Pertunjukan Wayang

Karya . Dikliping tanggal 3 Oktober 2018 dalam kategori Cerita Anak, Lampung Post

Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Dimas dan keluarga nya sampai di rumah kakek, di daerah Brebes. Kakek dan nenek menyambut kedatangan mereka dengan gembira karena sudah hampir satu tahun mereka tidak berjumpa.

Ayah, ibu, dan Dimas duduk di ruang tamu untuk melepas lelah. Mereka pun berbincang- bincang dengan kakek dan nenek sambil melepas rasa rindu.

“Kebetulan kalian datang. Rencananya malam ini kakek dan nenek akan melihat pertunjukan wayang di balai desa. Kalian mau ikut tidak?” ajak Kakek.

“Pertunjukan wayang dalam rangka apa, Kek?,” tanya Dimas.

“Dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam. Tradisi tahunan di kampung sini memang begitu,” jelas Kakek.

“Selain pertunjukan wayang, biasanya ada pasar malam juga loh,” lanjut Nenek.

“Wah, asyik dong, Dimas mau ikut ah. Boleh ya, Yah,” pinta Dimas sambil menoleh ke arah ayahnya.

“Boleh dong. Ayah juga kangen, sudah lama ayah tidak melihat pertunjukan wayang lagi.”

“Horeee, makasih, Yah,” ucap Dimas dengan senang.

***

Malam harinya mereka berjalan bersama menuju balai desa. Kebetulan jarak balai desa dan rumah kakek tidak terlalu jauh. Mereka berjalan kaki sambil melihat-lihat aneka barang yang dijual di pasar malam.

“Kek, kok di sini ada yang jualan kerak telor? Bukannya kerak telor itu makanan khas Jakarta?” tanya Dimas.

“Bukan cuma kerak telor. Nah coba lihat, ada pempek dari Palembang, cireng isi dan seblak dari Bandung, dan banyak lagi yang lain. Banyak orang yang ingin memperkenalkan makanan khas daerahnya di kota atau negara lain. Dengan cara seperti itu, daerah mereka bisa dikenal banyak orang,” ucap Kakek sambil menunjuk beberapa pedagang makanan kepada Dimas.

“Kalau makanan khas Brebes, Dimas tahu tidak?” tanya Kakek kemudian.

“Tahu dong. Dimas kan sudah sering ke sini. Makanan khas Brebes itu kupat glabed dan satai blengong. Yang lebih terkenal lagi, ada telur asin dan bawang merah khas Brebes,” jawab Dimas.

“Wah, betul sekali. Nanti, kita nonton wayangnya sambil makan kupat dan satai blengong ya. Itu sepertinya ada yang jualan di depan sana. Nanti sekalian juga cicipin telur asin khas Brebesnya,” ajak Kakek.

Asyiiik, iya Kek,” ucap Dimas antusias.

Setelah lama berjalan, sampailah mereka di depan balai desa. Mereka melihat pertunjukan wayang sambil menikmati kupat glabed, satai blengong, dan telur asin. Tidak lupa pula bawang goreng sebagai pelengkapnya.

“Kakek, Dimas pernah lihat pertunjuk- an wayang di televisi, tapi kok bentuknya beda sama wayang itu ya. Wayang yang Dimas lihat itu bentuknya mirip kaya boneka,” ucap Dimas.

“ Oh, itu namanya wayang golek. Kan memang jenis wayang itu banyak. Ada wayang golek, wayang orang, dan wayang kulit seperti yang sedang Dimas lihat sekarang.”

“Wah, ternyata bukan cuma makanan khas saja ya yang beraneka ragam. Wayang juga banyak jenisnya.”

“Nah, itulah Indonesia. Negara kita itu kaya dengan keberagaman. Tapi, walaupun demikian kita juga harus tetap menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan.”

“Wah, Dimas bangga menjadi orang Indonesia, Kek.”

Malam itu Dimas dan keluarganya merasa senang bisa menikmati pertunjukan wayang bersama. Pertunjukan wayang diakhiri dengan percikan kembang api yang menghiasi langit malam. ***

 

[1] Disalin dari karya Umu Fatimiah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Lampung Post” edisi Minggu, 30 September 2018