan azan. Beri jeda dari satu kalimat ke kalimat berikutnya, agar siapa pun yang mendengar azan bisa berdoa.”

Firdaus manggut-manggut.

***

Sore ini terasa sepi. Firdaus melihat jam dinding. Sudah waktunya salat Asar, tetapi belum terdengar azan seperti bi- asanya. Ia pun bergegas menuju musala yang berada di ujung gang.

“Kok belum azan, Pak?” tanya Firdaus ke Pak Karim, marbut musala.

Pak Karim terbatuk-batuk dan menggeleng lemah. Marbut musala tersebut menunjuk ke tenggorokannya, lalu memberi isyarat ke Firdaus untuk mengumandangkan azan.

“Bismillah.” Firdaus memegang mikrofon. “Allahu akbar, Allahu akbar. Allahu akbar, Allahu akbar. Asyhadu an laa ilaa- ha illallaah. Asyhadu an laa ilaaha illallaah. Asyhadu anna Muhammadar rasulullah. Asyhadu anna Muhammadar rasulullah. Hayya ‘alash shalaah. Hayya ‘alash shalaah. Hayya ‘ a l a l fa- laah. Hayya ‘alal falaah. Allahu akbar, Allahu akbar. Laa ilaaha illallaah.

Beberapa saat kemudian, Ustaz Imron dan jemaah lainnya berdatangan.

“Siapa yang azan tadi?” tanya Ustaz Imron.

“Saya, Ustaz,” jawab Firdaus malu-malu.

“Bagus. Sudah dua hari ini Pak Karim nggak bisa azan karena sakit. Mulai nanti dan seterusnya, Firdaus azan di sini, ya?”

Firdaus mengangguk. Iqamat pun dimulai. Semua yang hadir segera meluruskan dan merapatkan saf untuk menunaikan salat berjemaah.

***

Tak terasa, sebulan berlalu. Bergantian dengan Pak Karim, Firdaus pun terbiasa azan di musala, baik waktu isya, subuh, zuhur, asar, ataupun magrib.

Salat isya berjemaah sudah selesai. Setelah memimpin doa sesudah zikir, Ustaz Imron mendekati Firdaus.

Muazin Cilik

“Siap- kan diri, ya. Minggu depan kamu ikut lomba azan di Masjid Jami’ dalam rangka mem peringati Tahun Baru Hijriah. Sebenarnya lomba diadakan bulan Muharram kemarin, tetapi karena ada sesuatu hal, akhirnya ditunda minggu depan.”

“Haa … lomba azan, Ustaz?” Firdaus melongo. “Ta-tapi kan, saya … saya takut, Ustaz.”

“Loh, takut kenapa?” Ustaz Imron mengerutkan keningnya.

“Yang ikut lomba pasti pintar-pintar, Ustaz. Banyak yang dari pondok pesantren. Saya enggak ada apa-apanya dibandingkan mereka.”

“Belum berjuang kok sudah menyerah.” Ustaz Imron tertawa sambil me- nepuk pundak Firdaus. “Untuk melakukan sesuatu, harus punya keberanian dan percaya diri. Saya amati selama ini, bacaanmu sudah bagus, makhrajnya tepat, suara pun merdu. Tinggal memperbanyak latihan saja.”

Firdaus manggut-manggut.

“Gimana, Firdaus sang muazin cilik siap maju buat lomba, kan?”

Firdaus mengangguk tegas. Rasa percaya dirinya mulai tumbuh. Diam-diam bocah kelas lima itu bersyukur dalam hati karena berkat ketekunannya melantunkan azan dan dukungan penuh dari bunda, ia mendapat kepercayaan dari Ustaz Imron untuk mengikuti lomba, bahkan mendapat julukan Sang Muazin Cilik.

Gresik, 8 Oktober 2018


[1] Disalin dari karya Elisa DS
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Lampung Post” edisi Minggu, 21 Oktober 2018