Pena Cantik Ibel

Karya . Dikliping tanggal 6 Agustus 2018 dalam kategori Cerita Anak, Suara Merdeka

Ibel punya pena baru. Pena itu hadiah dari ayahnya, karena Ibel meraih peringkat I di kelas lima. Pena itu sangat bagus, berwarna jingga dan di sebagian permukaannya terdapat gambar binatang-binatang lucu, seperti kupu-kupu, kucing, bebek, dan kera. Selain itu, pena Ibel juga lancar apabila digunakan saat menulis, sehingga hasil tulisan Ibel semakin rapi dan bagus.

Saat pertama kali dibawa ke sekolah, temanteman Ibel banyak yang memuji pena tersebut. Ibel berterima kasih dan dia berjanji kepada teman-temannya bahwa dia siap meminjamkan pena itu untuk teman-temannya apabila dibutuhkan. Tema-teman Ibel banyak yang tertarik untuk meminjam pena itu.

”Pena ini pemberian ayah untuk aku. Tapi pena ini milik kita semua. Kalian boleh meminjam pena ini asalkan digunakan secara baik,” ucap Ibel suatu hari kepada temantemannya.

”Aku ingin pinjam, Bel!” kata Mirna teman Ibel.

”Iya, boleh,” jawab Ibel sambil tersenyum.

”Aku juga, Bel!” teman-temannya yang lain ikut bicara sambil mengacung tangan. Ibel tersenyum dan menganggukkan kepala.

”Pokoknya semua boleh pinjam, asal giliran secara tertib dan digunakan untuk menulis sesuatu yang bermanfaat, dan tidak dibawa ke rumah, cukup di sini saja,” Jelas Ibel masih tersenyum.

”Iya!” jawab teman Ibel serentak.

Akhirnya pena bagus itu setiap hari dipinjam oleh teman-teman Ibel secara bergiliran. Ibel senang karena bisa berbagi kebahagiaan dengan teman-temannya. Setelah hampir sebulan pena itu dipinjam secara bergiliran, tiba-tiba pena itu rusak saat dipinjam oleh Ratna. Wajah Ratna pucat, bibirnya terkatup diam. Ia merasa tidak enak kepada Ibel, karena pena Ibel rusak di bagian bungkusnya. Tapi Ibel baik hati, dia menenangkan Ratna agar tidak risau karena pena yang rusak.

”Tenang, Ratna. Kamu tidak usah takut. Biar pena itu akan kuperbaiki, besok sudah bisa dipakai lagi,” kata Ibel kepada Ratna, disaksikan teman-teman lainnya. Ratna mulai tenang, wajahnya kembali cerah. Dia pun mulai bisa tersenyum. Lalu dia berterima kasih kepada Ibel.

”Terima kasih ya, Bel!”

”Iya. Sama-sama.”

***

Setelah sampai di rumahnya, Ibel mulai mencari cara untuk memperbaiki pena itu. Dia meminjam sebuah majalah milik ayahnya dan membaca tentang kerajinan tangan. Di majalah itu Ibel membaca karya kreatif membuat bungkus pena dari sedotan bekas. Ibel membacanya dengan teliti sambil mencatat bahan-bahan yang dibutuhkan, seperti sedotan, lem, gunting, empat gulung benang beda warna, dan peniti. Berkat membaca majalah itu, akhirnya Ibel menemukan cara untuk membuat bungkus pena yang cantik.

Sore hari ia pergi ke warung Bi Nur untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan. Sepulang dari warung dia langsung membuat pena dari sedotan itu di beranda rumahnya. Wadah penanya yang rusak diganti dengan sedotan bekas yang dihiasi rajutan benang warnawarni. Ibel membuat benda itu sambil melihat majalah ayahnya yang ia jadikan panduan.

Hasilnya, pena Ibel menjadi indah dan kuat sebagaimana yang dicontohkan di majalah itu. ibel sangat bahagia karena bisa berkarya dan memperbaiki penanya yang rusak. Ayah dan ibunya pun tahu kalau pena itu rusak dan sudah diganti. Mereka juga bahagia karena pena Ibel semakin cantik dan bagus.

Keesokan harinya, Ibel kembali membawa pena itu ke sekolah. Teman-temannya memuji Ibel karena keatif, bisa mengganti bungkus penanya yang rusak dengan bahan-bahan sederhana tapi menghasilkan karya yang indah.

Ibel dan teman-temannya bahagia. Ibel meminjamkan lagi pena itu kepada teman-temannya secara bergiliran. Kemudian pada suatu hari, pena itu diketahui oleh Pak Dirman, guru Kerajinan Tangan. Pak Dirman pun meminta Ibel agar bersedia mengajarkan kerajinan itu kepada teman-temannya. Ibel mengangguk dan bersedia dengan senag hati. Pak Dirman pun bahagia dan ia bangga punya anak didik kreatif seperti Ibel.(49)

 

[1] Disalin dari karya A Waritz Rovi

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu, 5 Agustus 2018