Pak Seger dan Pak Waras

Karya . Dikliping tanggal 20 Agustus 2018 dalam kategori Cerita Anak, Suara Merdeka

Pak Seger dan Pak Waras bersahabat sejak kecil. Sudah seminggu ini mereka kehilangan pekerjaan, karena pabrik tempatnya bekerja gulung tikar. Mereka bingung. Khawatir akan nasib keluarga mereka masing-masing. Sebagai kepala rumah tangga dan tulang punggung keluarga, Pak Seger dan Pak Waras tentu bingung. Mereka pun berusaha mencari cara untuk mendapatkan pekerjaan.

”Seminggu sudah kita menganggur, Seger. Aku tak yakin uang pesangon kita mampu menyangga kebutuhan selama tiga bulan,” kata Pak Waras suatu pagi.

Saat itu Pak Seger dan Pak Waras sedang duduk bersama di teras rumah Pak Waras. Sepanjang pagi mereka hanya duduk-duduk sambil menikmati kopi dan berkeluh kesah.

”Kalau begitu, kita harus cepat-cepat mendapatkan pekerjaan, Waras. Tapi, pekerjaan apa ya yang cocok buat kita?” ucap Pak Seger.

Lalu mengambil gelas kopinya dan menyeruput pelan-pelan.

Pak Waras berpikir. Dirinya ataupun Pak Seger memang tak punya banyak keahlian. Ditambah lulusan sekolah mereka sebatas SD. Namun, Pak Waras tak hilang akal. Dicarinya usaha dagang yang menurutnya bisa dikerjakan.

Mata Pak Waras memandang jalanan di depan rumah. Ia berpikir lebih keras. Kepalanya manggut-manggut, lalu menggeleng. Seolah ia tahu akan sesuatu, tapi ia tepis sendiri karena tak cocok. Sesaat kemudian, Pak Waras tahu akan sesuatu. Wajahnya tiba-tiba berubah ceria.

”Aku tahu apa yang harus kita kerjakan, Seger,” Kata Pak Waras dengan gembira.

”Oya? Pekerjaan apa itu, Waras?” tanya Pak Seger penasaran.

Pak Waras mengajak Pak Seger berjualan bakso. Pak Waras ingat, bahwa mereka pernah menjadi juara lomba tujuh belasan di kampung. Saat itu Pak Waras menjadi juara dua. Sementara Pak Seger juara pertama.

Namun Pak Seger tak setuju. Ia tak mau menggunakan sisa uang pesangonnya untuk modal jualan bakso. Ya, kalau baksonya laku. Kalau tidak? Tentu, Pak Seger tak ingin mengambil risiko rugi. Tapi Pak Waras berpendapat lain. Pak Waras yakin jika berjualan bakso adalah jalan keluar terbaik untuk mendapatkan pekerjaan daripada menganggur.

Pak Waras tak memaksa. Bila Pak Seger tak mau berjualan bakso, ya sudah. Yang pasti, Pak Waras akan menguras seluruh uang pesangonnya untuk modal berjualan bakso. Sementara Pak Seger memilih tetap menganggur dengan sisa uang pesangon miliknya.

***

Esok harinya, Pak Waras membeli gerobak. Hari berikutnya, membeli bahan dan siap memasak bakso. Istri beserta kedua anaknya turut membantu. Pada sore hari, bakso sudah matang dan siap dijual.

Tik, tok, tik, tok… bunyi ruas bambu yang dipukul Pak Waras. Begitulah Pak Waras memanggil pembeli sambil berkeliling kampung. Tak lama kemudian, terdengar suara memanggil, ”Bakso!”

Pak Waras berhenti. Seorang ibu-ibu keluar rumah dan datang menghampiri.

”Lho, Pak Waras. Sekarang ganti berjualan bakso, ya?” tanya Ibu itu yang terkejut karena yang ia tahu Pak Waras bekerja di pabrik. Pak Waras menjelaskan kisahnya. Lalu melayani dengan ramah.

Seorang pemuda datang menghampiri. Ia juga sudah mengenal Pak Waras dan ingin mencoba bakso buatan Pak Waras.

”Wah, enak sekali baksonya, Pak Waras,” ucap pria itu sembari mengecap bulatan daging.

Pak Waras senang mendengarnya. Sekali lagi, Pak Waras yakin baksonya bakal disukai banyak orang.

Jam delapan malam, bakso Pak Waras sudah habis terjual. Pak Waras sangat gembira. Ia tak menduga kalau dagangannya habis lebih cepat dari waktu yang telah diperkirakan. Pak Waras bergegas pulang dan menghitung utung.

Hari demi hari berlalu. Bakso Pak Waras selalu habis terjual, sehingga Pak Waras memiliki banyak uang. Pak Waras kini bernafas lega, karena bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. Sementara Pak Seger masih pengangguran dengan sisa uang pesangon yang kian menipis.

***

Suatu siang, Pak Seger berkunjung ke rumah Pak Waras. Saat itulah Pak Seger menyampaikan niatnya tertarik berjualan bakso. Tapi tidak dengan modal sendiri. Dia ingin menjualkan bakso orang lain.

”Menurutku, alangkah baiknya bila kita berdagang pakai modal sendiri, Seger. Jadi, kita tak terbebani. Untungnya pun utuh tanpa dibagi,” komentar Pak Waras.

Lagi-lagi Pak Seger tak mau memanfaatkan sisa uangnya. Dan, sekali lagi Pak Waras tak memaksa. Karena, Pak Waras merasa tak punya hak untuk mencegah niat Pak Seger.

Keesokan harinya, Pak Seger berjualan bakso. Karena di kampungnya sudah ada Pak Waras yang berjualan, maka Pak Seger berkeliling di kampung sebelah. Berjam-jam Pak Seger keliling mencari pembeli, namun baksonya tak kunjung laku.

Pak Seger mulai jengkel dan mendorong gerobaknya dengan cepat. Akibatnya, ia tak melihat ada polisi tidur. Pak Seger menerjangnya begitu saja. Grobyak! Gerobak bakso terguling seketika. Seisinya pun berserakan.

”Astaga! Apa yang terjadi? Aku rugi besar. OhÖ,” keluh Pak Seger sambil duduk terkulai di jalan berpaving.

Akibat kejadian itu, Pak Seger menguras habis sisa uangnya untuk mengganti dagangan dan biaya perbaikan gerobak kepada sang pengusaha bakso. Pak Seger sangat menyesal karena tak mendengarkan saran Pak Waras. Andai sejak awal ia mengikuti saran Pak Waras, mungkin peristiwa itu tak akan terjadi. (49)

 

 

[1] Disalin dari karya Anton Dwi Ratno

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu, 19 Agustus 2018